Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Tujuh Bayangan Naga


__ADS_3

Galang mengantar Elena sampai ke rumahnya. Saat ini rumah yang sebenar adalah vila besar dan megah itu tampak ramai orang. Ketika mobil Elena memasuki halaman vila, orang-orang itu pun berlarian ke halaman.


"Ada apa?" Tanya Galang.


"Mereka pasti sedang mencariku. Makanya ketika meligat mobilku, mereka berlarian. Aku sudah pergi selama tiga hari dan ponselku tidak aktif. Jadi wajar saja mereka panik." Jawab Elena menjelaskan.


Galang menghentikan mobilnya. Saat itu, orang-orang berkerumun di mobil dan berusaha membuka pintu mobil. Mereka yakin itu Elena.


Saat pintu mobil terbuka, seorang wanita berumur enam puluhan langsung menangis. Begitu Elena keluar daei mobil, wanita itu langsung memeluknya dan menangis dengan kencang.


"Ibu, sudahlah. Bukankah aku sudah pulang dengan selamat?" Elena berusaha menenangkan ibunya.


Sementara di teras vila, seorang tua tampak tersenyum ketika melihat Elena. Bahkan dia sempat menitikkan air mata dan menghapunya kembali.


Orang-orang yang ada di sana pun sangat bahagia ketika melihat Elena pulang dengan selamat.


Saat berikutnya, Galabg yang kebingungan akhirnya keluar dari mobil. Orang-orang yang sedqri tadi tidak memperhatikannya ketika melihat Galang, mereka pun penasaran. Elena bersama seorang pemuda?


"Ibu, perkenalkan, ini Galang. Dia yang telah menyelamatkan aku." Elena memperkenal Galang pada ibunya. Lalu dia mengenalkannya juga pada orang- orang yang ada di sana. Ada paman dan bibinya serta adik-adik dan kakaknya dari saudara ayah dan ibunya.


Semua orang mengira kalau Galang adalah pacar baru dari Elena setelah beberapa minggu lalu suaminya dibunuh oleh Bai Lang karena menolak memberikan perusahaannya padanya. Elena tidak mempermasalahkan pandangan saudara-saudaranya. Dia mengajak Galang dan ibunya.


"Ayah, dia Galang. Dia yang telah menyelamatkan aku. Sam telah mati dibunuhnya saat hendak membunuhku." Elena mengenalkan Galang pada ayahnya.


"Namaku Pian Darmawan. Terimakasih sudah menyelamatkan putriku. Anak muda, apakah kamu benar-benar orang yang diramalkan akan membunuh Bai Lang? Ah, aku terlalu berharap. Tapi aku memang berharap." Pian mengatakan hal yang Galang tidak mengerti.

__ADS_1


"Paman bicara apa?" Galang terlihat kebingungan.


"Galang, ada beberapa peninggalan leluhur kami yang bisa kamu pelajari. Kamu mungkin tertarik. Aku ada seseuatu untukmu." Pian lalu mengajak Galang memasuki rumah, kemudian mereka pun menuju sebuah lemari yang tempat buku ditumpuk.


Di samping lemari itu ada rak besar tempat buku, seperti buku-buku di perpustakaan. Galang penasaran.


Tangan Pian mengambil beberapa buku di rak buku. Tiba-tiba lemari bergerak. Lemari itu berputar seperti ssbuah pintu. Pian lalu mengajak Galang dan Elena memasuki ruangan di belakang lemari. Pian menginjak sebuah tombol dan lemari itu beehenti.


Di sana sama sekali tidak ada apa-apa. Lalu Pian menekan sebuah tombol lagi, lantai ruangan terbuka dan ada sebuah tangga turun di ruang yang gelap. Pian melangkah ke tangga. Galang dan Elena pun mengikutinya.


Tangga itu ternyata menuju sebuah ruangan besar di bawah tanah. Pian menghidupkan lampu ruangan. Terlihat ruangan berukuran besar di depan mata.


Di tengah ruangan, ada semacam batu berbentuk pipih. Di atas batu itu ada sebuah kotak kayu dengan ukiran abad pertengahan. Kotak itu yang menjadi tujuan Pian.


"Tujuh Bayangan Naga?" Bisik Galang. Galang mengamati lukisan pemuda itu. Dia seperti mengenal wajah dalam lukisan itu. Ya, benar. Itu adalah wajahnya.


