Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Ketahuan


__ADS_3

Restoran itu memang restoran mewah. Berada di bawah naungan Home Resto, perusahaan terbesar di Kota M yang membawahi berbagai restoran di Kota M. Home Resto sudah terkenal sampai ke wilayah lain karena masakannya yang lezat.


Dulu, Dara mendapat hadiah dari Home Resto. Hadiah makan seumur hidup di semua restoran Kota M. Diana tidak ingat hadiah itu. Dia hanya mendapat rekomendasi, jika ingin makan, maka di restoran yang ada logo Home Resto. Makanannya sangat lezat.


Mereka sudah memesan makanan, Diana sengaja memakai topi agar tidak mudah dikenali. Benar saja, para pelayan restoran memang tidak memperhatikan dengan cermat, jadi mereka tidak mudah dikenali.


"Sela, kenapa kamu malah ingin bekerja di sini? Bukankan di Ibukota ada pekerjaan yang lebih baik?" Tanya Diana.


"Benar, tapi ayah dan ibuku kembali ke Kota S setelah perusahaannya diambil-alih oleh kelompok jahat. Jadi kami tidak ada kerjaan. Aku lihat di koran ada lowongan di perusahaan baru. Posisinya juga lumayan. Jadi aku ingin melamar langsung." Jawab Sela.


Ponsel Diana bergetar, ada panggilan masuk. Itu dari Jenderal Joshua.


"Halo!" Sapa Diana.


""Nona! Aku sudah di depan restoran, aku dan Inspektur Herman." Jawab Joshua.


"Masuklah!" Kata Diana. Dua orang jenderal.masuk dan langsung menuju Diana. Melihat mereka, Dara langsung merasa canggung. Dia adalah orang yang dikalahkannya saat bertarung dulu.


"Nona!" Kedua Jenderal memberi hormat pada Diana. Sontak Sela, Wawan dan lainnya terkejut.


"Duduklah!" Kata Diana.


"Maaf mengganggumu, Nona." Kata Inspektur Herman.


"Katakanlah ada apa?" Tanya Diana setelah keduanya duduk.

__ADS_1


"Kami sudah mendapatkan informasi beberapa petnggi militer dan kepolisian yang terlibat. Tapi kami masih bingung karena belum mendapat informasi mengenai pejabat yang terlibat. Farel belum menemukan informasi apa-pa memgenai keterlibata.pejabat." Jawab Herman.


"Mata-matai saja mereka. Dan.pasti mereka akan bertemu dengan orang-orang yang sejalan dengan mereka. Minta pada Farel penyadap dan kamera pengintai. Aku yakin, itu lebih canggih dari yang dimiliki oleh kepolisian." Ujar Diana. Dia merasa tidak enak sampai dua jenderal dari militer dan kepolisian menemuinya.


Ponsel Diana bergetar lagi, panggilan masuk dari Karmen.


"Sebentar." Lalu Diana menjawab panggilan Karmen.


"Diana! Dinda dipukuli orang tak dikenal. Untung ada kami, kalai tidak, dia mungkin sudah terbunuh. Dia sekarang sedang dirawat di IGD!" Karmen langsung mela por.


"Apa? Bukankah ada polisi yang berjaga di situ?" Tanya Diana.


"Saat Dinda dipukuli, dia polisi sedang ke toilet. Jadi mereka tidak tahu." Jawab Karmen.


"Baiklah, kalian di sana dulu. Aku akan minta pembahan personel untuk menjaga Dinda dan keluarganya." Jawab Diana. Lalu panggilan diakhiri.


"Iya, Diana. Aku akan minta mereka segera kembali." Jawab Anton.


"Terimakasih, Paman." Lalu Diana menutup panggilan.


"Maaf, Jenderal, Inspektur. Sementara aku tidak percaya pada militer dan kepolisian. Temanku dipukuli orangbtak dikenal di rumah sakit. Aku meminta Kak Lung dan Kak Ester menjaga mereka. Jadi Inspektur harus menarik dua polisi yang berjaga saat ini."


"Kalian harus atasi dulu bawahan kalian yang berhianat. Baru aku tidak mencurigai kalian lagi." Kata Diana.


"Baik, Nona! Kami akan atasi itu. Dan bila kami butuh bantuan, kami akan menghubungi Nona kembali." Jawab Joshua. Setelah memberi hormat, kedua jenderal itu pun meninggalkan restoran. Dan tepat pada saat itu makanan sudah mulai disajikan.

__ADS_1


"Diana! Kamu?" Tanya Sela yang kebingungan. Kenapa ada dua jenderal bisa begitu menghormati Diana?


"Sudahlah. Itu bukan hal yang penting. Ayo kita makan." Kata Diana.


"Ayam goleng!" Teriak Dara. Kakinya digerak-gerakkan karena senangnya. Dara meminta air cuci tangan.


"Apakah Anda Nona Diana? Dan ini Nona Dara?" Tanya seorang pelayan.


Diana tidak menjawab. Namun Dara menoleh ke pelayan itu.


"Benar! Ini Nona Dara!" Teriak pelayan itu lagi. Karena suaranya, seluruh ruangan mendengar teriakannya.


Mereka pun semua berdiri, "Salam, Nona Diana! Salam Nona Dara!"


Mereka memberi salam, lalu duduk kembali. Diana memelototi pelayan yang tadi berteriak. Pelayan itu sangat ketakutan dan langsung berlutut.


"Maafkan aku, Nona. Maafkan." Katanya dengan ketakutan.


"Pergilah!" Kata Diana. Pelayan itu pun segera pergi.


Sela, Wawan dan teman-temannya makin terkejut. Diana sangat dihormati? Tapi Diana bersikap biasa saja? Andai orang lain, mungkin sudah memanfaatkan rasa hormat orang lain untuk pamer.


"Kenapa kalian tidak makan, malah bengong." Suara Diana menyadarkan keenam orang itu.


"Diana...!" Suara Sela berhenti, Diana melambaikan tangan agar Sela tidak meneruskan ucapannya.

__ADS_1


"Ayolah makan. Lihat anakku, dia sangat menyukai ayam goreng." Kata Diana.


Mereka melihat Dara sedang lahap dengan ayam gorengnya.


__ADS_2