Suamiku

Suamiku
part 36


__ADS_3

Kuletakkan kembali HPnya diatas nakas. Kupandangi Mas Jaya yang sedang tidur. Aku ingat perkataan Wulan seperti apa abangnya.


Aku harus siap dengan semua ini, karena sebelumnya Wulan sudah memberitahuku.


Itu hanya masa lalu Zahra dan masa depannya ada bersamamu.


Lama aku bermain dengan perasaanku sendiri. Aku tersadar dari lamunanku karena mendengar suara Mas Jaya yang sedikit meringis menahan rasa sakit.


" Kenapa kau duduk disitu, duduklah disebelahku" Ajak Mas Jaya sambil memegang tanganku.


" Aku ngeri lihat kakimu, udah bengkak begitu, sakit banget pastikan." Aku berdiri lalu mencium keningnya.


"Sayang.. terimakasih ya." Dipegangnya daguku, diarahkannya bibirnya mengecup lembut bibirku.


"Sayang, bolehkah aku bicara sesuatu?" Tanyaku pada Mas Jaya, dan duduk di sisi ranjang bersebelahan dengannya.


Dia hanya menganggukan kepala. Sebelum aku memulai pembicaraanku, kupandangi wajahnya, kutelusuri setiap inci wajah itu dengan jari telunjukku, perlahan jariku berpindah keleher dan menuju dadanya. Kubuka beberapa kancing kemeja yang dia pakai, kubuat jariku bermain didada bidangnya.


" Zahraaaa" Dipanggilnya namaku dengan suaraku dengan lembut dan sedikit mengeram. Kuletakkan wajahku dipipinya.


"Huummmm" Lalu mengecup pipinya.


"Sayang... Apakah benar kau mencintaiku?" Tanyaku sedikit berbisik ditelinganya.


"Ya, sangat mencintaimu" Ucapnya dengan suara sedikit berbisik. Mendapat jawaban darinya kukecup lagi bibirnya, jariku masih kubiarkan menelusuri dadanya.


"Sayang... hal apa yang nggak kau suka dariku?"


" Nggak ada sayang, semua darimu aku suka."


"Hehum" Dia hanya menganggukkan pelan kepalanya.


" Sayang.. Sebelum denganku,  apakah kau pernah dengan yang lain?" tanyaku masih berbisik ditelinganya.


"Pernah, tapi hanya dengan satu wanita, aku berniat menikahinya, tapi Mama menolaknya. Mama bilang aku boleh menikah dengan siapapun yang aku mau, tapi tidak untuk jadi menantunya." Ucapnya dengan sangat pelan.


"sayang... Apakah aku mengenalnya?" Kutenggelamkan wajahku dilehernya, sambil tetap memberinya kecupan.


"Ya, sebelum kita kesini, kau bertemu dengannya, Ratna sengaja membawanya ke rumah untuk dia berhenti mengharapkanku."

__ADS_1


Mas Jaya sepertinya benar-benar terbuai dengan apa yang kulakukan.


"Zahraaaa... Kau tau, kalau kau sudah membangunkannya" Suaranya sudah benar-benar berada dikerongkongan..


"Aku tau, tapi aku masih ingin berlama-lama seperti ini. Sayang... setelah denganku apa kau akan melakukan dengan wanita lain?"


" Aku sudah nggak bisa memikirkan orang lain, kau selalu punya cara tersendiri untuk menyenangkanku, kau selalu membuatku nggak bisa menjauh darimu Zahraaa."


"Terimakasih Masss.. terima kasih atas kejujuranmu. Sayangggg.. Boleh aku minta sesuatu denganmu?"


"Iya"


"Aku sangat menikmati tinggal disini, apalagi pada saat melihatmu bekerja di kebun, dengan kemeja panjang yang digulung sedikit dan membiarkan dua atau tiga buah kancing kemejamu terbuka, melihat dadamu yang ditutupi singlet, dengan topi lebarmu, kau benar-benar terlihat sexy dan menggairahkan. Apalagi pada saat keringatmu mengalir dikulitmu yang eksotis. Kau mau kita tinggal disini, membiarkanku selalu dekat denganmu."


Dibalasnya dengan anggukan, kembali kuciumin wajahnya.


"Oke sayang, udah siang, aku laper." Kuhentikan semua aksiku padanya, dan turun dari tempat tidur.


"Zahraaaaa!!!! Kauuu!!!" Dia berteriak karena aku menghentikan secara mendadak perbuatanku.


" Pikirkan kakimu sayang, kau masih sakit. Aku janji setelah kau sembuh, aku tuntaskan hutang hari ini."


