
Rumah Sanjaya
Ketika Galang dan Anton membawa Kakek Li, Sanjaya dan lainnya belum pulang dari alun-alun. Galang akhirnya meminta pelayan rumah untuk menyiapkan kamar untuk Kakek Li.
Segera pelayan menyiapkan sebuah kamar untuk Kakek Li sesuai perintah Galang. Sementara mereka bertiga duduk di ruang tengah sambil menunggu pelayan selesai menyiapkan kamar.
"Galang, apakah luka di lenganmu masih terasa sakit?" Tanya Kakek Li tiba-tiba.
"Kenapa Kakek bisa tahu ada luka di lenganku?" Tanya Galang terkejut.
"Kamu ditanya malah balik bertanya. Apakah itu masih sakit?" Tanya Kakek Li lagi.
"Iya. Tenagaku sepertinya makin berkurang saat ini. Tubuhku terasa berat." Jawab Galang.
"Aku melihat di tubuhmu ada racun. Mungkin itu dari pedang milik Suryanata. Duduklah. Aku akan mengeluarkan racun dari tubuhmu." Kata Kakek Li pada Galang. Galang menurut saja dan duduk bersila di lantai.
"Aku akan menekan beberapa titik akupunturmu, kamu akan merasakan mual yang sangat, dan saat mau muntah, segera muntahkan." Kata Kakek Li. Kemudian jari tangannya digerakkan dengan cepat dan menekan beberapa bagian tubuh Galang.
Beberasa saat kemudian, Galang merasakan kepalanya berputar seperti pusing, dan dia merasa mual sangat parah dan hendak muntah. Galangkan berusaha memuntahkan apa yang ingin dia muntahkan, namun tidak bisa. Sekali lagi Kakek Li menggerakkan jarinya dan menekan bagian tubuh Galang.
Kali ini Galang sudah tidak bisa menahan rasa mau muntahnya, dan dia benar-benar memuntahkan sesuatu dari mulutnya. Anton terkejut, Galang memuntahkan cairan hitam bercampur darah.
"Itu sebenarnya adalah racun katak, jika orang biasa, Galang pasti sudah mati. Namun karena kekuatan dalam tubuh Galang, racun itu tidak akan membunuhnya. Namun lama-kelamaan racun itu akan membuatnya lumpuh." Kata Kakek Li.
"Aku baru mengeluarkan sebagian racun, sisanya nanti akan aku keluarkan lagi jika tubuh Galang sudah pulih. Nanti aku akan memberikan ramuan obat agar diminum dan akan membuat tenaganya pulih." Kata Kakek Li lagi.
__ADS_1
Lalu Kakek Li menekan beberapa titik akupuntur Galang lagi, dan rasa pusing serta mual sudah hilang. Namun tubuhnya kini benar-benar sudah lemas dan tidak bertenaga.
"Galang, tenagamu akan pulih agak lama, kamu tidak boleh menggunakan tenaga dalammu. Karena itu akan sangat berbahaya bagi jiwamu. Aku akan segera mengeluarkan sisa racun dalam tubuhmu. Nanti aku akan antar ramuan obat untuk kamu minum agar tenagamu segera pulih. Namun kamu butuh waktu lama untuk menggunakan tenaga dalammu kembali." Kakek Li dengan terpaksa memberitahu Galang.
Anton dan Galang sama-sama terkejut ketika mendengar penjelasan Kakek Li
"Sebenarnya kalung Seribu Keajaiban bisa menolongmu, tapi kamu sepertinya tidak berjodoh dengannya. Kalung itu akan mencari sendiri jodohnya" Kakek Li kemudian kembali duduk di kursi ruang tamu. Segera seorang pelayan membersihkan bekas muntahan Galang.
"Tuan, kamar sudah siap!" Seru seorang pelayan.
"Antar Tuan Li ke kamar dan bawa barang-barang ini juga ke kamarnya!" Perintah Anton.
"Baik, Tuan!" Segera pelayan membungkuk dan membawa barang-barang milik Kakek Li ke kamarnya dibantu pelayan lain.
Anton kemudian memapah Galang ke kamarnya dan menyuruhnya istirahat agar tenaganya segera pulih.
Pelayan segera mengantarkan obat yang diberikan kakek Li ke kamar Galang. Hanya selang beberapa menit, pelayang itu kembali dengan wajah pucat.
