
"Diana! Berikan pedang Cakar Naga padaku!" Kata pertapa sakti.
Diana lalu mengambil pedsng di punggungnya dsn memberikannya pada pertapa sakti. Pertapa sakti menerima pedang itu lalu meletakkan di pangkuannya. Kedua tanyannya memegang pedang.
Matanya lalu terpejam, membaca sesuatu, terlihat bibirnya bergerak-gerak. Tiba-tiba dari kedua tangan orang tua itu keluar cahaya kekuningan seperti memgalir ke pedang Cakar Naga. Pedang bergerak-gerak ketika cahaya kekuningan masuk ke dalam pedang.
Setelah selesai, kakek berambut putih lalu membuka mata dsn menatap Diana.
"Pedang ini sekarang lebih kuat seratus kali lipat. Kamu akan menjadi petarung yang tak terkalahkan di dunia. Namun, kamu harus hati-hati. Di duniamu juga banyak sekali orang-orang sekuat kamu. Dan kamu jangan pernah meremehkan lawan-lawanmu. Mengenai musuh dari negeri seberang, ada banyak master beladiri yang sangat kuat. Tapi kamu tidak perlu kuatir. Aku akan membantumu." Kata Kakek tua.
"Kakek, maksudku Leluhur, terimakasih sudah membantuku. Tapi aku bisa sendiri mengalahkan mereka." Jawab Diana.
__ADS_1
"Panggil saja aku Kakek. Kamu tidak perlu sungkan cucu. Kamu sekuat aku dan tidak mudah orang memgalahkanmu. Bahkan kakek dan nenekmu saja tidak akan sanggup melawanmu. Setiap generasi kita, pasti selalu ada yang paling kuat, setelah aku, ternyata kmulah yang terkuat. Jadi aku akan membantumu untuk saat kamu berada di generasiku." Sahut kakek tua.
"Baiklah." Diana memgalah.
"Batu ini akan aku simpan, dan aku akan mengembalikan batu ini pada generasi ketujuh dari keturunanmu." Kata kakek lagi.
"Terserah kakek saja lah. Aku akan segera kembali ke perkemahan. Mungkin sekarang mereka sedang ribut karena aku pergi tanpa persetujuan mereka." Balas Diana.. Dia ingin tahu reaksi kakek di depannya.
"Kakek, di mana sebenarnya keluargamu?" Tanya Diana tiba-tiba. Dia penasaran, jika dia adalah keturunannya, maka seharusnya kakek punya istri dan anak.
"Mereka? Kamu tahu? Umurku sudah limaratus tahun dan mereka jelas sudah tersebar di penjuru dunia. Aku tidak pernah mengingat mereka lagi. Setelah kematian istriku, aku pergi kemari dan bertapa selama hampir limaratus tahun. Mereka tentu saja sudah menjadi banyak sekarang." Jawab kakek tua.
__ADS_1
Diana mengangguk-anggukan kepala. Walau hal itu tidak bisa diterima akalnya, namun, dari awal masuk ke Lembah Katak, dia sudah heran karena kudanya mengenali tempat ini, kakek ini juga memanggil namanya. Katak raksasa juga seperti mengenal kuda Diana.
"Aku tahu kamu mengira aku berbphong. Terserah saja. Aku tidak memaksamu mempercayaiku. Watakmu sama sepertiku, jadi mungkin dulu aku juga seperti itu. Dan, saat aku bertapa, aku mendapat keabadian. Aku tidak bisa mati dan akan terus hidup. Itu yang aku sesalkan juga. Tapi ini semua adalah takdir. Aku harus menerimanya." Kata Kakek ketika melihat wajah Diana yang berubah.
"Bukan begitu, Kakek. Maafkan aku." Sahut Diana merasa tidak enak hati.
"Diana! Ambillah pedangmu dan pergilah. Pada saatnya, aku akan datang membantumu!" Kata Kakek kemudian.
Diana pun segera membungkuk hormat pada kakek dan kemudian segera pergi. Sebelum Diana keluar, katak raksasa sudah mendahuluinya keluar goa dan Diana segera mengikutinya dengan kudanya.
Setelah keluar dari goa, Diana menolehnke belakang. Dia langsumg terkejut karena dia sama sekali tidak melihat goa yang tadi. Di sana, dia hanya melihat aliran sungai kecil dengan air jernih. Diana memggelemg-gelemgkan kepalanya dan kemudian melanjutkan perjalanan. Setelah sampai di pohon, katak raksasa pun berhenti. Ketika Diana dan kudanya melewatinya, kata itu seperti membungkuk hormat pada Diana. Diana lalu pergi dari sana.
__ADS_1
Dia memcoba menoleh ke belakang. Benar saja, pohon dan katak raksasa juga tidak ada di sana. Yang dia lihat seperti sebelumnya, hanya hamparan batu kerikil saja.