Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Tidak Disangka


__ADS_3

Orang-orsng di restoran justru tertarik dengan Galang yang saat itu hanya diam saja. Tidak ada respon apapun tentang Josh yang merasa khawatir. Dari sekian banyak orang di restoran, semuanya memperhatikan Galang yang asyik memainkan ponselnya.


"Menurut seorang nenek tua dari keluarga Lasa, sebenarnya peperangan ini akan kita menangkan jika Raja Naga Kesepuluh sudah datang. Namun belum diketahui kapan Raja Naga Kesepuluh akan datang. Sementara Nona Diana tidak ingin berharap banyak soal Raja Naga. Sebagai Panglima Perang melawan makhluk siluman, Nona Diana akan terus melawan. Menurut kabar, hanya Nona Diana yang bisa membuat makhluk siluman menjadi lemah. Namun, karena dia hanya sendiri, maka tidak mungkin dia maju sendiri."


"Kalau Raja Naga tidak juga datang, maka akan makin banyak korban dari pihak kita. Iru yang selalu dikhawatirkan oleh Nona Diana selaku Panglima Perang. Jika melawan manusia, Tentu saja itu tidak masalah, namun ini yang dilawan adalah siluman." Terdengar reporter berita membacakan berita dari medan perang.


Orang-orang di restoran tentu saja langsung menyimak berita dan mulai berbicara satu dengan lainnya. Kini fokus mereka pada berita di televisi. Soal David dan Anton sudah tenggelam oleh berita terbaru dari medan perang.


Matahari sudah tenggelam. Galang dan lainnya sedang menikmati makanan mereka.


"Perang sudah berakhir untuk hari ini, dan pasukan Nona Diana berhasil memenangkan peperangan untuk hari ini. Korban jiwa dari pihak musuh sebanyak tujuh ribu jiwa lebih dan sisanya luka berat dan luka ringan saja. Musuh masih tersisa sekitar tiga ribuan prajurit.


Sedangkan pasukan kita ada korban jiwa sebanyak seratus prajurit, dua ratusan prajut luka-luka. Sementara, korban luka sudah dirawat oleh dokter dan perawat dari militer dan dokter dan perawat sukarawan dari berbagai daerah juga dari pemerintah." Berita di televisi menampilkan perang telah usai. Para prajurit sedang berjalan kembali ke kemahnya masing-masing.


Para pengunjung restoran pun bersorak kegirangan.


"Aku akan mentraktir kalian semua. Hari ini, siapapun yang makan, aku akan membayarnya. Kalian boleh makan apa saja!" Teriak seoran wanita berumur empat puluh lima tahun yang saat itu sedang berdiri. Wanita itu terlihat cukup cantik.


Mendengar itu, orang-orang pun sangat senang. Mereka tidak perlu membayar makanan mereka karena wanita itu yang mentraktir. Ada yang nambah makan, dan ada menambah minumanya.


"Nyonya, kamu terlihat senang, ada apa sebenarnya?" celetuk seorang pria berumur empat puluhan.


"Kalian tahu? Suamiku adalah seorang jenderal bawahan Nona Diana. Namanya adalah Jenderal Timothy. Dia dekat dengan Nona Diana dan kata suamiku, Nona Diana mempercayainya sebagai pemimpin para pemimpin pasukan. Aku sangat senang karena hari ini kita menang. Jadi kalian aku traktir. Aku dari provinsi Timur, sengaja datang ke provinsi selatan ini untuk memberi semangat suamiku. Aku datang bersama kedua anakku dan juga mertuaku." Jawab wanita itu.


"Wah, ternyata Anda istri seorang jenderal perang dan dekat dengan Nona Diana. Hebat sekali, pasti bagi orang-orang seperti kami sangat susah bisa menemui Nona Diana, tapi suamimu justru orang kepercayaan Nona Diana yang hebat itu?" Tanya orang lainnya.


Wanita itu sangat senang dipuji. Dia sungguh tidak menyangka bahwa orang-orang bakal memujinya.


Tiba-tiba Kakek Li berdiri, "Hei Nyonya! Kamu tidak tahu rupanya? Nona Diana adalah adiknya Tuan Muda ini! Dia datang kemari untuk membantu Nona Diana mengalahkan monnster-monster itu!" Teriak Kakek Li.


"Benar, aku adalah Guru Galuh dari Gunung Mer. Tuan Muda Galang adalah kakak dari Nona Diana yang hebat itu." Memyahut Guru Galuh.


"Apa? Jadi Anda Guru Galuh yang terkenal itu? Bagaimana bisa Anda mengenal kakaknya Nona Diana?" Tanya seseorang.

__ADS_1


"Tuan Muda Galang adalah Tuanku. Dia yang akan membasmi siluman-siluman itu bersama Nona Diana!" Jawab Guru Galuh dengan suara keras.


"Tuan Muda Galang adalah..... Ah!" Suara Kakek Li tertahan. Dia tidak bisa meneruskan ucapannya karena Galang sudah mencubit tangannya.


"Kami sudah selesai makan, kami akan melanjutkan perjalanan. Nyonya, Anda sungguh baik hati. Terimakasih atas traktiranmu hari ini, jika bertemu di lain waktu, aku akan membalasmu!" Kata Galang yang saat itu sudah berdiri.


