Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Konflik Hati


__ADS_3

Mereka sudah sampai di alamat yang dituju. Tempat itu merupakan taman kota.


"Ponsel sedang aktif, Nona." Kata Farel.


"Tapi aku tidak akan menelepon. Cari saja!" Jawab Diana.


"Sebelah sana!" Kata Farel.


Lalu mereka menuju ke arah di mana jari Farel menunjuk. Mereka melihat ada beberapa pasangan pemuda-pemudi yang sedang duduk di bangku taman. Lalu mereka mendekat dan mencari ponsel yang dimaksud.


Farel telah menemukan ponsel itu tepat di bawah bangku yang sedang diduduki sepasang pemuda-pemudi.


"Apa kalian melihat siapa yang meletakkan ponsel di sini?" Tanya Jatmiko.


Kedua orang itu menggeleng. "Kami baru sampai beberapa menit yang lalu, jadi kami tidak tahu." Jawab seorang pemuda.


"Aku lihat!" Teriak seorang gadis tak jauh dari sana.


"Tadi ada tiga orang dan seorang anak kecil. Satu perempuan dua laki-laki dan seorang anak kecil. Orang yang agak tua melempar sesuatu ke bawah bangku itu. Tapi aku tidak tahu itu ponsel." Kata gadis itu.


"Ke arah mana mereka pergi?" Tanya Diana.


"Aku tidak terlalu memperhatikan." Jawab gadis itu.


"Baik, terimakasih atas informasinya." Kata Diana pada gadis itu.


Lalu mereka pun kembali ke rumah. Farel segera mengecek ponsel, membuka dompet ponsel. Mereka terkejut. Ada alat pelacak lokasi di bagian dalam dompet.


Ponsel itu lalu berdering. Diana segera menjawab panggilan, "Halo!"

__ADS_1


"Haha, kamu memang pintar. Ternyata bisa juga menemukan ponsel ini. Baik, kamu jangan buang alat pelacak. Jika kamu membuangnya, maka tamatlah anakmu!" Kata seseorang di panggilan.


"Baik! Apa yang kamu inginkan? Berapa kamu minta uang tebusan?" Diana tidak sabar lagi. Dia membayangkan Dara saat ini sedang ketakutan.


"Oh, sabar! Aku akan segera memberitahumu!" Lalu panggilan di tutup.


"Halo! Halo!" Diana berteriak-teriak.


"Tenang, Diana! Kita pasti bisa menyelamatkan Dara." Ujar Karmen lalu memeluk Diana.


Ruang tengah kini sunyi. Hanya terdengar Diana yang terisak kecil. Kini dia merasa sangat sedih. Walaupun dia adalah gadis yang sangat kuat, namun ketika ujian seperti ini, gadis manapun akan terguncang. Apalagi Dara sangat dekat dengan dirinya.


*******


Dara kini berada di sebuah kamar yang kecil. Pintu dikuci dari luar. Dia duduk di pojokan kamar dengan wajah pucat. Ada makanan di meja kecil di kamar, namun dia belum mau memakannya. Dia benar-benar sangat ketakutan.


Dara tidak berani menangis. Dia juga tidak mengucapkan apapun. Yang dia yakini, ibunya dan Bibi Karmen pasti akan segera menolongnya. Dara sangat lapar, dari sejak dia dibawa, sampai dengan sekrang dia belum makan.


Saat itu pintu kamar dibuka. Niken masuk membawa botol berisi susu. "Minumlah!" Kata Niken. Lalu meletakkan susu itu di meja dekat makanan untuk Dara.


Dara tidak bereaksi. Dia hanya ingin Ibu. Dia sangat merindukan Ibu.


"Ibu." Suara Dara terdengar lirih. Dia tidak berani berteriak.


"Tunggu sampai ibumu menebusmu. Kamu akan bertemu dengan Ibumu. Sekarang makan dan minumlah agar tubuhmu kuat. Bukankah hanya makan saja?" Kata Niken.


Dara mulai berpikir, apa dia harus makan atau tidak? Berarti ibu akan datang. Dara yang duduk di pojok ruangan mulai bergerak hendak berdiri. Niken langsung membantunya. Dara tidak meronta. Dari awal dia memang bersikap tidak melawan. Dia memang baru pertama kali mengalami hal seperti ini.


