Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Duel


__ADS_3

Detik berikutnya, sebuah serangan dari Suryanata begitu cepat. Pedang besar diarahkan ke dada Galang. Galang terkesiap.


Dia menarik diri ke belakang dengan cepat. Bersamaan dengan itu, Suryanata pun terus mengarahkan pedangnya dan melaju dengan cepat ke arah Galang.


Galang menyadari dirinya dalam bahaya. Lalu membuat gerakan memutar tubuhnya ke samping. Suryanata yang masih terus mengarahkan pedang besarnya kemudian memutar pedangnya mengikuti gerakan Galang.


"Awas!" Teriak Diana.


Galang sadar, Suryanata bukan lawan yang mufah dikalahkan. Gerakannya agak terlambat untuk menghindar, pedang Suryanata menyerempet lengan sebelah kiri.


Darah menyembur keluar dan terlihat Galang melompat mundur. Lalu mrmvuat gerakan menghentikan darah yang keluar dari lengannya yang terluka.


"Hahahaha! Bagaimana?" Tanya Suryanata setelah Galang terluka.


"Memangnya ada apa? Jika bukan karena anak buhmu tafi, kamu juga sudah jadi bangkai. Kamu harus akui itu." Jawab Galang meremehkan.


"Ayo maju!" Teriak Suryanata meremehkan.


Galang mengambil dua pedang yang tak jauh darinya. Kali ini dia membuat gerakan memutar ke belakang Suryanata.


Dalam sekejab, dua kakinya menendang beberapa anak buah Suryanata. Membuat mereka semua mundur. Lalu Galang memanfaatkan kelengahan anak buah Suryanata untuk kembali menyerang Suryanata.


"Terima ini!" Teriak Galang.


Kemudian dia melesat ke arah Suryanata dengan cepat. Pedangnya diarahkan ke kepala dan dada Suryanata.


Suryanata sudah menduganya. Perhiitungannya, dia akan menghindar dan akan menebar pedang Galang hingga patah.


Saat itu pedang Suryanata ditebaskan ke arah pedang Galang untuk menangkis.


Galang yang tahu pedangnya akan patah jika beradu dengan pedang Suryanata, lalu dia menghindari bentrokan pedang.


Galang menarik pedangnya dan pedang Suryanata lewat begitu saja. Galang mengubah serangan. Dia menggunakan kakinya untuk menyerang dan dengan cepat ke arah dada Suryanata.


Kali ini Suryanata tidak bisa menghindari serangan Galang yang begitu cepat.


"Bugh....!"


Tendangan itu tepat mengenai dada Suryanata. Suryanata pun terpental beberapa labgkah ke belakang. Namun tidak sampai jatuh.


Ada darah segar dimuntahkan Suryanata. Dia terluka cukup parah.


"Kamu kalah. Menyerahlah!" Kata Galang kemudian.

__ADS_1


Suryanata menggunakan pedangnya di tangan kanan sebagai tumpuan agar tidak jatuh, sementara tangan kirinya memegang dadanya.


"Aku tidak akan menyerah. Aku belum kalah!." Jaeab Suryanata. Namun kini dia jatuh terduduk. Anak buahnya mendatanginya dan menolongnya.


Sepuluh anak buah Suryanata tiba-tiba maju dan menyerang Galang. Diana yang tahu Galang dikeroyok kemudian membantu Galang, Rangga dan Karmen juga maju. Hanya dalam waktu satu menit, anak buah Suryanata dibuat tak berdaya dan mengerang kesakitan.


Saat itu terdengar pengumuman bahwa mereka telah sampai di pelabuhan Kota Pulau.


Mendengar itu, Suryanata dan anak buahnya pucat. Mereka tidak menyangka, ternyata ini memang disengaja oleh Galang agar mereka tiba di pelabuhan Kota Pulau.


Galang menoleh ke arah Rangga dan lainnya, memberi kode agar menangkap mereka semua. Dengan gerakan cepat, Rangga, Diana dan Karmen kembali menyerang ke arah mereka. Galang juga ikut menyerang.


"Kami menyerah!" Teriak Suryanata. Mereka pun menghentikan serangan dan kembali berdiri.


"Akhirnya mereka menyerah. Ikat mereka!" Perintah Galang. Lalu Rangga mulai mengikat tangan mereka di belakang dibantu beberapa kru kapal anak buah Tomas.


Di bawah komando Rangga, beberapa awak kapal yang mereka selamatkan, membawa perompak keluar dari kapal setelah kapal bersandar. Saat itu, mereka pun di bawa ke kantor polisi terdekat di pelabuhan.


Orang-orang sangat heran dengan pemandangan kapal yang tiba-tiba membawa banyak orang yang terikat.


Namun, mereka sangat terkejut saat mengetahui siapa yang sudah mereka tangkap. Itu adalah Suryanata, penguasa lautan Kota Pulau yang sangat ditakuti di lautan.


Siapa sebenarnya orang-orang itu yang berhasil menangkap mereka?


"Kapten, ikutlah bersama kami, dan kita akan menemui Raja Kota Pulau." Pinta Galang setelah kapal benar-bernar terparkir.


Kru kapal membantu polisi menyingkirkan mayat-mayat perompak. Banyak orang yang melihat ke dalam kapal dan teecengabg karena ada ratusan mayat bertumpuk di sana.


Mereka tahu itu adalah mayat para perompak dilihat dari pakaiannya dan merupakan anak buah Suryanata.


"Kita akan carter angkutan umum saja ke sana. Mereka pasti tahu kediaman Raja Kota Pulau. Ujar Galang


Dari mulai undangan sampai sekarang, mereka sama sekali tidak tahu kemana mereka harus pergi, dan siapa Raja Kota Pulau, mereka juga tidak tahu.


