
Suasana perguruan Paser Maut tampak biasa saja. Sast itu di teras belakang beberapa guru sedang duduk-duduk sambil minum teh. Terlihat di halaman belakang yang luas ratusan orang sedang berlatih beladiri.
Perguruan ini terlwtak di lereng Gunung Mer. Sehuah perguruan yang besar di provinsi Selatan. Dan guru utama adalah Guru Galuh.
Perguruan ini sangat terkenal karena kehebatan Guru Galuh. Guru Galuh selain ahli tingkat tinggi beladiri, juga merupakan orang yang baik dan dermawan. Guru Galuh membiayai perguruannya dengan uang dari peruaahaan-perusahaan milik Klan Harimau yang tersebar di beebagai kota di Negara Garuda.
Guru Galuh selalu meminta kepada murid-muridnya unruk membantu masyarakat di sekitar perguruan. Baik banruan tenaga maupun materi. Bahkan, beberapa sekolah juga didirikan oleh Guru Galuh di Kota M. Mulai dari sekolah dasar hingga universitas. Semuanya gratis dan tidak dipungut biaya.
Selain bersekolah, mereka juga diajari beladiri oleh guru-guru dari Gunung Mer. Mereka akan dilatih pada jam pelajaran eksta. Tujuannya adalah, mereka dilatih disiplin dan bisa membela diri dqri kejahatan.
"Mengapa Guru lama sekali di Malaka?" Tanya seorang laki-laki berumur empat puluh tahun sambil meletakkan cangkir teh.
"Iya, sekarang malah ponselnya tidak aktif. Guru Nang, bukankah Guru mengatakan akan menemui Raja Naga? Apakah Guru pernah bercerita soal itu setelah sampai di Malaka?" Seorang wanita menjawab dan bertanya pada orang yang dipanggil Guru Nang.
"Benar, Guru Retno. Terakhir Guru meneleponku katanya akan pulang bersama Raja Naga karena Raja Naga memintanya unruk ikut dengannya." Jawab Guru Nang.
Guru Retno adalah guru termuda di Gunung Mer. Usianya baru dua puluh lima tahun. Namun kemampuan beladirinya susah menyamai guru-guru yang lainnya.
"Sudahlah. Sekarang Guru Seho juga tidak ada. Sebenarnya Guru Seho kemana?" Pria lain bertanya.
"Guru Lin, Guru Tio, bukankah Guru Seho sangat dekat dengan kalian? Apakah dia tidak bicara apa-apa pada kalian mau pergi kemana? Sudah dua hari ini dia belum kembali. Dan sekarang tingkahnya makin aneh. Dia sering menelepon orang saat seharusnya melatih." Tanya guru lainnya.
"Guru Lukito, aku juga juga tidak tahu, dia sama sekali tidak bicara apa-padaku beberapa minggu ini. Terakhir aku melihatnya kemaren dia pergi dengan beberapa murid andalan. Dia juga membawa pedang milik Guru. Aku berusaha melarangnya, tapi dia marah padaku dan Guru Tio. Jadi aku biarkan saja." Jawab Guru Lin.
Semua guru terdiam dengan jawaban Guru Lin. Mereka memang tahu, Guru Seho merupakan kepercayaan Guru Galuh, jadi mereka tidak pernah ikut campur dengan urusan Guru Seho.
__ADS_1
Saat itu di ruang depan tampak puluhan orang masuk. Mereka adalah Guru Seho dan murid-muridnya. Dari ruang depan, mereka langsung menuju ke teras belakang.
Di belakang halaman yang luas tempat berlatih, ada barak untuk para murid perguruan. Sementara para guru tinggal di barak di samping kiri kanan halaman. Tentu saja Guru Seho akan langsung menuju baraknya.
Saat melewati para guru yang sedang duduk minum teh, Guru Seho menyembunyikan tangannya di saku celana. Tangan kanannya memang terluka cukup parah.
"Guru Seho!" Panggil Guru Lin.
Guru Seho menoleh, tapi dia langsung berjalan ke baraknya. Sementara puluhan murid yang bersamanya memberi hormat pada para guru dan kemudian berjalan langsung ke barak mereka.
"Aneh, Guru Seho tidak membawa pulang pedang Guru?" Tanya Guru Nang.
