
Malam itu Pulau Ro tampak ramai dengan bermbahnya pemghuni. Selain gadis-gadis, juga ada rombongan penambang yang dibawa oleh para penjahat yang dulu akan mengusir penduduk pulau Ro. Tiga kapal besar yang mengangkut mereka juga masih tersandar di pelabuhan kecil Pulau Ro.
Malam merambat dengan pelan, gadis-gadis yang tadi dirawat kini sudah benar-benar pulih. Hanya beberapa luka yang masih basah dan dibalut perban. Er yang sangat yakin akan menjadi istri Galang, saat itu datang menemui Galang dengan pakaian yang indah.
Puluhan pasang mata melihat Er yang mendekati Galang. Dia adalah gadis yang sangat cantik dengan tubuh yang proporsional. Semua mengagumi kecantikan Er yang alami. Bahkan Cintya sebagai seorang gadis juga sangat mengagumi kecantikan Er..
"Galang, bolehkah aku ikut denganmu ke Kota S? Aku sudah bicara pada ayah dan ibuku, mereka mengizinkan aku." Kata Er di tengah keheningan orang-orang yang sedang menatapnya.
"Er, aku ini tidak pernah menetap di suatu tempat. Aku membawa keluargaku dari Pulau Bintang karena mereka yang akan menjaga keluargaku yang lain. Juga, hidupku ini penuh dengan bahaya." Jawab Galang yang saat itu terkejut.
"Aku tidak apa-apa, aku pasti bisa menerima keadaanmu." Jawab Er.
Galang menghela nafas panjang. Tidak disangka Er akan senekad itu. Yang lainpun tampak kebingungan.
"Aku berjanji tidak akan merepotkanmu. Aku akan mencari pekerjaan di sana. Aku ini sarjana." Kata Er penuh keyakinan.
"Kamu pikirkan lagi baik-baik, Er." Kata Galang sambil terus menghela nafas.
"Aku tahu kamu keberatan. Aku berjanji tidak akan merepotkanmu. Aku sudah memikirkannya dengan yakin." Jawab Er.
"Lang, biarkan saja dia ikut. Dia akan menjadi temanku. Diana pasti akan memberi kami pekerjaan." Cintya tiba-tiba berbicara.
"Terimakasih, Cintya. Kamu sungguh baik hati." Kata Er dengan wajah mengulas senyum. Cintya hanya mengangguk.
"Iya, Galang, biarkan saja dia ikut. Aku dan ibunya sudah setuju. Biarkan dia mandiri dan bertanggung jawab. Bukan berarti aku akan menyuruh dia tinggal bersamamu. Dia adalah seorang sarjana. Biarkan dia berkembang di sana." Yang bicara adalah Kepala Suku, ayahnya Er.
Sementara yang lain tidak ada yang bicara. Hanya mendengar saja, menunggu keputusan Galang.
"Baiklah." Galang akhirnya mengalah. Walaupun begitu, sebenarnya Galang tidak tega melihat Er yang akan menjalani kehidupan jauh dari keluarga dan sukunya.
Apalagi hidup di luar sana tidak seperti yang dibayangkan. Itu akan sulit, tetapi Galang sudah memutuskan. Tentu saja dia tetap akan membantu Er. Apalagi dia sudah mengatakan akan menikahinya jika dia selamat nantinya.
*******
Rumah Kepala Desa Wisata
__ADS_1
Seorang petugas keamanan desa berlari menuju rumah kepala desa, dia sepertinya sangat ketakutan.
"Kepala desa, di pinggiran desa ada pertarungan. Sepertinya satu orang melawan seretusan orang. Orang itu adalah pemuda yang kemaren bertarung di bukit karang!" Kata petugas keamanan desa melaporkan.
"Baik, ayo kita ke sana! Bawa beberapa orang lagi!" Kepala desa langsung merespon.
"Aku ikut!" Kata Diana.
"Aku juga!" Kata Karmen.
"Aku juga!" Dara ikut bicara.
"Nona di sini saja bersamaku, ya. Ibu dan Bibi akan menolong orang." Kata Anita yang ssat itu juga ada di sana berdama Diana, Karmen dan Dara.
Mendengar itu Dara.mengerti, diapun segera memeluk Anita. Dia memberi isyarat bahwa dia memang tidak akan ikut.
Mereka pun berangkat, Diana menggunakan mobilnya dan langsung berangkat ke tempat kejadian, sementara kepala desa berangkat bersama orang lain.
Pertarungan itu begitu mengerikan. Seorang pemuda berambut panjang sedang bertarung menghadapi ratusan makhluk aneh. Mereka seukuran manusia, namun tubuh mereka berbulu lebat dan mata mereka berwarna merah seperti api.