"Kamu pasti terkejut, lukisan itu berumur ratusan tahun dan menjadi benda pusaka keluarga kami." Kata Pian lalu mendekati Galang diikuti Elena.


"Tapi, kenapa lukisan itu mirip denganku?" Tanya Galang.


"Dia adalah leluhur kami dari abad pertengahan. Limaratus tahun yang lalu, dia adalah sang legenda. Memiliki kekuatan yang luar biasa. Seharusnya itu aekarang berada di negara Garuda asalmu." Pian menghela nafas, memandang lukisan dan beralih kepada Galang.


"Hari ini sudah genap limaratua tahun, seharusnya akan ada seseorang yang datang untuk mengambil kekuatannya. Aku meyakini itu adalah kamu." Lanjut Pian.


"Galang, aku pernah ke Tiongkok, bertemu dengan seorang pendeta yang membuat seribu pil ajaib. Dia mengatakan akan ada seorang pemuda yang datang ke tempatmu. Lalu pendeta itu memberikan seribu pil ajaib padaku untuk diberikan pada pemuda itu." Pian semakin bersemangat.

__ADS_1


"Aku sudah mencoba berkali-kali, meminum pil, melatih jurus Tujuh Bayangan Naga, tapi aku tidak bisa. Seharusnya memang jurus itu tidak diwariskan padaku. Tapi diwariskan kepada orang dalam ramalan. Aku meyakini itu kamu." Kata Pian.


Lalu Pian berjalan ke arah kotak kayu di tengah ruangan diikuti Galang dan Elena. Membukanya dan, mereka melihat ada sebuah kota kecil dari kaca yang berisi banyak sekali butiran-butiran seperti kristal.


Di samping kotak kaca itu, ada sebuah buku kuno yang masih terlihat baik. Galang memperhatikan buku itu, dia ingat, buku itu yang dipegang orang dalam lukisan.


"Buku ini ditulis dalam bahasa Sansekerta, jadi kamu akan mudah mempelajarinya. Ini adalah warisan leluhur kami, dan itu akan aku berikan padamu." Kata Pian.


Pian mengambil kotak kaca, membukanya dan mengambil satu butir dan memberikannya pada Galang.


"Talanlah! Ini adalah seribu pil ajaib. Yang akan dilelang oleh Ken palsu itu adalah pil palsu." Pinta Pian. Galang menerima pil itu, dan tanpa ragu menelan pil itu.


Terjadi keanehan. Tiba-tiba tubuh galang seperti mwngeluarkan cahaya, dari cahaya itu, keluar berbagai macam kotoran dalam tubuh. Galang seperti merasakan panas yang tak tertahankan. Namun itu tak berlangsung lama. Cahaya meredup dan rasa panas itu hilang sama sekali.


"Aku sudah menduganya, bahwa kamu adalah orang yang dikatakan oleh Pendeta Tiongkok itu. Galang, Kamu saat ini bisa mempelajari ilmu apapun dengan cepat. Dalam.jangka waktu dua hari, kamu harus menelan satu pil lagi, begitu aterusnya sampai pil ini habis." Pian lalu memberikan kota itu pada Galang dan juga memberikan buku Tujuh Bayangan Naga padanya.


Galang menerima semua itu dengan masih kebingungan. Di era modern saat ini ternyata masih ada kekuatan seperti ini?


"Aku melihat latihan kultivasi pernafasanmu sudah hampir sempurna. Itu akan menambah daya latih jurus yang ada dalam buku itu. Sebaiknya kamu secepatnya untuk melatihnya. Kamu tidak akan terkalahkan." Kata Pian, lalu dia memegang bahu Galang.


"Baiklah, Paman. Aku akan mencobanya. Aku memiliki banyak hal yang harus aku lakukan. Aku akan menemui Paman, Kakek dan Nenekku di hotel." Kata Galang lalu berpamitan.


Ketiganya pun meninggalkan ruang bawah tanah. Menuju rumah, dan Galang pergi ke hotel kembali dengan membawa buku Tujuh Bayangan Naga dan Seribu Pil Ajaib pemberian Pian Darmawan.


Pian dan Rlena merasa lega. Tidak sia-sia Pian mengutus Elena menyelidiki Galang hingga menjadi target pembunuhan oleh Sam. Namun, Galang memang orang yang ada dalam ramalan. Pian dan Elena merasa lega.

__ADS_1


__ADS_2