Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Membeli Rumah


__ADS_3

Beberapa hari lalu proses pembelian lahan pemukiman kumuh di mana Diana pernah tinggal telah selesai. Diana ingin memanfaatkan lahan itu untuk membuat sebuah lingkungan yang sehat.


Diana juga akan memanfaatkan orang-orang yang tinggal di sana untuk bekerja nantinya, membuatkan mereka rumah yang layak agar mereka bisa hidup sehat.


Lahan itu banyak dimiliki oleh pengusaha, tanahnya disewakan untuk pembuangan sampah sementara dan lainnya. Totalnya ada sekitar limapuluh hektar. Rencana Diana adalah, dia ingin memanfaatkan lahan itu agar orang bisa bekerja dan hidup layak.


Pesan dari Galang, Diana diminta mencarikan rumah baru untuk Paman David. Jadi hari ini Diana pergi bersama Karmen dan Dara. Mereka naik sepeda listrik untuk pergi ke bagian pemasaran. Diana bersama Dara dan Karmen sendirian.


Seperti biasa, Dara pasti akan minta helm. Mengapa Diana tidak memakai mobil saja? Kebetulan kantor pemasaran penjualan rumah dekat dan hanya beberapa ratus meter saja. Jadi naik sepeda listrik.juga cepat sampai.


Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai. Mereka pun menjadi perhatian, lantaran mengendarai sepeda listrik. Mereka pasti berpikiran bahwa ketiga orang itu sedang iseng saja mau melihat-lihat.


"Maaf di sini bukan tempat bermain, jadi tidak ada tempat. Di sini adalah kantor pemasaran rumah mewah. Silahkan pergi ke tempat lain." Kata salah seorang sales yang adalah seorang wanita tiga puluhan. Dia terlihat cukup cantik dan tentu saja menarik perhatian pengunjung.


"Aku nau melihat-lihat dulu, kalau cocok aku akan membelinya. Bisakah memberikan aku gambaran rumah yang kalian jual?" Kata Diana.


"Maaf, kalau hanya melihat-lihat tentu saja tidak boleh. Karena akan menyita waktu kami. Lebih baik pergi saja. Masih banyak yang perlu kami layani." Kata sales wanita itu.


Seorang pria paruh baya masuk bersama seorang pemuda berumur dua puluh lima tahunan. Keduanya langsung menuju ke sales wanita yang sedang berbicara dengan Diana.


"Niken, apakah masih ada banyak unit yang tersisa?" Tanya pria paruh baya.


"Oh, Tuan Wang, Tuan Muda. Tentu saja. Mari saya antar melihat-lihat dan saya akan menjelaskan pada kalian berdua." Jawab wanita paruh baya yang dipanggil Niken. Lalu tangannya mempersilahkan kedua orang itu untuk berjalan mendahuluinya.


Saat hendak pergi, Niken melihat ke arah Diana, "Cepat pergilah!"

__ADS_1


Diana tidak menanggapinya. Dara mulai paham hal-hal seperti ini. Jika naik sepeda listrik, mereka di suruh pergi, jika naik mobil bersama kakek Jatmiko, mereka tidak diusir. Begitu pikiran Dara.


"Karmen, besok kita beli mobil yang paling mahal." Kata Diana sambil tersenyum.


Karmen tersenyum saat mendengar candaan Diana. Dara malah terlihat senang. Mobilnya akan bertambah banyak. Dan dia bisa memilih mobil. Padahal Diana hanya bercanda.


"Selamat pagi, Nona-Nona. Apa ada yang bisa saya bantu?" Seorang sales perempuan berumur duapuluhan menghampiri mereka. Dari tadi memang dia terlihat tidak mendapat pelangga.


Penampilannya memang kurang menarik. Mungkin saja pelanggan tidak menyukainya. Namun, Diana jelas berbeda dari lainnya. Dia tidak butuh penampilan sales. Yang dia butuhkan, dia mendapatkan rumah yang diinginkannya.


"Aku ingin melihat rumah yang termahal. Bisakah kamu memperlihatkan padaku?" Tanya Diana.


"Oh, iya. Mari saya antar, Nona." Sales langsung mengajak mereka ke ruang di mana Niken dan dua orang tadi masuk.


