
Saat itu hari sudah pagi, Rangga memutar mobilnya untuk kemudian menuju jalan yang mengarah ke hotel. Galang masih saja memamdang ke luar jendela mobil.
"Aku heran, secepat itu Ken palsu membuat spanduk?" Tanya Galang yang pada dirinya sendiri.
"Mungkin dia punya percetakan." Rangga menjawab sambil tersenyum berkelakar.
"Hmmmm..."
Mata Galang tertuju pada seorang laki-laki bule yang memegang sebuah kertas karton yang lumayan besar berwarna putih. Dalam kertas itu ada tulisan, Rangga tidak melambatkan mobilnya hingga membuat Galang sampai memutar kepalanya.
Galang sempat membaca tulisan dalam kertas itu, "Help Me!"
"Berhenti!" Teriak Galang.
"Ada apa?" Tanya Rangga. Kemudian dia menepi dan ada larangan parkir.
"Turunkan aku di sini dan kamu putarlah kembali. dan berhenti di belakang sana!" Pinta Galang.
"Ada apa?" Tanya Rangga lagi.
"Lakukan saja, nanti kamu akan tahu." Jawab Galang, lalu dia segera turun dan berjalan ke belakang. Rangga melajukan mobilnya dan mencari jalan untuk berputar..
Galang telah sampai di tempat pria bule yang meminta tolong. Galang hanya penasaran. Ada apa sebenarnya dwngan pria itu?
"Ada yang bisa dibantu?" Tanya Galang pada pria itu.
"Bisakah Anda menolongku? Aku telah datang jauh dari Rusia, tapi, semuanya hilang karena dirampok. Mereka bilang mereka adalah anak buah Ken." Jawab pria itu.
"Aku bisa bantu apa?" Tanya Galang lagi.
"Namaku Jack. Aku hanya ingin meminjam uang untuk kembali ke negaraku. Aku akan mengembalikannya padamu jika aku sudah sampai di negaraku. Aku adalah seorang pengusaha. Apakah kamu bisa percaya aku? Rata-rata mereka tidak mempercayai aku. Dan aku tidak bisa memaksa." Jack menarik nafas.
"Orang-orang yang pernah sepertiku biasanya memang ujungnya menipu. Jadi aku juga tidak memaksa orang untuk mempercayai aku." Kata Jack.
__ADS_1
"Aku akan membelikanmu tiket pesawat, apakah identitas dan paspormu masih ada?" Tanya Galang.
"Ada, kebetulan hanya itu yang tersisa." Jawab Jack mulai bersemangat.
"Tunggu temanku sampai sini, aku akan mengantarmu." Lalu mereka menunggu Rangga sampai di situ.
Beberapa saat kemudian, mereka pun pergi ke bandara mengantarkan Jack.
Di dalam mobil, Jack memberikan sebuah kartu nama pada Galang. Galang menerima dan menyimpannya.
"Aku sangat berterimakasih padamu. Ketika aku sampai di negaraku, aku akan mengembalikannya padamu. Jadi berikan aku akun bankmu." Kata Jack setelah memberikan kartu nama pada Galang.
"Tidak perlu, kita harus saling tolong menolong." Jawab Galang.
Jack tidak percaya ada orang sebaik ini di dunia. Bahkan, uang yang akan dia pakai sangat banyak, tapi Galang sama sekali tidak perhitungan?
Mereka pun akhirnya sampai di bandara dan membeli tiket vip ke Rusia. Awalnya Jack hanya meminta tiket ekonomi saja, namun Galang membelikannya tiket vip. Galang juga memberikan uang kepada Jack jika mungkin dibutuhkan di nanti.
"Aku sangat berterimakasih padamu. Aku berjanji, jika suatu saat kamu membutuhkan aku, bahkan jika kamu meminta seluruh hartaku, maka aku akan memberikannya padamu." Jack berkata dengan mata berkaca-kaca.
"Tunggu! Apakah kamu yang akan bertempur melawan Tuan Ken?" Tanya Jack menghentikan langkah Galang.
Galang menoleh dan tersenyum. "Bisa jadi seperti itu, Jack." Lalu Galang pergi meninggalkan Jack yang terus memandangi punggung Galang dan Galang menghilang di balik pintu.
