Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Yang Diutus


__ADS_3

Yang dikatakan Diana memang benar. Tapi mereka memang sudah mempersiapkan ini sejak lama. Mereka ingin dilanggar, mereka ingin berseteru kembali dengan bangsa manusia.


"Kami kalah? Hahahahaha! Kami adalah makhluk yang tidak bisa mati kecuali dengan pedang kami sendiri. Manusia yang mencuri pedang kami, tidak mungkin akan memerangi kami." Kata makhluk bermata api.


"Bagaimana jika yang datang kemari adalah Raja Naga Kesepuluh?" Tanya pemuda berambut panjang tiba-tiba. Semua orang yang mendengar itu terkejut, termasuk juga makhluk jadi-jadian itu.


Wajah makhluk itu berubah, namun dia menutupinya, "Omong kosong apa yang kamu bicarakan. Jangan membual soal Raja Naga!"


"Aku tidak membual, jika kamu dan bangsamu memang menginginkan memerangi bangsa manusia, maka Raja Naga akan membela kami. Nona Diana dan Nona Karmen ini adalah kerabat dari Raja Naga Kesepuluh." Pemuda itu mengatakan dengan begitu yakin. Diana dan Karmen tidak memahami maksud perkataan pemuda itu.


"Hahahahaha! Kamu jangan bicara omong kosong di hadapanku!" Makhluk itu pun tidak percaya. Walaupun dia takut dengan Raja Naga, namun, saat ini dia menganggap pemuda itu sedang membual.


"Sepuluh hari lagi, aku akan datang membawa lebih banyak lagi pasukan. Dan kalian bangsa manusia akan musnah!" Teriak makhluk jelek itu, dan kemudian makhluk-makhluk itu pun menghilang begitu saja.


"Nenek, bisakah meminjamkan.pedang milik keluargamu? Aku akan memdatangi Gunung Mer untuk merebut pedang api." Tanya Diana..


"Nona, datanglah ke rumahku, kita bicara di sana." Kata Nenek Sol, lalu dia minta diantar pulang.


"Nenek, pulanglah bersamaku. Aku akan mengantarkanmu." Kata Diana. Nenek Sol setuju dan mengangguk.


"Apa maksudmu aku dan Karmen adalah kerabat Raja Naga Kesepuluh?" Tanya Diana penasaran.


"Jika saatnya tiba, kalian akan tahu, Nona. Aku adalah orang yang diutus, aku akan membantu Raja Naga menghadapi perang yang akan dijalaninya kelak." Kata pemuda itu.


"Dulu kamu sering membantuku, selalu membelaku. Aku belum sempat mengucapkan terimakasih padamu." Kata Diana melupakan soal Raja Naga.


"Itu memang tugasku, Nona. Ada kesalahan yang fatal dan akhirnya aku harus dihukum, yaitu melindungi keluargamu dan Nona Riana." Jawab pemuda itu.

__ADS_1


"Kamu tahu keluargaku?" Tanya Diana. Pemuda itu hanya mengangguk saja.


"Sampai bertemu lagi sepuluh hari ke depan, Nona, aku akan mempersiapkan pertarungan kalian nanti!" Kata pemuda itu, dengan gerakan yang cepat, pemuda itu sudah pergi jauh. Kecepatan pemuda itu laksana peluru.


"Baiklah, Nenek, ayo kita ke rumahmu!" Kata Diana. Kemudian mereka menaiki mobil dan Karmen yang menyetir.


********


Siang itu, di perguruan Paser Maut sedang heboh, tiba-tiba saja Guru Seho berucap bahwa dia mengambil alih perguruan. Tentu saja itu membuat para guru tidak terima. Sedangkan Guru Galuh saat ini juga belum kembali dari Malaka.


"Guru Seho, kamu sudah keterlaluan. Apakah kamu ingin melawan Guru Galuh?" Yang bertanya adalah Guru Nang. Dia adalah guru paling tua setelah Guru Seho.


"Sekarang ini, wanita tua itu sudah bukan lawanku. Hahahaha. Jika kalian menolak bergabung denganku, silahkan pergi dari sini sekarang juga. Karena aku masih memberi kalian kesempatan, kalau tidak, aku akan membunuh kalian semua!" Kata Seho dengan wajah penuh percaya diri.


