
Kepergian Melisa dan lainnya membuat suasana hati Diana menjadi tenang. dia kini kembali bermain bersama Dara. Dara yang tadinya ketakutan kini sudah tenang kembali. Karmen dan Rangga pun kini sedang menggoda Dara dan mereka tertawa-tawa.
Sementara Dara sedang sibuk dengan es krimnya yang menurutnya sangat enak. Anak-anak memang suka sekali makanan yang aneh. Dara juga heran, kenapa di dunia ini ada makanan aneh yang enak? Misalnya es krim, dia dingin, manis dan ada asin-asinnya. Tapi sangat enak. Lalu ayam goreng, yang walaupun berbeda dengan es krim, juga sangat lezat dan dia sangat menyukainya.
Tapi, Dara juga sangat menyukai sup sayuran, terutama sup daun bayam. Dia bahkan suka sekali meminum airnya. Itu terasa sangat lezatĀ sekali. Selain itu, dia juga minum susu yang kata ayahnya harus. Walau dia tidak tahu kenapa itu harus, Dara juga menyukainnya. Buktinya, kletika dia haus, dia akan mengatakan, "Mik cucu."
Sementara itu Melisa yang diusir oleh Rangga kini sedang duduk-duduk di sebuah pondok bambu lainnya agak jauh dari tempat di mana Dara dan lainnya. Dia tampak sedang mengobrol dengan ibunya dan juga pemuda itu.
Saat itu sebuah truk datang. Menurunkan sebuah kain yang digulung. Tampaknya akan dipasanga sebuah sepanduk raksasa di alun-alun. Semua orang pun memperhatikan. Ya, tiang-tiang sepanduk memang sudah ada di sana, tinggal menunggu sepanduk untuk diipasang.
Puluhan pekerja dengan cepat bergerak untuk menaikkan sepanduk raksasa itu ke tiang yang sudah ada. Bahkan Sanjaya pun ada di sana saat proses pemasangan sepanduk. Dia iingin sepanduk itu terpasang dengan sempurna.
Setelah satu jam, akhirnya sepanduk itu pun sudah terpasang dengan baik di tiang. Sepanduk itu di bagian paling atas tertulis, "PARA PAHLAWAN"
Di bawah tulisan itu, ada foto enam orang. Di paling tengan adalah seorang pemuda tampan denagn rambut agak sedikit gondrong. Di sebelah kiri kanannya, dua orang gadis catntik, di sebelah kanan-kiri gadfis-gadis, ada seorang pemuda yang juga tampan dan seorang yang sudah berumur limapuluhan.
Dan di bagian paling depan, seorang anak klecil berdiri sambil tersenyum. Di tangannya sedang memegang sebuah paha ayam goreng. Gadis kecil itu adalah Dara. Dan foto-foto orang dewasa itu adalah Anton, Karmen, Galang, Diana dan Rangga.
Diana yang berada bersama Dara lalu memberitsahu Dara fotonya ada di sepanduk. Dara tampak senang dengan foto di sepanduk itu. Kini dia malah teringat soal ayam goreng.
Sementara di tempat lain, Melisa yang melihat sepanduk itu memperhatikan dengan jelas. Di sana jelas-jelas dia melihat, foto gadis yang satu lagi adalah Diana. melisa dan ibunya terkejut bukan main.
"Apa-apaan Diana ada dalam sepanduk itu itu, ibu?" Kata Melisa sambil menyandarkan tubuhnya.
"Tanya saja pada ayahmu. Apakah itu memang Diana atau orang lain yang mirip dengannya? Tapi ibu lihat tadi dua orang dan gadis kecil itu bersamanya." Ibunya berusaha menenangkan diri dan menganalisa.
Tapi mereka berdua jelas melihat Raja Kota Pul;au sendiri yang mengawasi pemasangn sepanduknya. Dan tentu saja itu buklan sebuah kesalahan cetak. Kedua orang ibu dan anak merasa kesal dengan adanya foto Diana yang disebut pahlawan di tulisan bagian atas.
"Tapi Diana kan hanya pengasuh saja, kenapa harus fotonya ikut di pasang?" Tanya Melisa masih dengan kesal dan nadanya jelas tidak bisa terima.
"Lihat, itu ayahmu, kamu bisa tanyakan pada ayahmu!" Kata Merry saat melihat suaminya sedang bersama Sanjaya.
__ADS_1
"Tidak mau! Namti ayah malah marah. Apalagi saat ini ayah sedang bersama Tuan." Lalu Melisa menghempaskan tubuhnya karena kesal.
Dia juga melihat pemuda itu tidak berdaya dilempar oleh Rangga. Kalau bukan karena dia anak orang kaya, mana mungkin dia sekarang mau bersamanya.
Di tempat lain, Sanjaya tampak sedang memandangi sepanduk yang sudah terpasang dengan megah. Ada kebanggaan tersendiri dengan berdirinya sepanduk itu.