Jack melihat bahwa di dunia ini ternyata masih ada orang yang baik hati dan mau berkorban untuk orang lain.
"Aku berharap kita bisa bertemu lagi, sobat." Jack bergumam.
Akhirnya dia pulang ke negaranya setelah dibantu oleh Galang. Jack berjanji, Galang akan menjadi saudaranya seumur hidupnya. Namun, dia tidak tahu bahwa Galang sebenarnya juga orang asing di Malaka.
******
"Ayah, apakah Ayah tahu, Galang yang menyelamatkan Ayah? Dia adalah putra dari Tuan Bintang yang pernah menyelamatkan ayah di perairan dekat pulau Bintang yang pernah ayah ceritakan padaku." Liano membuka percakapan dengan ayahnya.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak bilang padaku tadi malam?" Tanya Ken.
"Aku pikir karena ayah baru saja pulang, maka aku belum berani bicara. Ayah, sebelum Galang pergi dari rumah di mana ayah dan Nona Elena disekap, Galang menulis surat tantangan untuk berduel sampai mati dengan Bai Lang. Aku berharap Galang menang melawannya." Liano menatap langit-langit.
"Galang juga sudah menyelamatkan aku dan Naomi dari tangan Bai Lang. Jika bukan karena Galang menyelamatkan kami, kami pasti sudah mati di tangan Bai Lang."
"Anak dan ayah sama-sama pahlawan. Mereka adalah dewa penolong bagi keluarga kita. Dulu ayah diselamatkan oleh Bintang, sekarang kalian dan juga ayah. Ayah bersumpah, jika Bai Lang mati di tangan Galang, dan jika nanti kekayaan ayah kembali, maka 70 persen harta yang ayah punya adalah milik Galang. Dan kamu, semua keluarga tidak ada yang boleh protes atau menghalangi." Kata Ken.
"Ayah, aku sangat setuju, perjuangan Galang sangat besar untuk keluarga kita. Dan lagi ayah, ayahnya Galang sudah meninggal dibunuh." Kata Liano.
"Apa?" Ken kaget dan merebahkan tubuhnya di sandaran sofa.
Ada penyesalan di hati Ken. Dia tidak pernah lagi bertemu setelah pertama kali pertemuan di laut dan di Pulau Bintang. Bintang adalah penolongnya waktu itu. Jika bukan karena Bintang, ayahnya Galang, Ken sudah tidak ada di dunia lagi.
Ketika mendengar Bintang sudah meninggal tentu membuat Ken terkejut.
"Liano, Naomi, jadilah kamu seperti Galang yang hebat. Ayah berharap kelak kalian berdua menjadi orang hebat yang akan dikenang orang sepanjang hidup kalian." Nasihat Ken pada Liano dan Naomi.
******
Siang itu Galang nampak duduk santai di taman hotel. Ada pemandangan yang tak biasa dari sebelumnya. Banyak orang yang berkerumun dan berkelompok.
Galang jelas mendengar berbagai percakapam. Ya, percakapan mereka seputar tantangan Galang. Seperti sebuah berita yang sedang hangat-hangatnya, viral dan tentu saja ada bumbu-bumbu yang sangat sedap.
Orang-orang begitu antusias membicarakan itu seolah tidak ada pembicaraan lain yang juga sama penting.
"Kamu tahu? Menurut orang-orang, penantang Tuan Ken orangnya masih muda. Bagaimana bisa dia mengalahkan Tuan Ken yang hebat itu?" Kata salah zeorang.
"Katanya Tuan Ken itu tidak bisa mati? Benarkah?" Yang lain bertanya.
"Benar, itu juga yang aku dengar. Jadi Tuan Ken memang tidak bisa mati. Tapi siapa yang tahu? Apakah ada orang yang tidak bisa mati, kalau begitu, Tuhan jelas-jelas tidak adil." Lainnya pun menanggapi.
"Aku menjagokan pemuda itu. Namanya Galang. Semoga bisa mengalahkan Tuan Ken penindas itu." Yang lain lagi lebih beesemangat.
__ADS_1
"Hati-hati kalau bicara, kalau Tuan Ken dengar, tamat riwayatmu."