Kulangkahkan kakiku menuju dapur. Kau kira aku nggak tergoda dengan ulahku sendiri Mas. Benar katamu, kita harus hidup dimasa depan Mas, bukan dimasa lalu, aku akan memaafkanmu, lagi pula kejadian itu jauh belum kita menikah.


Setelah makan malam, kulihat Wulan sedikit gelisah.


"Ada apa kamu mondar mandir seperti setrikaan?" Kutanya Wulan yang sedikit gugup.


" Kak, bisa bantu Ulan bicara sama Abang?" Digenggamnya kedua tanganku.


" Boy mau kesini, Ulan udah lama pacaran dengannya secara sembunyi-sembunyi. Dia nggak bisa nunggu lama lagi, dia mau ketemu Abang."


Nggak lama terdengar pintu depan diketuk.


"Kamu temui dia, Kakak panggil Abangmu." Akupun melangkah ke dalam kamar, Mas Jaya masih sedikit kesal denganku.


" Sayang, udah marahnya. Nanti aku kasih yang kamu mau." Kukecup keningnya.


"Ayo keluar sebentar, ada yang mau ketemu sama kamu."

__ADS_1


Kubantu dia berdiri, dan mengikuti langkahnya yang masih tertatih menahan rasa sakit. Dilihatnya Wulan yang sedang duduk dengan seorang pemuda.


Melihat Mas Jaya datang merekapun berdiri. Wulan memperkenalkan pacarnya dengan Mas Jaya. Mulai Mas Jaya melakukan introgasi kepada keduanya. Wajah dinginnya mulai menghiasi raut mukanya, tatapannya kepada Boy membuat pria itu hanya menundukkan kepala, begitu juga Wulan.


" Besok jam lima sore, Kau bawa kedua orangtuamu kemari, sebelum aku menyerahkan Adikku, aku harus tau bebet, bobot dan bibit keluargamu. Satu hal yang harus kau tau, seujung rambutnya jatuh karena aksi kekerasan darimu, kupastikan satu ruas jarimu akan hilang."


Lalu dia memandangku, dengan tatapan yang sama dinginnya. dan pergi meninggalkan kami bertiga dengan rasa hati yang mulai nggak karuan.


"Mas, kamu nggak seharusnya bicara seperti itu dengan Boy." Ucapku membuka pembicaraan di dapur, karena setelah menemui Wulan tadi, dia langsung ke arah dapur.


" Dia Adikku Zahra, nggak kau lihat pacarnya tadi, laki-laki seperti apa itu, memandangku saja dia tidak bisa, bagaimana dia bisa melindungi Adikku." Ucapnya sambil memakan buah yang sedang dipotongi oleh Mama.


" Kau boleh tanya sama Bapak bagaimana aku memintamu menjadi istriku, kedua orang tuamu saja tidak bisa bicara sampai aku pulang."


Mama hanya tersenyum melihat ucapannya.


" Kalau anakku perempuan, dan pria seperti Boy yang melamarnya aku tendang dia. Bila perlu aku patahkan kakinya." Ucapnya lagi dengan santai.


" Sekalian saja kau larang dia menikah. Biar dia hidup terus dibawah ketiakmu!" Balasku dengan sedikit ketus.


"Ya, kalau itu maumu kenapa tidak." Lalu dia tersenyum kearah Mamanya.


" Oke, hari ini aku ingin tidur dengan Wulan. Aku ingin nonton drakor dengannya sebelum dia menikah. Kau nggak tau betapa ganteng-gantengnya mereka Mas."


" Kenapa kalian para wanita senang sekali dengan pria-pria cantik itu.!"


"Karena mereka punya daya tarik tersendiri kegantengan yang hakiki" Tiba-tiba Wulam datang menimpali ucapan Abangnya dan melingkarkan tangannya dileherku.


"Kakak senang nonton drakor juga? Tapi aku nggak pernah lihat Kakak nonton."


" Abangmu akan marah kalau Kakak mengagumi lelaki lain."


"Betah sekali hidup dengan pria arogan dan posesif seperti itu?"


"Kalau kalian menggosipin orang lain tunggulah orangnya tidak ada, kalau sekarang aku mendengarnya." Melemparkan potongan kecil buah kearah Wulan, namun karena Wulan mengelak, lemparannya tepat mengenai wajahku.


" Kau maen fisik Mas!" Hardikku padanya.


"Sayang, aku nggak sengaja, Maaf." Dipandanginya Mama dan Wulan secara bergantian.

__ADS_1


Mama dan Wulan pergi meninggalkan dapur sambil tersenyum dan serempak mengatakan " Mama_Wulan nggak liat, dan nggak ikut campur"


"Beruntung kau lagi sakit kalau nggak, habis kau!" Kutinggalkan dia sendiri.


__ADS_2