Rangga pun berhasil menyewa angkutan umum dan menyuruh mengantarkan mereka ke tempat Raja Pulau.


"Oh, ke sana, ya? Apa hubunganmu dengan Raja Kota Pulau?" Tanya sopir angkutan umum pada Rangga.


"Kami mendapat undangan dari Raja Kota Pulau." Jawab Rangga.


"Apa? Tuan, maafkan saya yang tidak tahu sopan santun. Apakah Anda Tuan Galang?" Sopir angkutan umum itu ketakutan ketika mendengar bahwa Rangga diundang Raja Kota Pulau.


"Bukan, aku adalah temannya Galang. Ada apa?" Tanya Rangga heran.

__ADS_1


"Raja Kota Pulau sudah mengumkan bahwa ada tamu penting dari Kota S yang akan datang kemari dan akan menyelamatkan kami dari perompak dan mafia. Rupanya kalian yang sudah diundang?" Sopir angkutan tampak berlutut dan menunduk takut.


"Oh, jadi begitu. Kami yang menangkap dan membunuh para perompak itu." Kata Rangga santai. Mendengar itu, sopir itu makin menghormati Rangga.


"Tunggulah di sini dan sebentar lagi kami akan ke sini." Perintah Rangga.


"Baik, Tuan." Jawab sopir dengan hormat. Lalu Rangga pergi meninggalkannya dan kembali ke kapal yang tak jauh dari sana.


Mereka pun masuk ke kendaraan yang mereka sewa. Namun, Diana tidak terlihat di sana. Dia meminta izin untuk pergi ke kamar kecil. Sementara mobil menunggunya.


Diana sudah selesai dan berjalan keluar dari kamar kecil. Saat itu seorang gadis bersama seorang wanita paruh baya kebetulan berpapasan dengannya. Diana melihat gadis itu dan merasa mengenalnya. Gadis itu juga melihat Diana dan mengenalnya.


"Yo, siapa ini? Apakah kamu Diana?" Tanya gadis itu dan berjalan mendekati Diana.


"Iya, ini aku Diana. Kamu adalah Melisa, bukan?" Diana menjawab sekaligus bertanya. Melisa lalu memperhatikan Diana. Dia heran kenapa Diana bisa berada di kota Pulau?


"Kenapa kamu ada di sini? Bagaimana kamu bisa sampai di Kota Pulau?" Tanya Melisa heran.


"Ah hanya kebetulan saja, aku diaajak oleh temanku." Jawab Diana santai tanpa memberitahu yang sebenarnya.


"Ibu, Diana ini9 dulu yang dikejar-kejar oleh Marcel, padahal aku dan Marcel sudah berpacaran. Akhirnya Marcel meninggalkanku dan memilih mengejar Diana. Tapi Diana tidak mau. Dia juga siswa termiskin di SMA. Entah apa yang dilihat Marcel dari orang ini. Padahal dia biasa saja." Melisa lalu mengungkit masa lalu saat di SMA.


Melisa sadar bahwa Diana memang cantik dan banyak siwa laki-laki yang mengejarnya, namun sebanyak yang mengejarnya, Diana pun menolaknya.


"Hei, Diana! Jadi kamu yang memisahkan Marcel dan Melisa, ya?" Tanya ibunya Melisa yang membuat Diana terkejut.


"Maaf, maksud Bibi apa ya?" Tanya Diana.


"Kamu berani memanggilku Bibi? Aku adalah wanita terhormat di Kota Pulau. Suamiku adalah Kepala rumah tangga Raja Kota Pulau. Seharusnya kamu memanggilku, Nyonya! namaku Merry. Dan panggil aku Nyonya Merry!" Wanita itu marah ketika Diana memanggilnya dengan sebutan Bibi.


Diana makin heran dengan sikap seperti ini. Dia tidak menyangka ada banyak orang di dunia ini yang gila kehormatan. Bagaimana mungkin seorang ibu begitu sombong di depan anaknya?


"Oh, maaf, Nyonya Merry. Saya tidak tahu." Diana berusaha menenangkan hatinya..


"Kamu tahu? Raja Kota Pulau akan menerima tamu penting hari ini. Mereka adalah keluarga terhormat dari Kota S dan berhasil menangkap Mafia sekaligus Raja perompak. Nanti malam akan diadakan pesta penyambutan yang sangat meriah." Ujar Merry.


Mendengar itu Diana sangat terkejut. Bukankah dia adalah salah satu yang telah menangkap raja perompak itu? Bagaimana jika mereka tahu kalau dia ikut menangkap Suryanata?


Diana tersenyum masam. "Baiklah Nyonya Merry dan Nona Melisa, aku pergi dulu karena sudah ditunggu. Sampai bertemu nanti malam." Setelah mengucapkan itu, Diana lalu berjalan cepat tanpa menggubris Melisa dan ibunya yang marah karena Diana tiba-tiba pergi dan meninggalkannya. Padahal mereka sebenarnya mau memamerkan diri mereka  pada Diana.


"Dasar perempuan miskin. Tidak tahu sopan-santun." Gerutu Merry.


"Sudahlah ibu, ayo kita kembali ke rumah untuk persiapan nanti malam. Kabarnya tamu Tuan sangat tampan dan kaya raya." Kata Melisa sambil membujuk ibunya untuk pergi dari tempat itu.

__ADS_1


Setelah dari kamar kecil, akhirnya mereka pun menibggalkan tempat itu dengan perasaan marah pada Diana.


__ADS_2