Diana dan Karmen saling pandang, keduanya sedang mengamati kalau-kalau makhluk-makhluk itu memiliki kelemahan. Diana merasakan bahwa makhluk-makhluk itu bukan makhluk biasa, namun mereka adalah makhluk gaib. Jadi mereka tidak bisa mati. Pikirnya.
"Diana, ayo bantu pemuda itu!" Teriak Karmen, lqlu dia menerjang dan menyerang makhluk-makhluk yang tak bisa mati itu.
Dalam sekejap, Karmen sudah mulai menyerang makhluk-makhluk itu. Beberapa telah dijatuhkan oleh Karmen, namun makhluk itu terus saja bangun dan menyerang lagi.
Diana tidak mau ketinggalan, diapun melabrak makhluk-makhluk itu. Dengan berbekal kehebatannya, Diana sudah menjatuhkan puluhan makhluk yang ganas itu.
"Kenapa kalian kemari? Nona-nona, sebaiknya kalian pulang saja!" Teriak pemuda berambut panjang sambil terus melancarkan pukulan ke arah makhluk-makhluk itu.
Diana dan Karmen hanya diam saja dan tidak bicara. Keduanya terus memukul kalah makhluk-makhluk yang menyerangnya. Namun demikian, semua makhluk itu tidak bisa mati.
Sementara agak jauh dari pertarungan itu, Kepala Desa dan orang-orangnya hanya melihat saja, mereka tidak punya kemampuan untuk ikut bertarung dengan makhluk-makhluk itu.
"Panggil Nenek Sol! Cepat!" Teriak Kepala Desa.
__ADS_1
Seorang warga dan petugas keamanan segera pergi menggunakan dua sepeda motor. Mereka akan pergi membawa Nenek Sol seperti perintah Kepala Desa.
Hanya sekitar lima belas menit, kedua orang itu sudah kembali, dan petugas keamanan membomceng seorang nenek tua. Dia adalah Nenek Sol yang dimaksud.
"Nenek Sol, kamu pasti tahu itu makhluk apa?" Kata Kepala Desa.
"Ini pasti ada yang berani menjahili Goa Kematian. Kepala Desa, adakah wargamu yang menjahili Goa Kematian?" Tanya Nenek Sol.
"Mana aku tahu? Cepat lakukan sesuatu Nenek Sol. Kamu kan keturunan Eyang Lasa, yang mengadakan perjanjian dengan makhluk-makhluk itu." Jawab Kepala Desa.
Nenek Sol segera maju, diapun berkomat-kamit, lalu berteriak, "Hentikan!"
Seketika makhluk-makhluk itu berhenti menyerang. Diana, Karmen dan pemuda berambut panjang pun berhenti menyerang. Mereka bertiga menuju ke Nenek Sol yang terlihat sedang berkomat-kamit.
Satu sosok makhluk yang lebih besar mendatangi Nenek Sol, "Kalian sudah melanggar sumpah yang sudah disepakati, maka kami bebas menyerang bangsa manusia. Kalian akan kami musnahkan. Sepuluh hari lagi, kami akan datang kembali menyerang kalian. Jika bukan karema kamu adalah keturunan Lasa, kami sudah menghabisi kalian semua hari ini."
"Apa maksudmu melanggar?" Tanya Nenek Sol.
"Seseorang manusia telah berani memasuki wilayah kekuasaan kami dan mengambil pedang api milik kami." Kata sosok itu.
"Apakah yang mengambil pedang itu adalah penduduk desa kami?" Tanya Nenek Sol.
"Memang bukan, dia berasal dari perguruan Paser Maut di Gunung Mer." Jawan sosok itu lagi.
"Bukankah itu berarti kamu tidak bisa mengatakan kalau itu adalah pelanggaran kami? Jika karena orang lain kami yang menanggung akibatnya, maka itu tidak adil, bukan?" Tanya Nenek Sol.
"Aku tidak peduli. Bangsa kami akan berperang melawan bangsa manusia, aku memberi waktu pada kalian selama sepuluh hari untuk mempersiapkan diri. Kita mengulang kisah lama, berperang seperti dulu." Sosok itu memang.menginginkan perang.
"Tunggu! Jika aku berhasil mengembalikan pedang kalian, apakah kalian akan mengurungkan niat untuk berperang?" Tanya Diana.
"Apa maksudmu? Jika seseorang sudah memiliki pedang itu, maka dia tidak akan terkalahkan. Dan hanya pedang milik Lasa yang mampu melawan pedang kami." Kata makhluk itu.
"Bukankah jika kalian tidak memiliki pedang itu kalian akan kalah? Kenapa kalian harus bersusah payah berperang jika sudah tahu akan kalah?" Tanya Diana.
Makhluk besar itu diam saja.
__ADS_1