Saat ini Guru Seho memegang sebuah pedang yang masih dalam rangka. Rangka pedang berwarna hitam dan ada titik-titik merah. Sementara ujung gagang pedang berukir kepala monster yang berwatna merah. Itu adalah pedang api yang dia curi dari Goa Kematian.


Para guru tidak tahu mengapa sekarang Guru Seho sangat percaya diri. Bahkan berani melawan Guru Galuh. Padahal, jika para guru itu maju bersama, maka Guru Seho akan kalah. Tetapi sekarang Guru Seho malah berani mengancam mereka.


Namun, ketika melihat perangai Guru Seho, dia semakin tidak menyukainya. Apalagi sekarang Guru Seho main ancam. Itu sangat tidak disukainya.


"Guru Lin, bukankah kamu menyukaiku? Kenapa sekarang kamu melawanku? Jangan anggap karena kamu seorang wanita, maka aku tidak tega padamu?" Tanya Guru Seho.


"Cuih, orang macam kamu tidak akan ada dalam hatiku. Ada orang-orang yang lebih baik darimu dan tidak pecundang seperti kamu!" Guru Lin marah karena ucapan Guru Seho.


"Hahahaha, kamu akan menyesal, Guru Lin. Kamu telah menghinaku, maka aku tidak akan mengampunimu." Guru Seho sudah tersulut emosinya.


"Kalau begitu, kalian semua maju!" Terriak Seho, lalu dia mencabut pedang api. Pedang itu laksana bara api.

__ADS_1


Mereka semua terkejut dengan apa yang mereka lihat. Pedang itu benar-benar sangat menakutkan. Mereka kini lebih waspada.


"Sepertinya Seho berani menentang Guru karena dia memiliki pedang itu." Kata Guru Retno.


Kini, wajah dan seluruh tubuh Seho berubah menjadi hitam. Badan dan wajahnya ditumbuhi bulu-bulu hitam dan matanya berubah menyala seperti api.


"Majulah kalian semua!" Teriaknya. Suaranya berubah besar dan berat.


Para guru mau-tidak mau harus melawan Guru Seho yang kini sudah berubah menjadi makhluk menyeramkan.


"Serang!" Teriak Guru Nang. Mereka pun mencabut pedang masing-masing bergerak mengepung Seho.


Mula-mula mereka masih yakin bahwa mereka masih bisa mengalahkan Guru Seho. Secara bersamaan, para guru menyerang Guru Seho. Mereka mengarahkan pedang dari segala arah dan menusukkan ke tubuh Guru Seho.


Apa yang terjadi? Mereka semua terkejut. Pedang mereka tidak bisa menembus tubuh Guru Seho. Seperti ada besi baja di tubuh Guru Seho yang menahan pedang mereka.


Mereka mengulanginya berkali-kali dan tetap saja hasilnya sama.


"Hahahaha! Sekarang giliranku!" Teriak Seho.. Lalu dia memutar pedangnya dan menyerang para guru. Mereka ingin menangkis pedang itu, namun pedang mereka semua patah menjadi dua bagian. Bekas pedang yang patah seperti dipotong dengan mata mesin gerinda. Mereka semua mundur beberapa langkah. Lalu mereka berkumpul di suatu tempat.


Guru Seho pun langsung menerjang ke arah mereka dan menebaskan pedangnya ke arah mereka. Guru Seho benar-benar ingin membunuh mereka semua.


Mereka pun pasrah menerima kematian di tangan Seho yang sudah kerasukan iblis. Namun, belum sampai pedang itu mengenai para guru, sebuah bayangan berkelebat dengan cepat. Dua pedang beradu dan menimbulkan suara yang keras.


"Trang!"


Seho tersurut beberapa langkah ke belakang. Sementara seseorang saat ini berdiri dengan kokoh dengan pedang berwarna seperti cahaya. Dia adalah Diana. Dia berhasil mrmbawa pedang warisan Lasa. Itu adalah Pedang Kilat yang sudah lama tidak pernah terdengar lagi.

__ADS_1


Para guru yang melihat seorang gadis berdiri membelakangi mereka sangat penasaran. Gadis di depan mereka tentu saja bukan orang sembarangan.


"Guru Seho! Dulu aku belum sempat menghukummu, sekaranglah saatnya membuat perhitungan. Kamu tidak akan bisa lari lagi. Dan aku tidak akan sungkan. Perbuatanmu sudah tidak bisa dimaafkan!" Teriak Diana.


__ADS_2