Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Kudeta


__ADS_3

"Seret dia ke kota!" Teriak Diana.


Saat itu Rangga langsung mengikat kedua tangan Raden Aryo. Menaikkannya ke kuda serta semua pengikutnya fan digiring ke kota.


"Kalian akan mati jika masuk ke dalam kota, prajurit ayahku pasti tidak akan tinggal diam!" Teriak Aryo.


Diana tidak peduli dengan teriakan Aryo, merekapun akhirnya kembali dan melalui jalan sebelumnya untuk memasuki kota.


Dalam keadaan terikat di atas sebuah kuda, Raden Aryo terus saja bicara. Dia bahkan merasa dipermalukan. Sebagai seorwng anak pejabat, dia sangat tidak terima. Diana tidak peduli.


"Aku ingin tahu apa sebebarnya yang terjadi di kota sehingga kami tidak boleh melewatinya dan malah menyuruh kami kemari? Jadi, jangan salahkan kami jika berbuat tidak menyenangkan." Kata Diana.


Sementara itu, di luar gerbang kadipaten, sudah berkumpul sejumlah beaar pasukan. Mereka berkumpul karena berdasar laporan dari penjaga menara yang terdekat dengan rumag pelacuran.


Ketika melihat pasukan itu, Diana hanya tersenyum. Diana mendahului mereka dan segera menemui pasukan itu. Komandan prajurit segera menghampiri Diana.


"Kalian sudah berani kurang ajar di wilayah kami, maka kalian menyatakan perang. Jadi, jangan pernah menyesali apa yang sudsh kalian lakukan!" Kata Komandan prajurit.

__ADS_1


"Kamu membelanya? Kamu ingin perang? Apakah kamu tidak takut jika aku memanggil prajuritku bahkan lebih banyak dari prajurit kalian?" Tanya Diana.


"Dengar! Aku berbuat begini, karena dia berani kurangbajar padaku. Bagaimana kalian bisa membela orang yang begitu menjijikkan?" Lanjut Diana.


"Ucapanmu sudah keterlaluan. Kami tidak bisa mendengarnya lagi!" Teriak Komandan pasukan.


"Sinto! Cepat bunuh mereka semua!" Teriak Aryo dari atas kuda yang semakin dekat.


Tanpa basa-basi lagu, Diana mencabut pedangnya. Lalu dengan kecepatannya, dia sudah mengancam leher komandan pasukan.


Semua prajurit segera menghunus pedang dan bersiap menerima perintah. Sementara Rangga menendang Aryo dari atas kuda dan jatuh tertelungkup di tanah.


"Cepat bawa kami ke kota!" Teriak Diana.


"Kalian dengar itu!" Teriak Sinto sang komandan pasukan.


Para prajurit segera membuka jalan. Diana memerintahkan kusir untuk berangkat terlebih dahulu. Sementara di bawah ancaman pedang Diana, Sinto menaiki kudan dan berjalan di belakang kereta. Semntara Ryo sendiri justru berjalan kaki, dipaksa oleh Rangga.

__ADS_1


Rombongan besar itu akhirnya sampai di pendopo kadipaten.


"Cepat suruh keluar adipati kalian!" Teriak Diana. Semua orang saling pandang. Sinto memandang ke arah Aryo yang saat itu juga melihat ke arahnya.


"Kamu! Turun!" Kata Diana pada Sinto. Sinto turun dari kuda diikuti Diana. Lalu meminta Sinto untuk masuk ke dalam.


Mereka pun berjalan masuk. Saat itulah, ada sekutar sepuluh orang yang keluar membawa seorang lelaki tua berumur limapuluh tahun, seorang perempuan paruh baya, seorang pemuda dan seorang gadis berusia dua puluh lima tahunan.


"Jangan-coba-coba mendekat jika tidak ingin kami membunuh adipati dan keluarganya!" Teriak salah seorsng pria yang sedang mengancam keluarga adipati.


"Oh! Ternyata firasatku benar! Kalian semua bersekongkol menggulingkan adipati?" Diana tersenyum sinis.


"Jadi, dia siapa sebenarnya?" Tanya Diana sambil.menunjuk pada Raden Aryo Gumilar.


"Dia bukan anakku! Dia adalah keponakanku. Dia sudah membunuh banyak prang dan malam ini aku tahu, dia melakukan kudeta!" Yang menjawab adalah pria yang saat ini diancam oleh puluhan orang itu.


"Aku tahu!" Seru Diana.

__ADS_1


Kemudian, Diana segera bertindak. Tiba-tiba puluhan orang itu berteriak sambil memegangi leher mereka. Dan berikutnya, mereka semua telah mati tertembus senjata rahasia milik Diana.


__ADS_2