Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Menguji Panglima


__ADS_3

Suasana Di timur kerajaan mulai ramai. Banyak prajurit berdatangan dan mulai mendirikan tenda dari kain. Ada trnda khusus bagi raja dan petinggi kerajaan. Raja senndiri ikut turun untuk berperang.


Diana sudah diangkat menjadi panglima perang yang akan membawa mereka maju melawan pasukan dari bangsa asing. Sementara beberapa pangeran masih tidak yakin dengan kemampuan Diana. Apalagi dia tidak pernah tahu kemampuan beladirinya.


Namun, Raja sudah mengumumkan panglima baru ke seluruh penjuru negeri. Hal itu membuat semangat tempur prajurit kembali membara.


Kini di perkemahan, semua prajurit sudah siaga dua puluh empat jam. Dapur umum, bagian medis dan dokter juga telah disiapkan. Semua itu diminta oleh Diana untuk urusan perang.


"Yang Mulia bisa memintaku, tapi, untuk urusan perang, aku tidak akan pernah berkoordinasi dengan Anda. Aku tidak ingin diatur untuk urusan yang menjadi wewenangku. Semua harus tunduk padaku dan aku akan membawakan kemenangan untuk kalian!" Kata Diana saat berada di Balsi Agung.


Raja pun setuju. Walau beberapa pangeran dan petinggi ada yang tidak senang, mereka tidak protes dan patuh. Hanya saja, beberapa orang bersekongkol untuk menguji Diana.


"Diana! Apa kamu tahu ada beberspa pangeran dan petinggi kerajaan yang tidak setuju padamu?" Tanya Rangga.

__ADS_1


Diana menarik nafas lalu tersenyum. "Raja sudah memberi keputusan, apa yang bisa mereka lakukan?"


"Aku kuatir mereka akan mengincarmu karena iri." Sahut Karmen.


"Jika memang posisi ini penting guat mereka, aku sama sekali tidak ambil pusing. Jika raja setuju, mereka boleh memgambilnya. Dan kita akan menjadi prajurit biasa yang membantu mereka. Jika bukan karema nenek dan Tuan El, tenru saja kita tidak akan sampai di sini. Aku heran, apa maksud nenek menyuruhku kemari?" Diana kembali menghela nafas. Kali ini jauh lebih panjang.


"Kita bisa tanyakan nanti kalau bisa kembali. Aku berharap kita tidak mati di sinim kata beberapa prajurit yang aku temui, kuauh terlalu hebat dan banyak ahli beladiri yang hebat." Rangga juga menarik nafas. Lalu dia duduk di sebuah batang kayu yang cukup besar.


Saat itu, Ludira dan beberapa pejabat kerajaan mendatangi Diana. Beberapa orang prajurit pilihan juga ada bersama mereka.


Diana menyadari, mungkin saja mereka sedang mengujinya. Saat itu, Rangga dan Karmen bermaksud menghadapi mereka. Namun Diana mencegahnya. Diana lantas berdiri dan menunggu serangan datang.


Diana mengambil sebuah kayu bulat dengan panjang satu setengah meter. Kayu sebesar jari telunjuk itu dia gunakan untuk senjata walau pedangnya ada di punggungnya.

__ADS_1


Ludira dan beberapa pejabat kerajaan saling pandang melihat Diana hanya menggunakan kayu untuk menghadapi serangan prajurit pilihan.


Diana sama sekali tidak bergerak dari tempatnya berdiri. Sekitar delapan prajurit dengan senjata pedang sudah semakin dekat dan menyerang dengan ganas.


Pedang-pedang itu kini sedang menuju ke beberapa bagian tubuh Diana. Diana tidak bergeser dari tempat, dia hanya berkelit, menangkis dan juga langsung menyerang dengan tongkat kayu. Diana memilih memukul di bagian tubuh prajurit-prajurit yang menyerangnya. Jika memukul kepala percuma, karena mereka memakai helm dari besi.


Dengan gerakan yang sangat cepat, delapan prajurit itu pun berkali-kali dipukuli oleh Diana seperti memukul anjing. Pertarungan itu menarik perhatian prajurit lainnya. Dan mereka pun menonton pertarungan yang tidak seimbang itu. Delapan prajurit itu akhirnya berhenti menyerang setelah mendapat perintah dari Ludira.


"Aku tidak suka mendapat serangan seperti ini. Jika di lain waktu ada yang menyerangku kembali, maka aku akan pastikan menggunakan pedangku dan aku menganggap mereka sebagai musuhku!" Ksta Diana, kemudian dia melempar kayu ke hadapan Ludira dan beberapa pejabat kerajaan.


Wajah Ludira menjadi merah saat itu. Dia merasa malu. "Aku minta maaf, tapi ini memang perintahku untuk mengujimu." Katanya.


"Melatih prajurit untuk menuju medan perang jauh lebih baik, Pangeran! Aku menyarankan itu!" Balas Diana.

__ADS_1


Saat itu, pangeran lainnya telah sampai di sana dan melihat beberapa prajurit yang babak belur karena dipukuli.


__ADS_2