Benar saja, di sana sedang banyak tamu yang melihat-lihat replika rumah. Niken melihat ke arah Diana, Karmen dan Dara. Tapi sekarang dia sedang memberi penjelasan pada Tuan Wang dan anaknya. Jadi dia tidak sempat menegur Diana. Sementara Diana sama sekali tidak peduli.


Tentu saja ini membuat Niken menjadi jengkel. "Saras, apa maksudmu mengajak orang-orang ini kemari? Aku sedang menjelaskan ini menjadi tidak fokus!" Teriak Niken yang membuat seisi ruangan berpaling ke arah mereka.


"Mereka juga pelanggan, apa salahnya aku melayani mereka?" Kata sales yang dipanggil Saras oleh Niken.


Diana menarik tangan sales itu ke pinggir ruangan. "Berapa harga rumah itu?" Tanya Diana.


"Itu harganya dua puluh lima miliar, Nona. Tapi hari ini ada potongan sebesar sepuluh persen dan ada hadiah mebel cantik dari pabrik terkemuka di Kota J." Jawab Saras.


"Masih ada berapa unit untuk yang tipe itu?" Tanya Diana lagi.

__ADS_1


"Sepertinya masih utuh, Nona. Apakah Nona akan mengambil salah satunya?" Mata Saras berbinar. Mendengar pertanyaan-pertanyaan Diana, tentu Saras punya optimisme yang tinggi.


"Untuk ketiga unit itu memang sangat spesial, Nona. Dibangun di dekat area golf dan pemancingan elit milik pemerintah Kota S. Letaknya sendiri di sebelah utara kota, dan berada di tepi laut, itu adalah area perbukitan Kota S. Di bawah bukit dekat laut, ada pemandangan hutan bakau yang sangat indah. Tiga unit itu saling berdekatan, walau jaraknya sekita seratusan meter, tapi itu dalam satu area. Untuk akses ke sana sangat mudah dari kota." Saras kembali menjelaskan.


"Apakah kalau aku ambil tiga unit itu, ada diskon dan hadiah yang lebih besar?" Tanya Diana.


Kaki Saras saat itu juga gemetaran. Mendengar Diana mengucapkan akan memgambil tiga unit rumah elit itu sekaligus, tentu saja membuat Saras terkejut, senang dan setengah tidak percaya.


"Kenapa? Apakah ada yang salah?" Tanya Diana.


"Ti-ti-tidak, Nona! Aku, iya. Aku akan menanyakan langsung pada manajer.!" Setelah mengatakan itu, Saras berlari ke ruangan manajer. Hanya selang satu menit, Saras sudah keluar lagi diikuti oleh manajer pemasaran. Seorang laki-laki paruh baya juga ikut di belakang Saras.


Saras berhenti di hadapan Diana. Manajer yang adalah pria berumur empat puluhan memandangi Diana dengan rasa tidak percaya. Namun, pria paruh baya yang bersama mereka langsung mengenali Diana.


Dia maju mendekati Diana. "Anda Nona Diana?" Tanyanya. Semua orang kini memandang ke arah sini.


"Iya, Paman." Jawab Diana. Lalu pria itu membungkuk hormat pada Diana. Diana tidak mengenal pria itu.


"Perkenalkan, saya adalah Pambudi, saya adalah direktur utama perusahaan ini sekaligus pemilik." Kata Pambudi mengenalkan diri.


"Anda memiliki sepuluh persen saham perusahaan saya, Nona." Kata Pambudi lagi.


"Apa maksud, Paman?" Tanya Diana penasaran. Sementara orang-orang sudah sangat terkejut karena Pambudi yang dirut membungkuk hormat oada Diana.


"Aku tadi bertanya pada dia, apakah jika aku mengambil tiga unit itu ada diskon dan hadiah yang lebih besar?" Tanya Diana mengulangi perkataannya pada Saras tadi.

__ADS_1


"Nona, jika Nona menginginkan tiga rumah itu, Nona cukup membayar dua unit. Satu unit lagi aku hadiahkan untuk Nona Diana." Kata Pambudi yang membuat seluruh ruangan menjadi sepi. Bahkan jika ada jarum jatuh sekalipun, itu akan terdengar.


"Bukankah Paman akan rugi besar jika seperti itu?" Tanya Diana mengingatkan.


__ADS_2