
Pagi iru matahari tampak malu-malu menyembul dari ufuk timur. Gumpalan-gumpalan awan sebagian menutup matahari yang membuat langit timur tampak begitu indah. Rombongan Galang pun menikmati pagi dengan duduk-duduk di tepian pantai sambil menikmati teh panas.
Anton dan David berjalan menuju Galang yang sedang duduk di sebuah kursi. Galang pun menoleh ke arah mereka berdua. Lalu memandang ke sekeliling. Dia tidak melihat Nenek Diah dan Kakek Li. Mungkin saja mereka sedang tidur. Di tempat lain, dia melihat beberapa anak kecil yang sedang bermain pasir. Galang langsungbteringat Dara.
"Galang!" Panggil David saat sudah mendekat.
Galang yang sedang memperhatikan beberapa anak kecil agak terkejut. Padahal dia sudah tahu kedatangan mereka berdua.
"Paman berdua, ada apa?" Tanya Galang memyembunyikan keterkejutannya. Anton dan David juga memandang anak-anak yang bermain pasir. Mereka mengerti apa yang dipikirkan Galang.
"Ada beberapa kapal yang mendekat, menurut Kapten Thomas Tengah hari nanti kapal-kapal itu akan sampai di sini. Kenapa ada kapal yang kemari?" David menjelaskan apa yang didengarnya sari Kapten Thomas.
"Oh, iya. Aku lupa memberitahu Paman berdua." Galang kemudian menceritakan soal kedatangan orang-orang yang akan merampas pulau ini dari awal sampai mereka datang.
Anton dan David saling pandang. Keduanya tidak terlalu terkejut. Mereka berdua tahu bahwa hari ini mungkin mereka semua akan sibuk. Jadi mereka pun harus bersiap menyambut mereka.
"Biarkan mereka sampai di sini, Paman. Kita juga tidak terlalu peduli dengan mereka, bukan? Tapi kita akan membantu mereka nanti." Galang yang masih duduk meminum tehnya lagi.
"Bukankah kalian berdua saja sudah cukup menghabisi mereka?" Galang melirik Anton dan David.
"Tapi, biarkan aku dan Rangga yang akan menghadapi mereka, Paman. Kalian berdua jadi penonton saja." Kata Galang kemudian.
"Baiklah!" Jawab David.
"Paman berdua, tugas kalian adalah menjaga mereka agar jangan sampai masuk ke perkemahan. Nanti Kakek Li, Guru Galuh dan Nenek Diah menjaga kapal kita atau sebaliknya terserah kalian yang atur." Galang menambahkan.
Anton dan David kemudian pergi, saat itu hari masih pagi dan mereka semua masih tetap berada di sana menikmati pantai.
__ADS_1
*******
Rumah Kepala Suku
"Her, apakah orang-orang kita yang akan bertempur sudah siap?" Tanya kepala Suku.
"Sudah, Tuan! Mereka sudah berlatih selama ini. Mereka sudah siap mempertahankan pulau kita." Jawab Her yang ditunjuk Kepala Suku sebagai panglima perang mendadak.
Di antara para keluarga, keluarga Ruan Ro adalah keluarga yang pandai beladiri. Her adalah bagian dari keluarga Ruan Ro yang paling kuat. Apalagi dia pernah kuliah di kota dan ikut pelatihan beladiri karate dan mendapat sabuk hitam.
Sepulang dari kuliah, Dia dipercaya keluarga Ruan Ro melatih keluarga. Jadi mereka keluarga paling kuat di antara keluarga-keluarga Suku Ro.
Setelah ancaman dari orang-orang yang ingin mengusir mereka, Kepala Suku memerintahkan Her Ruan Ro melatih orang-orang dari berbagai keluarga untuk melawan orang-orang yang akan mengusir mereka kelak.
Her sendiri masih muda, umurnya sekitar tiga puluh tahun. Kepala Suku sudah membuat perjanjian dengan seluruh tetua suku, siapapun yang bisa mengalahkan orang-orang itu atau mengalahkan mereka, maka akan dinikahkan dengan anak gadisnya, yaitu Er.
