Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Pemuda Rambut Panjang


__ADS_3

Galang sudah sampai di pos penjagaan perkemahan prajurit. Namun, dia memilih untuk tidak masuk dan menginap di salah satu tenda penjaga.


Galang menerima pesan agar tidak masuk ke perkemahan prajurit terlebih dahulu karena ada yang mau menemuinya.


Akhirnya, Galang, Kakek Li dan Josh dibuatkan tenda oleh prajurit atas perinntah dari Guru Galuh.


Saat itu masih sekitar jam tujuh malam, Galang, Kakek Li dan Josh sedang berada di luar tenda dan mengobrol dengan beberapa prajurit penjaga. Mereka sedang menceritakan tentang Diana. Mulai dari saat menyelamatkan gubernur hingga hari ini.


Mereka mengobrol sambil minum teh. Ada sekitar lima prajurit yang tampak sangat bersemangat bersahut-sahutan menceritakan kepahlawanan Diana.


"Mungkin di dunia ini tidak ada lagi orang yang sangat kuat dan hebat seperti Nona Diana. Menurutku, Nona Diana itu pantas mendapatkan hadiah besar dari negara." Kata salah seorqng prajurit. Lalu mengambil gelas yang berisi teh, mrminumnya dan meletakkannya kembali di meja.


"Bukan hanya itu, Nona Diana seharusnya mendapatkan medali kehormatan tertinggi dari presiden. Bahkan, kalau bisa, Nona Diana mendapat gelar kehormatan." Celetuk lainnya.


"Apakah itu tidak berlebihan?" Tanya Galang.


"Tentu saja tidak! Nona Diana pantas mendapatkannya." Jawab seorang lainnya.


"Mungkin saja Nona Diana tidak mau." Galang asal bicara.


"Wah, kalau tidak mau, berarti Nona Diana memang tidak materialistis. Apalagi aku dengar, untuk perang ini saja Nona Diana menyumbang satu triliun. Benar-benar gadis yang murah hati." Jawab lainnya lagi.


"Oh iya, katanya kakak dari Nona Diana akan datang kemari dan membantunya. Beritanya sudah tersebar. Tadi aku mendapat informasi, katanya kakaknya Nona Diana sudah berada di Kota M dan sedang menuju kemari. Pasti kakaknya juga sangat hebat." Yang lain bicara.


"Dasar bodoh, Nona Diana saja sangat hebat, apalagi kakaknya." Yang lain lagi menanggapi.


Galang, Kakek Li dan Josh hanya tertawa melihat prajurit-prajurit itu mengolok prajurit lainnya.


"Bagaimana jika aku menantang Nona Diana bertarung?" Tanya Galang tiba-tiba.


Para prajurit metap Galang dengan pandangan sinis.


"Hahahahaha! Kamu? Melawan Nona Diana? Kamu bertemu Nona Diana saja sudah terkencing-kencing, apalagi sampai menghadapinya. Hahahahahaha." Jawab seorang prajurit, lalu tertawa diiluti tawa prajurit lainnya.


Galang ikut tertawa. Dia yakin, Diana memang sangat dihormati dan disegani. Terbukti, tidak ada yang berani bicara buruk tentang Diana. Bahkan para prajurit justru malah banyak memuji.

__ADS_1


Saat itu, sebuah mobil dari arah perkemahan berhenti di pos jaga, para prajurit penjaga sudah tahu siapa orang yang datang, jadi mereka membiarkan orang itu langsung ke ke kemah.


Seorang pemuda tampan berambut panjang berjalan ke arah di mana Galang dan lainnya sedang mengobrol. Di tangannya, dia menenteng sebhah tas yabg cukup besar.


Ketika sampai di hadapan Galang, pemuda itu berlutut dan memberi hormat.


"Tuan El, Anda? Kenapa Anda berlutut?" Tanya salah seorang prajurit.


Pemuda itu tidak menjawab, namun malah fokus ke arah Galang.


"Tuan, aku adalah El, pengawal Anda di masa lalu, aku ingin menyampaikan, adik Anda, Nona Diana sudah tahu Anda akan datang dan akan membantunya. Jadi aku membawakan pakaian perang kebesaranmu untuk Anda pakai esok hari untuk mengakahkan makhluk-makhluk siluman itu." Kata El.