"Memgenai Nona Diana, dia adalah adikku. Dan aku memang akan ke sana membantunya!" Kata Galang yang membuat lrang-orang terpana. Tidak disangka, ternyata mereka akan bertemu dengan seorang kakak dari Panglima Perang yang hebat. Adiknya saja sangat hebat, apalagi kakaknya? Pikir mereka.


"Tuan Muda, bolehkan kami ikut bersamamu? Kami juga akan pergi ke sana!" Kata wanita istri Jenderal Timothy.


"Nyonya, sebaiknya kamu di kota saja. Itu adalah medan perang. Jadi sangat tidak aman untuk Nyonya. Juga para penjaga perbatasan medan perang pasti tidak akan mengizinkanmu masuk." Jawab Galang.


"Baiklah, tolong sampaikan salamku untuk suamiku dan Nona Diana." Jawab wanita itu setengah kecewa. Namun yang dikatakan Galang ada benarnya. Tidak semua orang boleh ke sana kalau bukan prajurit.


Galang lalu segera pergi dari sana. Orang-orang di restoran baru sadar setelah Galang pergi. Mereka lalu mulai membicarakan Galang. Rasa menyesal karena tidak sempat mengenalnya menyelimuti mereka. Namun, itu sudah terlambat. Seandainya saja bisa memotret Galang, tentu mereka akan sangat bangga. Apalagi jika mereka tahu bahwa Galang adalah Raja Naga Kesepuluh.


*******


"Ya, Sayang?" Jawab Diana.


Dara berlari kecil ke arah Diana dan memeluknya. Dara masih saja memakai pakaian prajurit yang diberikan oleh pemuda berambut panjang. Saat Diana pulang, Dara masih tidur, Diana masuk dan menciumnya lalu keluar lagi.


Karmen dan Rangga berdiri di belakang Diana duduk. Sementara Anton duduk tak jauh dari Diana.


"Karmen, bagaimana dengan Paman David?" Tanya Diana.


"Paman David masih di rawat di tenda rumah sakit. Tadi Bibi Mei, Cintya, Er dan Bibi Arumi sudah di sana. Kata dokter, besok Paman David tidak boleh ikut ke medan perang. Karena perawatan pahanya telat. Harusnya ketika baru terluka Paman David segera dibawa ke rumah sakit dan diobati. Paman David tadi tidak mau mendengarkan perkataan dokter. Tapi, ketika Bibi Mei melarang, Paman David baru mau mendengarkan." Jawab Karmen yang tadi mengantar David ke rumah sakit darurat.


Diana tersenyum mendengar penjelasan Karmen. Dia teringat kejadian siang tadi ketika Anton dan David seperti anak kecil saling ledek.


"Baiklah! Biarkan Paman David beristirahat." Kata Diana.


"Nona, pasukan meriam dan pasukan senapan otomatis sudah siap." Kata Jenderal Joshua melapor.

__ADS_1


"Baik Jenderal. Besok pagi, aku dan kakakku akan mendatangi makhluk siluman dulu untuk menantang duel aatu lawan satu. Yang kalah harus menyerah." Jawab Diana.


"Tapi, Nona?" Jenderal Joshua merasa khawatir. Para jenderal lainnya juga memiliki pemikiran yang sama.


Mereka melihat ke arah Rangga. Mereka mengira Rangga adalah kakak dari Diana.


"Bukan dia, tapi orangnya masih dalam perjalanan kemari. Mungkin sebentar lagi akan sampai di sini." Kata Diana memberitahu. Para jenderal menjadi penasaran.


"Jenderal Timothy!" Panggil Diana.


"Ya, Nona!" Jawabnya.


"Apakah ada laporan dari mata-mata?" Tanya Diana.


"Iya, Nona. Mata-mata melaporkan bahwa mereka sedang meributkan kekalahan hari ini. Pemimpin perang yang baru datang yang bernama Alimun, dia menyebut-nyebut nama Junitl dan menyakahkannya. Itu saja Nona." Jenderal Timothy melaporkan.


Diana pun berpikir. Dia mulai menerka-nerka soal pasukan yang baru saja dikalahkan. Berarti ada orang yang memanfaatkan perang ini untuk mencari keuntungan.


"Baiklah Jenderal, aku sudah mengerti. Aku akan mengurus ini setelah perang usai." Kata Diana kemudian.


"Jenderal Alfonso, Perintahkan pada Kak Lung untuk membawa seratus orang menyisir perkemahan. Jangan sampai kita kecolongan. Juga perintahkan pada mereka agar terus menyisir perkemahan tiap satu jam." Perintah Diana.


"Baik, Nona!" Jawab Jenderal Alfonso.


Diana masih berpikir orang bernama Junito. Dia yakin orang itu ada di Kota M.


"Inspektur Herman, minta Kapten Herry untuk menyelidiki orang bernama Junito. Hanya cari tahu alamat dan tempatnya bekerja. Jangan bertindak sebelum aku memintanya!" Perintah Diana pada Inspektur Herman.


"Segera, Nona!" Jawab Herman.


"Baik, kalian boleh kembali ke kemah masing-masing!" Kata Diana kemudian.


Para Jenderal pun meninggalkan kemah Diana dan segera melakasanakan apa yang diperintahkan Diana.

__ADS_1


__ADS_2