"Tuan, Tuan Muda Galang butuh bantuan!" Teriak pelayan pada Anton dan Kakek Li.
Anton dan Kakek Li segera berlari ke kamar Galang. Terlihat wajah Galang sangat pucat setelah meminum obat dari Kakek Li. Anton merasa cemas melihat keadaan Galang.
"Anton, Galang harus segera dibawa ke Kota S. Kita tidak bisa menunda lagi. Racun sudah menyatu dengan darah galang. Aku akan minta bantuan teman lamaku untuk membantu memulihkan Galang. Aku tahu dia ada di sana. Temanku itu memiliki sebuah senjata untuk memisahkan racun dari darah. Sementara ramuanku, itu hanya bisa memulihkan tenaga dan mengobati." Kata Kakek Li.
"Tapi, Paman!" Anton merasa kebingungan.
__ADS_1
"Iya aku tahu, Tapi keselamatan Galang lebih utama ketimbang acara itu. Biarkan saja teman-teman Galang tinggal, dan kita kembali ke Kota S lebih dulu sebelum terlambat." Kakek Li memaksa Anton.
Anton segera berlari ke kamar Tomas dan memintanya untuk segera bersiap berangkat pulang. Sementara menurut Kakek Li, Teman-teman Galang bisa kembali ke Kota S dengan menumpang kapal atau diantar oleh Sanjaya.
Anton segera menelepon Sanjaya. Saat diberitahu Anton hal itu, Sanjaya buru-buru pulang tanpa mengajak Diana dan lainnya. Hanya dalam hitungan menit, Sanjaya sudah sampai di rumah bersama Kepala Keluarga dan beberapa orang.
"Tuan!" Sanjaya lalu langsung ke kamar galang, melihat Galang wajahnya pucat, dia makin cemas.
"Sanjaya, aku dan Galang akan lebih cepat kembali ke Kota S bersama Paman Li. Aku meninggalkan Nona Diana dan Nona Dara serta Karmen dan Rangga. Jika ada sesuatu, kamu bisa bicarakan dengan Diana. Ini sangat mendesak berkaitan dengan keselamatan Galang. Setelah acara selesai, kamu bisa mengantarkan mereka ke Kota S. Ingat pesanku!" Kata Anton Pada Sanjaya. Sanjaya tampak terlihat sedih dan cemas.
"Sebenarnya ada apa dengan Tuan muda?" Tanya Sanjaya.
"Sanjaya, Galang terkena racun pedang Suryanata. Dan racun itu sudah menyatu dengan darah Galang. Sebelum terlambat. Maka kami akan kembali lebih dulu. Sampaikan hal ini pada Nona. Biarkan mereka mewakili kami!" Jawab Anton.
"Baiklah, Tuan!" Sanjaya mengerti dengan penjelasa Anton. Diapun memandangi galang dengan sangat cemas.
"Tenanglah, Tuan muda, Anda pasti akan sembuh. Aku percaya Anda sangat kuat." Sanjaya lalu menjatuhkan dirinya. Dia pun menangis seperti seorang anak kecil yang akan ditinggal pergi oleh ayahnya.
Sanjaya seperti ini karena dia ingat selalu kebaikan Tuan besar ayahnya galang. Jika bukan karena Tuan besar, Sanjaya bukanlah apa-apa.
Sanjaya bangkit berdiri, lalu memandang ke kepala keluarga, "Siapkan mobil dan antar Tuan Muda, Tuan Anton dan Tuan Li ke pelabuhan!" Katnya pada kepala keluarga.
Kepala keluarga mengangguk lalu segera keluar dari sana dan menyiapkan semua yang dibutuhkan. Beberapa saat kemudian, Kakek Li, Galang, Tomas dan Anton pun berangkat menuju pelabuhan diantar menggunakan dua mobil dan satu mobil lagi untuk mengangkut barang milik Kakek Li. Mereka akan segera berangkat kembali ke Kota S untuk menyelamatkan Galang.
Sanjaya pun ikut mengantarkan mereka sampai ke pelabuhan. Suasana hati Sanjaya saat itu benar-benar sangat cemas. Dia tidak menyangka, bahwa Tuan Mudanya celaka karena Raja mafia.
__ADS_1
"Aku akan menghukum mati Raja Mafia!" Gumamnya.