"Apa? Jadi Anda adalah kakak Nona Diana?" Tanya seorang prajurit terkejut dan ikut berlutut seperti yang dilakukan El. Lalu prajurit yang lain juga ikut berlutut.


"Bangunlah kalian semua. Duduklah di kursi. Jangan membuatku tidak nyaman. El, apakah aku memgenalmu?" Tanya Galang pada El.


El menggelengkan kepala. "Anda tidak mengenalku, tapi aku mengenal Anda dan Nona Diana. Aku mengetahui semua keluarga Anda, karena aku adalah pengawal masa laku Anda yang diutuams untuk memgawal semua keturunan Raja Naga Kesembilan." Jawab El.


Para prajurit tentu saja tidak memahami apa yang diucapkan oleh El.


El tidak mempedulikannya. Dia segera membuka tas. Di dslam tas ada sebuah peti yang berukuran besar. Lalu, dia membuka peti itu dan isinya adalah sebuah pakaian seperti pakaian raja. Ada baju berlapis emas sebagai ganti baju besi.


Kemudian, di situ juga ada sebuah mahkota kecil yang terbuat dari emas. Tampak ada sebuah permata berwarna merah di mahkota itu.


"Ini adalah pakaian Anda. Anda akan memakainya besok. Nona Diana sudah mendapatkan pakaiannya. Kini giliran Anda." Kata El. Setelah itu, dia pergi dari sana.


"Lang,.pemuda.itu aneh sekali? Kenapa dia datang dan pergi tiba-tiba? Apa maksud dari ucapannya?" Tanya Josh.


"Sudahlah jangan dipikirkan." Jawab Galang.


********


Tenda Besar Diana


"Diana, Bisakah Bibi minta tolong?" Tanya Bibi Mei.

__ADS_1


"Iya, Bibi Mei, apa yang bisa aku bantu?"


"Perintahkan pamanmu agat tidak ikut turun besok. Dokter sudah melarangnya. waktu tadi di rumah sakit, katanya dia tidak akan turun. Tapi barusan Pamanmu malah memaksa besok turun." Kata Bibi Mei.


"Bibi tenang saja. Paman pasti tidak akan turun besok. Tapi Bibi juga harus menjaganya jangan sampai nanti keluar tenda tanpa sepengetahuan Bibi." Kata Diana sambil tersenyum.


"Iya, aku pasti akan menjaganya,. Diana." Jawab Bibi Mei.


"Diana, bolehkah aku dan Er tidur di tendamu malam ini?" Tanya Cintya tiba-tiba.


"Boleh. Nanti Anita akan mengaturnya."


"Anita!" Panggil Diana.


"Nona?" Jawab Anita.


"Pergi ke gudang dan minta mereka antarkan dua kasur kemari. Cintya dan Er mau tidur bersama kita." Kata Diana.


"Baik, Nona!" Jawab Anita. Lalu di segera berjalan keluar tenda. Namun, ada suqra kecil yang memanggilnya.


"Bibi! Ikut!" Itu suara Dara. Diapun berlari ke arah Anita yang saat itu berhenti dan menunggunya. Lalu mereka berdua langsunv pergi dan dikawal oleh empat orang prajurit.


"Bibi, kenapa kalian ikut kemari? Seharusnya kalian di Kota S daja. Aku sudah membeli dua rumah untuk Bibi dan Bibi Arumi. Orang-orangku bisa mengantar Bibi ke sana." Kata Diana.


"Kamu baik sekali, tapi Bibi tidak tenang jika pamanmu pergi sendiri. Bibi selalu khawatir. Kamu lihat sendiri. Pamanmu itu sudah lama pensiun, dan baru sekarang melakukan pertarungan. Dia memang ceroboh tidak seperti Pamanmu Anton. Makanya Bibi khawatir, Diana." Jawab Mei.


"Sebenarnya aku hanya ingin kaliankemari tetapi tidak perlu turun langsung. Aku hanya ingin Paman David membawa delapan anak buahnya ke Kota S lalu memulangkannya ke Pulau Bintang." Diana agak menyesal dengan dia meminta David datang.


"Itu bukan salahmu, Diana. Itu karena pamanmu saja yang ceroboh." Kata Bibi Mei.


"Jenderal Joshua dan Inspektur Herman tiba!" teriak penjaga.


"Salam, Nona! Salam Nyonya berdua!" Kata Joshua dan Herman bersamaan.


"Duduklah!" Kata Diana.

__ADS_1


__ADS_2