"Tuan Besar, aku telah memenuhi keinginanmu. Tuan Muda sufah aku temukan dan aku sudah merasa lega. Tuan Besar, Semoga Anda juga senang di sana." Gumam Sanjaya. Dia tersenyum sambil memandangi foto Galang dan Dara.
"Tuan Muda begitu mirip dengan Tuan Besar saat muda. Ah, Tuan Besar, seandainya Anda ada di sini bersama Nyonya, tentu Anda berdua akan sangat bahagia." Sanjaya terus saja memandangi sepanduk.
Sanjaya tentu saja sangat kehilangan Tuan Besarnya. Dulu saat muda, Sanjaya tinggal di jalanan. Ketika suatu hari dia sedang duduk di taman kota di Ibukota, Tuan Besar juga berada di sana.
"Apa kamu sudah makan?" Tanya Tuan Besar.
Ditanya begitu, Sanjaya muda yang memang lapar lalu menggeleng. Tuan Besar memberinya uang untuk membeli dua bungkus makanan. Seketika Sanjaya pergi dan membeli dua bungkus makanan.
Setelah kembali, Sanjaya terkejut, ternyata Tuan Besar juga ikut makan bersamanya. Lalu, Sanjaya ditawari untuk bersekolah. Sanjaya pun langsung mau.
Sampai suatu kali, dia dipanggil oleh Tuan Besar. Diberikan sebuah kartu bank dengan jumlah sangat besar dan berpesan agar dia mengembangkan bisnis sampai Tuan Muda menjadi dewasa.
"Ahh..." Sanjaya tiba-tiba jatuh terduduk. Orang-orang yang bersamanya kaget.
"Tuan!" Dengan cepat menolong Sanjaya.
"Aku tidak apa-apa. Berikan saja aku kursi dan payungi aku." Pintanya. Lalu diambilnya kursi dan payung. Sanjaya masih duduk di sana, memandangi foto dalam sepanduk hingga sore hari.
"Tuan Anton, dia masih sama seperti dulu." Gumamnya.
******
Setelah dari rumah sakit,,Anton mengajak galang mengunjungi sebuah danau diantar oleh sopir keluarga Sanjaya. Anton masih ingat dia pernah memiliki teman yang berada di sini. Namun dia belum yakin apakah teman itu benar-benar ada di sini atau di pulau lain.
__ADS_1
"Apa Paman yakin orangnya tinggal di sini?" Tanya Galang setelah mereka sampai di sebuah danau yang saat itu cukup ramai.
"Bagaimana Paman tahu? Dia hanya bilang kalau dia tinggal di pinggiran danau di sebuah pulau. Tentu saja di sini ada banyak pulau, dan ini hanya salah satunya." Jawab Anton.
"Dia dulu pernah menolong paman saat masih di ibukota. Tapi setelah itu tidak pernah bertemu lagi. Sudah puluhan tahun. Mungkin sudah seusiamu kami tidak bertemu." Kata Anton lagi.
"Tuan, tidak jauh dari danau ini ada sebuah goa, di sana tinggal orang aneh. Kata orang-orang, tidak ada yang berani ke sana. Bahkan Tuan Raja Kota Pulau saja belum pernah ke sana." Sopir yang mendengarkan percakapan itu kemudian membuka suara.
Mendengar perkataan sopir, mata Anton berbinar. Orang yang dulu menoolongnya memang aneh. Bahkan dia tidak memberitahu namanya. Saat berpisah, dia hanya mengatakan bahwa dia tinggal di dekat danau di sebuah pulau.
"Bawa kami ke sana!" Pinta Anton pada sopir.
"Baik, Tuan!" Jawab sopir. Lali mobilpun melaju kembali untuk menuju goa yang dimaksud..
Selang beberapa menit, akhirnya sopir menghentikan mobilnya dan menunjuk ke sebuah bukit kecil yang ditumbuhi berbagai kayu liar.
Anton dan Galang saling pandang. Mereka tidak melihat adanya goa di sana.
"Mari saya antar,, Tuan-Tuan." Lalu sopir turun dari mobil dan berjalan ke arah bukit kecil diikuti oleh Anton dan Galang.
Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, Sopir itu berhenti tepat di sebuah sungai dengan air yang jernih. Sungai itu hanya kecil, namunairnya terus mengalir tanpa habis.
"Jika kita berjalan ke arah hulu sungai, nanti kita akan bertemu dengan air terjun kecil. Nah di situlah mulut goanya, Tuan." Kata sopir lagi.
"Baiklah, kamu kembalilah ke mobil. Tunggu sampai kami kembali." Kata Anton menyuruh sopir untuk menunggu di mobil.
"Tapi, Tuan?" Sopir merasa tidak tenang meninggalkan mereka berdua.
"Pergilah!" Galang yang memerintahkan.
"Baiklah, Tuan Muda." Akhirnya sopir pun pergi dan kembali ke mobil. Menunggu Anton dan Galang sampai kembali.
__ADS_1