Para guru saling berpandangan. Tidak ada yang bicara lagi. Masing-masing menganbil gelas berisi teh manis dan meminumnya.
******
"Kita langsung ke hotel, nanti malam baru kita beraksi." Kata seorang wanita berambut pirang. Dia bersama dengan dua orang pria dan tiga wanita lainnya baru saja turun dari pesawat.
"Baik, jangan sampai gagal, sebentar.lagi akan ada pemilihan Gubernur wilayah selatan. Pesan dari Tuan Ghost, kita harus malam ini menyelesaikannya." Jawab seorang pria berusia tiga puluh tahun. Wajahnya dipenuhi tato. Bahkan mungkin seluruh tubuhnya. Terlihat dari pergelangan tangannya ada tato, baik tangan kiri maupun tangan kanan.
Jika dilihat, memang mereka rata-rata berusia antara tiga puluh sampai empat puluh tahun
Masing-masing orang itu membawa tas gendong yang besar dan terlihat berat. Juga di antara mereka, ada satu koper berukuran besar.
"Baik, sampai bertemu jam tujuh malam!" Teriak wanita berambut pirang.
__ADS_1
"Semoga berhasil!" Jawab lainnya.
Saat itu hari sudah sekitar jam empat sore, Diana, Karmen dan Dara serta Anita baru sampai di Kota M atas undangan gubernur wilayah selatan unruk meninjau pembangunan tempat wisata. Gubernur mengirim surat pada Diana. Dia meminta Diana untuk berinvestasi di tempat wisata pantai selatan
Diana sempat berpapasan dengan orang-orang itu. Ketika melihat Diana, mereka tersenyum. Akhirnya mereka menumpang bus menuju hotel. Sementara Diana sudah dijemput oleh ajudan Gubernur tanpa protokoler karena permintaan dari Diana.
Diana dan lainnya langsung diantar menuju hotel yang sudah dipesan. Saat sampai di hotel orang.
"Nona, nanti jam enam, aku akan menjemput kalian untuk bertemu gubernur dan para pejabat di kediamannya. Gubernur akan menjamu kalian." Kata ajudan gubernur yang berusia sekitar empat puluh lina tahun sebelum meninggalkan mereka.
"Paman!" Diana menoleh ke arah Dara, "Bisakah kami minta ayam goreng dan sayur bayam?" Tanya Diana.
"Oh, tentu saja, Nona! Aku akan lamgsung mibta juru masak untuk menyediakannya. Pasti itu untuk Nona kecil ini, bukan? " Jawab ajudan sambil mebgerlingkan matanya oada Dara. Dara yang memang hobi makan ayam goreng, langsung teesipu. Apalagi dia digoda oleh orang yang belum dikenalnya.
Mereka semua tertawa karena tingkah Dara yang lucu.
"Baiklah, Nona-Nona, aku pergi dulu. Jam enam nanti aku akan kemari lagi." Kata Ajudan.
"Baiklah, Paman! Jangan lupa pesanan Dara!" Jawab Diana, dia juga menggoda Dara yang semakin tersipu.
"Sayang, ayo mandi dulu, nanti kita akan ke rumah Gubernur. Dan kamu akan makan ayam goreng!" Kata Diana.
Dara pun langsung melepas pakaiannya. Dia semangat sekali. Dia juga baru mendengar nama gubernur. Nama yang sangat asing. Dara penasaran. Memangnya ada nama gubernur? itu sangat aneh di telinganya. Tapi, dia cepat melupakan itu, karena yang ada di pikirannya sekarang hanyalah ayam goreng. Jadi, ketika sudah melepaskan pakaian walau dengan susah payah, Dara langsung menuju kamar mandi. Dia juga langsung mengikutinya.
Sementara Anita juga langsung menuju kamar mandi yang lain. Mereka berada di ruang VVIP hotel, satu ruangan ada dua kamar tidur. Dan ruangan itu ada satu kamar mandi di luar kamar dan masing-masing kamar ada kamar mandinya. Dara mandi di kamar mandi di luar kamar di dekat darur. Karmen langsung masuk kamar dan merebahkan diri.
__ADS_1
"Diana membawa pedang Guru Seho, berarti dia akan ke Gunung Mer." Gumam Karmen.