
Jam empat sore hari, Diana dan jagoan lain pun berangkat. Dua orang kusir tampak sudah duduk di tempatnya siap mengendalikan empat kuda. Mereka akan membawa mereka menuju kerajaan. Diana, Anita dan Dara berada di dalam.kereta, sementara Karmen dan Rangga menunggangi kudanya.
Kereta itu terbuka di bagian depan di belakang kusir dan bagian yang tertutup berada di belakang.
Penduduk desa tumpah ruah di jalan. Tua, muda laki-laki, perempuan semuanya berada di jalan memgiringi kepergian pahlawan mereka. Pemandangan itu segera menarik perhatian dara. Lambaian tangan penduduk desa dibalas oleh Dara. Dqra tersenyum manis dengan mata berbinar.
Apalagi sekarang dia naik mobil aneh yang ditarik kleh dua ekor kuda yang kata Ibu adalah temannya. Kuda berjalan lambat melewati jalan yang penuh manusia.
Tidak hanya di desa Hulu, penduduk dari desa Hilir juga sama. Mereka juga berada di jalan mengiringi para jagoan yang akan menuju ke kota.
Sementara di belakang lereta kuda Diana, ada puluhan penunggang kuda yang mengiringi mereka. Penunggang kuda dipimpin oleh kepala desa dan diikuti oleh perangkat desa dari desa Hulu dan desa Hilir. Mereka akan mengantar sampai perbatasan desa.
Mereka pun sampai di desa Hilir. Pemandangan yang sama juga terjadi di sini. Penduduk tumpah ruah memenuhi sepanjang jalan, mengantar kepergian para pahlawan mereka.
__ADS_1
Penduduk mengelu-elukan Diana dan para jagoan lainnya. Berkay mereka, kini mereka terbebas dari penindasan. Para gadis dsn lelaki muda serta anak-anak menari diiringi tabuhan. Dara di atas kereta ikut-ikutan menari menirukan mereka dengan tidak sadar dan mengundang senyum semua orang.
Diujung perbatasan desa Hilir, ada persimpangan yang mengarah ke kiri. Kusir lalu berbelok. Di sinilah akhir dari iringan mereka. Ketika mereka semakin menjauh, ada kesedihan di raut wajah penduduk desa. Mereka hanya sebentar melihat wajah oara pahlawan mereka.
Sebelumnya, Diana sudah mengatakan bahwa tidak akan ada yang berani lagi macam-mwcam di sini karena dia adalah pelindung kedua desa.
Jagoan kita terus saja melaju dan malam mulai merayap. Sepanjang jalan sangat gelap, Karmen dan Rangga yang memunggang kuda, memilih berada di belakang kereta dan mengikuti kusir yang sudah pasti sangat tahu jalan.
"Tentu saja, Nona. Ini adalah perjalanan yang akan membuatku mrmilikk pengalaman. Apalagi ada Nona Dara. Aku sangat senang sekali." Jaeab Anita.
"Apakah kamu tidak merindukan Ayah dan Ibumu? Aku takut ini semua karena aku. Ketika aku memintamu untuk ikut bersamaku, ayah dsn ibumu langsung menyetujuinya." Kata Diana.
"Bukankah aku sudah dewasa? Jadi aku juga bisa menentukan jalan hidupku. Aku akan sangat senang menemanimu dan Nona Dara kemanapun pergi." Sahut Anita.
__ADS_1
"Kamu baik sekali, Anita. Kamu akan menjafi temanku dan teman Dara selamanya." Ujar Diana.
"Terimakasih, Nona!" Sahut Anita dengan mata berbinar.
Kereta melaju dengan lambat, kusir bergantian terjaga dan mengendalikan kuda. Sementara Karmen dan Rangga juga berada dalam kereta untuk tidur. Kuda mereka diikat di belakang kereta. Kereta itu memang besar dsn dirancamg untuk perjalanan yang jauh.
Hingga pada pagi hari, mereka mulai memasuki hutan yang cukup lebat. Perjalanan mrnjadi cukup sulit karena jalan yang bergelombang.
Kereta kuda berhenti dan kusir pun memberitahu Diana bahwa mereka akan memberi makan dan minum kuda terlebih dahulu.
Karmen, Anita dan Rangga memasak dengan alat-alat listrik yang mereka bawa. Mereka hanya masak mi instan dan untuk sarapan saja.
Setelah selesai sarapan, mereka melanjutkan perjalanan menyusuri hutan.
__ADS_1