
Pasukan Diana dan pasukan musuh telah saling berhadapan. Saat itu matahari masih malu-malu di balik bebukitan. Tiba di medan perang, Diana bersama Galang, Rangga, Karmen, Anton, Kakek Li, Nenek Diah, David yang ngotot pergi ke medan perang dan Guru Galuh. Juga ada bersama mereka pemuda berambut panjang serta empat jenderal.
"Jenderal, kami akan bernegosiasi dengan musuh, maka pasukan menjadi tanggung jawab kalian!" Teriak Diana pada Empat Jenderal perang.
"Galamg, kamu di sini saja dulu, aku bersama Rangga dan Karmen. Jika kami gagal berunding, artinya kita akan siap menghadapi mereka." Kata Diana.
"Kamu bilang akan bersamaku." Jawab Galang.
"Kamu tunggu Nenek Sol, baru menyusulku. Dia sedang dijemput. Kamu juga aja Tuan El bersamamu nanti." Kata Diana.
Lalu Diana, Rangga dan Karmen sudah berlari cepat ke arah pasukan musuh dengan tatapan rubuan pasang mata prajurit. Mereka merasa khawatir, namun hal.itu memang harus dilakukan agar perang bisa cepat berakhir. Itu pun kalau musuh mau.
Sesampai di hadapan pasukan musuh, Diana berhenti dan segera melihat-lihat, dia sedsng memcari pemimpin makhluk siluman.
"Mana pemimpin kalian?" Tanya Diana.
__ADS_1
Diana melihat ada Seho bersama mereka. Karena Seho bergabung dengan siluman, maka pedang api diperbolehkan dipakai oleh Seho. Hari ini Diana membawa pedang kilat milik keluarga Lasa.
Seho pernah merasakan bagaimana pedsng kilat mempengaruhi tubuhnya. Itu membuatnya tidak berani bersuara.
"Aku!" Teriak sosok makhluk lalu berjalan maju. Sosok ini memang terlihat lebih besar dari lainnya. Namun, jeleknya tentu saja sama saja.
"Aku panglima perang Provinsi Selatan, ingin mrbgajak berdamai dan membuat perjanjian. Atau, aku akan menantangmu bertarung, jika kamu kalah, maka kalian harus menyerah dan semuanya tunduk padaku!" Diana mengeraskan suaranya karena suara bising makhluk-mkhluk siluman itu.
"Kami tidak akan bernegosiasi. Kami juga tidak akan bertarung satu lawan satu. Sebaiknya kamu kembali dan sampaikan pada semua prajuritmu, bahwa mereka semua akan mati hari ini!" Teriak pemimpin makhluk siluman.
"Seraaaaaaaang!" Teriak pemimpin pasukan dan disambut oleh semua pasukan.
"Seraaaaaaaaaaaaaaaang!"
Teriakandari makhluk siluman yang jumlahnya puluhan ribu menggema di udara membuat bergidik. Diana, Karmen dan Rangga mundur. Mereka dengan cepat sudah berada di tengah di antara pasukan musuh dan pasukan Diana.
__ADS_1
Di barisan jenderal, Galang sedang berbicara pada para jenderal agar jangan bergerak dulu. Dia mengatakan bahwa dia bersama Diana yang akan menghadapi makhluk-makhluk itu.
"Katakan pada Nenek Sol agar menunggu di sini." Kata Galang. Keempat jenderal.mengangguk memgerti.
Lalu Galang, diikuti David, Guru Galuh, El, Anton, Kakek Li dan pada akhirnya semua jenderal juga mengikuti Galang setelah memerintahkan para prmimpin pasukan agar prajurit jangan maju. Juga memberi pesan agar Nenek Sol menunggu.
Saat itu, Nenek Sol sudah berada di luar barisan pasukan dan akan diantar ke tempat Galang. Namun, ketika sampai, Galang sudah maju. Jadi Nenek Sol terpaksa menunggu.
Para wartawan, karena prajurit tidak maju menjadi bertanya-tanya, mereka menjadi berani maju di depan barisan prajurit dan mulai mengambil gambar. Para prajurit diam saja dan tidak ada yang menegur mereka. Toh menegur juga percuma. Mereka selalu membawa-bawa undang-undang yang melimdungi mereka. Padahal undang-jndang tidak bisa melindungi mereka dari bahaya.
Sementara, pasukan musuh gang kini bergerak menyerang semakin dekan dengan Diana, Karmen dan Rangga.. Namun ketiganya seperti sedang menunggu musuh sampai di tempat mereka. Hal ini membuat reporter menjadi punya bahan berita yang keren. Tiga orang ditambah Galang dan lainnya melawan puluhan ribu makhluk siluman.
Bagaimanapun juga, itu sama saja dengan menyerahkan nyawa. Itu yang ada di pikiran semua orang. Tapi kenapa mereka dengan gagah berani maju dan melawan makhluk siluman dengan gagah berani?
Dari dalam.barisan, delapan anak buah David keluar dan menyusul di belakang Galang dengan cepat. Para pemimpin pasukan tetap patuh dan sama sekali tidak bergerak. Mereka tidak berani melawan perintah. Jika terjadi seseuatu karena melawan perintah, maka hukumannya adalah mati. Jadi mereka sedang menunggu perintah selanjutnya.
__ADS_1