
Selesai Shalat Isya dengan alasan lapar aku keluar kamar. Begitu melewati ruang keluarga dan ruang makan aku nggak menemukan siapa-siapa, sampai ke dapurpun aku nggak menemukan satu manusia.
Aku coba mengetuk pintu kamar Wulan dan Mama tapi nggak ada jawaban. Aku kembali lagi ke kamar.
" Di luar nggak ada orang Mas, pada kemana ya." Kudekati Mas Jaya yang lagi rebahan di tempat tidur.
" Kamu mikirin orang, pikirin aku aja." Ditariknya aku yang berdiri ditepi tempat tidur, dan memelukku.
"Kalau nggak memelukku apa kamu nggak bisa hah!" Kugigit pelan ujung hidungnya.
"Kamu itu ibarat obat bius,udah candu aku, jadi kalau nggak kudapatkan bisa sakau aku" Dibenamkannya wajahnya dileherku.
"Kalau gitu, antar aja aku ke farmasi, sapa tau bagian dari diriku bisa jadi obat penenang."
Mendengar ucapanku, semakin dibenamkannya wajahnya dileherku.
" Mas.. Udah, jangan tinggalkan jejak disitu, aku nggak enak sama Mama"
Semakin aku menolaknya semakin kuat dia menahanku tubuhku, dan membenamkan wajahnya dileherku sampai aku udah nggak ada tenaga menahannya.
Nggak berapa lama dijauhkan wajahnya dari leherku. Kulihat dia tersenyum puas.
" Udah ada, sekali-sekali aku yang menggodamu." Lalu dia turun dari tempat tidur.
" Dasar nggak tau malu." Ucapku sedikit kesal.
" Iya aku memang nggak tau malu sama kamu." Dilucuti semua pakaian yang ada dibadannya, hanya tinggal segitiga pengaman saja yang tersisa sambil terus meledekku.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar pintu kamar diketuk.
" Sayang, Mama boleh masuk?" Terdengar suara Mama memanggil.
Aku dan Mas Jaya saling pandang. Segera aku merapikan diriku, untuk duduk dipinggir tempat tidur, dan memperbaiki ikatan rambutku.
"Habis kau sayang." Gantian aku yang tersenyum puas.
" Masuk Ma." Jawabku segera, sambil tertawa.
Mas Jaya yang mendengar aku mempersilahkan Mama masuk, mulai panik.
"Jangaaannnn!!!!"
"Jangan dulu Ma!" Dia langsung berlari kearah pintu yang sudah mulai sedikit terbuka.
"Sayang, ambilkan bajuku" Ucapnya memohon.
Dikeluarkannya sedikit kepalanya, untuk menahan Mamanya masuk.
"Mama, nggak boleh masuk?" Tanya Ibu Mertuaku.
"Boleh Ma, tapi tunggu dulu"
" Sayang, cepatlah bajuku!"
Aku yang udah berdiri dari tempat tidur, segera mengambil baju dan celana Mas Jaya, tapi bukan memberikan padanya, malah Kusingkirkan lebih jauh pakaiannya.
Melihatku membuang pakaiannya, dia lagi-lagi berusaha menutup pintu sambil meminta maaf pada Mamanya.
"Mama jangan masuk dulu ya" Lalu dia mengunci pintu.
Aku berjalan menuju pintu, masih tetap mentertawakannya, dan mencoba membuka pintu yang dikuncinya.
"Tunggu pembalasanku!" Ucapnya, disaat aku berselisih jalan dengannya. Diapun Lari dan menyambar pakaian yang tergeletak di lantai.
"Kamu kenapa senyum-senyum, Mama boleh masuk?"
Aku hanya membalasa dengan anggukan.
"Kenapa dia tadi?"
"Nggak apa-apa ma" jawabku masih dengan berusaha menahan tawa.
"Kamu udah makan Nak?" Tanyanya disaat dia udah di dalam.
__ADS_1
Aku nggak menjawab pertanyaan beliau karena melihat Mas Jaya keluar dari kamar mandi dengan raut muka yang masih sedikit tegang.
" Kamu sakit Ru? Wajahmu merah, nafas kamu juga ngos-ngosan gitu?"
" Enggak Ma, Heru sehat."Jawabnya singkat.
Aku yang berdiri dibelakang Mamanya masih berusaha menahan tawa.
"Mama dari mana?" Tanya Mas Jaya untuk mengalihkan pembicaraan.
" Mama sama Ulan dan Bibi tadi habis dari tetangga, ada keperluan."
Nggak lama kudengar Wulan juga mengetuk kamarku, dan minta izin untuk masuk.