"Aku akan berusaha yang terbaik untuk suku kita, Tuan!" Jawab Her penuh semangat, lalu dia melirik Er yang saat itu sedang duduk bersama ibunya tak jauh dari mereka.
"Tetua Re, sampaikan pada tamu kita bahwa mereka harus menjaga diri mereka saat orang-orang itu datang. Dan Tetua So, perintahkan semua penduduk yang tidak punya kepentingan untuk tidak keluar rumah mulai saat ini!" Perintah Kepala suku kepada dua tetua.
"Baik, Tuan!" Tetua Re dan So menjawab serempak, lalu pergi meninggalkan rumah Kepala Suku.
"Her, kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan?" Tanya Kepala Suku.
"Baik, Tuan! Aku permisi dulu. Aku akan membawa mereka ke dekat pantai dan mempersiapkan penyambutan." Jawab Her lalu menberi hormat, melirik ke arah Er dan kemudian pergi. Er yang sedang bersama ibunya hanya mengangguk.
******
__ADS_1
Kota T Rumah Roy
"Tuan! Nona Diana sudah berangkat, Guru Seho menunggu perintah!" Kata seorang anak buah Roy. Di dekatnya ada seorang berpakaian hitam yang memegang busur. Di punggungnya di sebuah wadah ada puluhan anak panah.
"Bagus! Siapkan pencegatan. Anak buahku akan mengarahkan mereka ke jalan yang sepi. Ketika susah di jalan sepi itu, silahkan Guru Seho bertindak!" Jawab Roy dengan senyum penuh kemenangan.
Kali ini, Guru Seho turun tangan langsung dan dia yakin bahwa Diana akan dikalahkan. Apalagi menurut kabar, Guru Seho sudah hampor menyamai kemampuan Guru Galuh. Jadi, Roy sangat yakin Guru Seho akan mampu mengalahkan Diana.
Pria berpakaian serba hitam dan anak buah Roy pun pergi meninggalkan ruangan. Roy masih tersenyum sendiri dan membayangkan dia akan berhasil merebut harta Rocky kembali.
"Diana! Tunggu saja, hari ini kamu akan mati!" Teriaknya yang membuat seisi ruangan menatap ke arahnya, termasuk Rocky, Lukas dan anak dari Roy.
Setelah kekalahan Rocky, para tetua yang biasanya mengikuti Rocky telah diusir oleh Rocky, dan mereka saat ini sudah tidak terlihat lagi di Kota S maupun di Kota T.
Rocky pun senang ketika mengetahui Guru Seho akan bertindak langsung menghadapi Diana. Walaupun dia belum tahu pasti kehebatan Guru Seho, tapi mendengar bahwa Guru Seho hampir menyamai Guru Galuh, dia juga yakin bahwa Guru Seho pasti akan mengalahkan Diana.
*******
Pulau Ro
Sekelompok orang berjumlah ratusan dengan berbagai senjata sudah berkumpul di depan rumah Kepa Suku. Rata-rata mereka laki-laki berumur antara dua puluh lima hingga empat puluh tahun. Tubuh mereka berotot karena mereka adalah pekerja di tambang milik suku Ro.
Wajah-wajah cemas terlihat. Mereka akan berperang sampai mati untuk mengusir bahkan membunuh orang-orang yang akan mengusir suku mereka dari pulau.
Walaupun begitu, tidak ada cara lain selain berperang. Itu cara terbaik. Apalagi Her selalu memberi swmangat pada mereka agar pantang menyerah. Mereka mungkim hidup, tapi terusir dari rumah adalah hal paling memalukan.
Selama beberapa minggu berlatih beladiri, sebenarnya tidak membuat mereka menjadi ahli. Namun setidaknya mereka sudah naik level, dari tidak bisa menjadi bisa. Mungkin memNg lebih baik menjadi Dara yang dikelilingi oleh ahli-ahli beladiri yang sangat kuat. Ya, Dara memang selalu beruntung.
__ADS_1
Hanya saja Dara selalu butuh ayam goreng. Itu adalah makanan wajib walaupun kadang dia harus kecewa karena tidak semua restoran menyediakan ayam goreng. Misalnya restoran Prancis, Restoran Italia atau restoran Jepang, juga misalnya warung gado-gado dan restoran khusus bakso dan sate kambing.