Dara pun merasa dia harus tenang. Walaupun dia masih kecil, tentu saja agar orang tidak menyakitinya. Akhirnya Dara makan makanan yang ada di meja. Dia sangat lapar sekali. Dan susu yang dibawa Niken juga habis diminumnya. Saat itu sudah jam satu sore.

__ADS_1


Habis makan, Dara tidak bisa menahan kantuk. Akhirnya dia pun tertidur di lantai. Niken yang juga memiliki anak merasa kasihan. Dia mengangkat tubuh Dara dan membaringkannya di tempat tidur.


******


"Tuan Wang, apakah rencana kita akan berhasil? Bukankah Nona Diana adalah orangnpenting di Kota S? Dia juga yang mengalahkan Tuan Rocky." Kata Niken saat dia sudah berada di ruang tengah. Saat itu, Wang dan anaknya sedang minum anggur berdua.


"Niken, tentu saja setelah mendapat uang, aku dan Jacky akan langsung pergi. Kalau kamu terserah padamu saja. Yang penting kamu dapat bagian uang." Jawab Wang.


"Iya, bagian kamu adalah sepuluh persen. Kamu kan hanya sebagai pengasuh saja." Jacky juga berkomentar.


Niken terkejut dengan perkataan Jacky. Tidak disangka bahwa dia tidak mendapat bagian yang sama. Padahal dia juga ikut menanggung resiko. Namun, Niken tidak berani bersuara.


"Bagaimana pendapatmu, Niken?" Tanya Wang.


"Aku? Terserah kalian saja." Jawab Niken dengan malas.


"Begitu lebih baik. Kamu memang hanya mengasuh anak itu. Jika uang sseratus miliar, kamj akan mendapatkan sepuluh miliar tentu saja. Dan itu sangat banyak. Tapi aku menyarankan kamu segera pergi setelah mendapatkan uangnya dan jangan tinggal di lota ini lagi." Kata Wang dengan mantap.


Niken hanya diam saja. Kini dia sangat menyesali perbuatannya. Tidak disangka dia sama sekali tidak setara dengan Wang dan Jacky. Bagaimana pun, dia sudah sejauh ini dan menjadi bagian tim. Niken langsung pergi, namun, dia tidak pergi jauh. Dia ingin menguping pembicaran orang tua dan anak itu.


"Ayah, apakah rencana kita masih sama? Niken tidak perlu mendapat bagian. Dan kita langsung bawa uangnya kabur." Kata Jacky.


"Kamu kalau bicara jangan keras-keras. Rencana ayah memanh seperti itu. Biarkan dia ditangkap polisi dan kita akan pergi jauh ke Tiongkok. Ayah sudah memesan tiket ke sana." Jawab Wang.


"Wah, ayah memang hebat. Aku bersulang untuk ayah!" Kata Jacky memuji ayahnya. Dia menuang anggur ke gelasnya lalu menung juga ke gelas ayahnya dan mengangkat gelas itu untuk ayahnya.


Kedua muka orang itu sudah merah, mata mereka juga merah. Mereka mabuk eh anggur. Niken lalu pergi ke sebuah kamar dan berbaring. Diia sangat menyesalii oerbuatannya. Mengikuti dua orang itu, dijanjikan uang miliaran. Tapi tadi dia mendengar bahwa kedua orang itu sebenarnya tidak akan memberikan apa-apa padanya.


Pikirannya kini tertuju pada suami dan anak-anaknya di rumah. Dia sangat menyesal mengapa mengikuti kedua orang itu untuk berbuat jahat? Jika dia lebih sabar dan tidak berpikir sempit, mungkin dia saat ini sedang bersama suami dan anak-anaknya di rumah.

__ADS_1


Niken merasa dia orang yang tidak berguna. Bahkan ketika dia berbuat jahat sekalipun, orang jahat lainnya tidak pernah menghargainya. Niken tahu, bahwa pada akhirnya memang dia yang akan masuk penjara. Sementara orang lain yang menikmati hasil kejahatannya.


"Wang, Jacky, baiklah jika memang itu mau kalian. Kita tidak akan mendapat apa-apa bersama-sama." Lalu Niken pergi ke kamar Dara.


__ADS_2