" Kenapa pada kesini semua?" Tanya Mas Jaya sambil mengkerutkan keningnya
" Mama sama Ulan mau minta maaf sama Kakak, atas kejadian tadi siang, Mama memang sengaja manggil Kak Ayu datang hari ini, tapi kejadiannya seperti ini. Udah satu bulan kalian disini, Mama berharap kita bisa sehangat dulu lagi, tapi nyatanya nggak." Ucap Ulan.
Mas Jaya langsung memeluk Adiknya, dan Wulanpun melingkarkan tangannya dipinggang Abangnya.
" Ternyata kamu manja juga ya." Ucapku pada Wulan.
" Kakak cemburu, Ulan seperti ini sama Abang." Semakin dieratkan pelukan keAbangnya.
" Enggak, karena Kakak punya Mama yang sayang sama Kakak. Ambillah Abangmu yang nggak tau malu itu." Lalu kupeluk Mertuaku, dan menyembunyikan mukaku dibahu beliau.
Mama kesini mau ngucapin selamat ulang tahun buat kamu, Mama tau menantu Mama lagi ulang tahun."
Aku sama Mas Jaya saling pandang.
" Kamu ulang tahun sayang?"
" Mama tau dari Mana? Tanyaku pada beliau.
" Abang ternyata nggak cinta sama Kakak Ipar, ulang tahunnya aja nggak tau."
" Bukan nggak cinta, otakku dipinjam Petrix makanya nggak konek."
" Kita makan disini aja ya. Biar Wulan bawakan makanan disini." Ucap Wulan.
" Kita makan diluar aja, kita makan sama-sama, Mama udah undang Kakak kesini, nggak mungkin dia kita abaikan." Ucapku.
" Mama nggak mau ribut Kak Zahra."
"Ayo, nanti kalau ribut, dimasukin sambel satu-satu mulutnya." Ucapku sedikit bercanda, dan mengajak semua keluar dari kamar.
" Mama nggak bisa kasih kado apa-apa, kalau nggak Wulan yang kasih tau, Mama nggak tau sama sekali." Ucapnya setelah duduk didekat meja makan.
" Diulang tahun Za kali ini, kadonya sangat spesial. Mama dan Mas adalah kado terindah dari Allah yang pernah Za miliki." Kukecup kening Mama, dan kening Mas Jaya bergantian.
" Ulan nggak?" tanya Ulan.
" Kamu nggak spesial, tapi teristimewa."
Setelah semua berkumpul dimeja makan, aku merasakan acara makan malam kali ini lebih serem dari pada melewati kuburan angker, karena hening, yang terdengar hanya dentingan sendok yang sedikit beradu dengan piring. Terlebih wajah Kakak Iparku.
Selesai makan, Mama, Wulan dan Kak Ayu memilih masuk ke dalam kamar masing-masing, Mas Jaya minta izin untuk keluar sebentar. Sementara aku lebih memelih duduk di dapur, menikmati Cake coklat yang dipesan oleh Mertuaku dari tetangganya.
Kulihat Kakak Iparku datang menghampiri, dan memilih duduk didepanku.
" Aku mau bicara Zahra." Ucapnya dengan tatapan mata yang sinis dan sangat dingin.
" Oh, ya silahkan." Sedikitku sunggingkan senyum padanya.
" Aku nggak butuh senyummu."
Aku hanya mengangkat kedua bahuku, dan tetap memakan cake yang ada didepanku, dan siap mendengar ucapannya.
" Jangan pernah berharap kamu akan masuk dalam keluarga ini Zahra, kau hanya anak kemarin sore yang nggak tau apa-apa tentang suamimu, dan sampai kapanpun aku nggak pernah suka denganmu!" Lalu dia berdiri dari kursinya.
" Kau nggak ingin dengar jawabanku?" Ucapku pada Kakak iparku, tanpa memandangnya.
Kulihat dia dengan ekor mataku, duduk kembali di kursinya.
" Kau mau bilang apa?"
__ADS_1
" Makasih karena kau mau mendengarkanku." Kusingkirkan piring kue yang ada dihadapanku, dan kulipat kedua tanganku diatas meja, serta kutatap matanya.
" Secara fisik kau Kakak iparku, dan kewajibanku menghormatimu. Tapi secara pemikiran kau adalah rivalku, disini kau musuhku. Kau melarangku masuk ke dalam keluarga ini, tapi sayangnya aku udah terlanjur masuk. itu poin pertama yang kamu harus tau." Sesaat aku diam untuk mengambil nafas.
Yang kedua, apapun yang kau bilang tentang suamiku, aku nggak perduli, karena yang kulihat, suamiku sangat menyayangi keluarganya.
Yang ketiga, kalau kau nggak suka denganku, itu urusanmu, kau bebas menghinaku tapi sayangnya aku nggak akan pernah menganggapmu ada, dan hal itu kupelajari dari cara Mamamu memperlakukan suamiku. Kuharap cukup jelas apa yang kukatakan, kalau mau pergi silahkan, kalau masih ada yang mau disampaikan silahkan."
Kulanjutkan memakan kue yang kupinggirkan tadi.
" Aku sudah duga kau memang perempuan licik Zahra, kau mau nikah dengan adikku karena hartanyakan?!"
" Sayangnya kueku sudah habis, jadi aku nggak bisa lagi duduk denganmu." Aku berdiri dari kursi yang ku duduki, merapikan kembali ditempat semula.
"Sebelum aku masuk, kau coba ingat lagi poin no.3 yang kukatakan tadi, dan untuk yang kau bilang aku mau dengan adikmu karena hartanya, jawabku, aku mengenal dia sebagai laki-laki gembel." Kutinggalkan Kakak iparku yang masih duduk di dapur.
Pada saat aku melewati ruang TV kulihat Wulan memperhatikanku.
" Kak..." Panggilnya
" Kau melihatnya?"
Dia hanya mengangguk.
" Jangan katakan apapun pada Abangmu, karena akan memperkeruh suasana. Maaf kalau Kakak bersikap seperti itu pada Kakakmu."
" Aku suka caramu mengeksekusinya, tenang tapi mematikan."
Kupukul pelan jidadnya.
" Hey bodoh, itu Kakakmu kau dengan dia satu darah, sementara aku orang lain, kalau nggak bisa membelanya sebaiknya diam, bukan mendukungku." Kuperhatikan dia dari atas sampai bawah.
" Calon-calon pengkhianat sepertinya ini."
Mendengarku bicara seperti itu dia langsung membelalakkan matanya.
" Nggak usah melotot seperti itu, jelek tau." Lalu kupeluk dia. " Kakak nggak marah, tadi hanya bercanda, maaf ya." Lalu kucium pipinya.
" Tapi apa yang Kakak katakan benar, Kalau aku nggak bisa membela saudaraku karena kesalahannya seharusnya aku diam, dan aku nggak boleh mencari muka untuk mendapatkan simpati dan empati dari oranglain."
" Cerdas!" lalu kucolek ujung hidungnya.
Aku pamit pada Wulan untuk istrirahat. Selesai aku cuci muka dan sikat gigi, kulihat Mas Jaya yang baru pulang.
" Kamu udah pulang sayang." Ku bantu dia membuka jaketnya dan menggantungnya didalam lemari.
" Aku bersih-bersih dulu ya." Dikecupnya keningku, dan masuk ke kamar mandi.
Kurebahkan diriku di kasur, rasanya banyak banget masalah hari ini. Tapi sudahlah, dipikirkan buat sakit kepala aja.
Makasih Ya Allah karena KAU berusaha menempa jiwaku untuk lebih dewasa lagi. Doaku dalam hati.
"Kamu mikirin apa?" Kutarik suamiku itu untuk rebahan,lalu meletakkan kepalaku didadanya.
" Aku mikirin kamu, rasanya nyaman banget tidur disini." Sambil memukul pelan dadanya.
"Mas.. terimakasih atas semuanya ya, aku menyayangimu." Perlahan ku kecup dadanya.
"Sayang, letakkan sini kepalamu dibantalku, aku ingin memandang wajahmu, sebelum aku tidur." Ucap Mas Jaya.
Kusejajarkan wajahku dengannya, sampai ujung hidungku beradu dengan hidungnya. Kuusap lembut pipinya.
" Aku mencintaimu Mas" Kukecup bibirnya, dan aku tersenyum.
" Kau senyum kenapa?" dibelainya halus pipiku.
" Aku senyum karena malam ini aku puas membuat iri bidadari disyurga sana."
" Oh ya?!"
"He hum.. Jika kau tidur dalam keadaan marah denganku, mereka akan senang, karena mereka sedang menunggumu, tapi kalau kau tidur dengan rasa senang padaku, mereka akan iri, karena aku bisa menyenangkanmu."
" Bidadari syurgapun ada yang pelakor ya." jawabnya sambil mencolek hidungku.
"Jangan bicara begitu, nanti mereka marah kita gosipin, ayo tidurlah." Kukecup kening, mata dan bibirnya.
__ADS_1
" Kau memang nakal Zahra." Lalu dipeluknya aku dengan erat, dan memejamkan mataku.