
Melihat Suro Kampak akhirnya melawan, Diana malah tersenyum sinis. Dia sangat membenci manusia ini karena kejahatan yang dia buat terutama kepada gadis-gadis desa.
Kali ini dia tidak main-main lagi. Sementara di sisi lain, Katmen sudah mengalahkan banyak anak buah Suro Kampak. Tidak ada ampun jika orang itu membantu kejahatan Suro Kampak.
"Suro Kampak! Hari ini adalah hari terakhir kamu bernafas! Aku tidak segan lagi!" Teriak Diana.
Suro Kampak langsung menerjang ke arah Diana. Kapak besar di tangannya ditebaskan ke tubuh Diana dengan seluruh kekuatannya. Diana juga maju menerjang, membuat gerakan melabrak Suro Kampak. Samblil melompat, Diana mencabut pedang Cakar Naganya.
Lalu pedang itu diayunlan untuk menangkis kapak milik Suto Kampak.
"Trang!"
Akibatnya dua kekuatan senjata beradu. Suro Kampak sangat terkejut. Kapak miliknya patah menjafi dua bagian. Diana masih belum mau berhenti, sekali lagi dia menebaskan pedangnya, tubuh Suro Kampak terbelah menjadi dua. Dia langsung mati.
Saat itulah pertarungan Karmen dan anak buah Suro Kampak berhenti, mereka langsung berlutut dan memohon ampun. Namun, Diana tidak bisa mengampuni mereka.
__ADS_1
"Habisi!" Teriak Diana.
Karmen langsung bergerak dan menghabisi semua anak buah Suro Kampak.
Diana mengambil kapak milik Suro Kampak yang terbagi dua. Lalu, bersama Karmen, mereka berdua menuju pasar. Tanpa turun dari kuda, Diana berteriak agar semua anak buah Suro Kampak keluar.
Saat itu, Jogoboyo dari dua desa sedang menuju pasar, mereka diberitahu bahwa Suro Kampak sudah dibunuh oleh seorang pendekar. Orang yang memeberitahu karena kebetulan lewat dan ingin ke pasar dari desa Hilir
Sementara, anak buah Suro Kampak sudah berada di depan pasar. Banyak orang berkumpul di sana untuk mengetahui apa yang terjadi.
Diana melempar kapak milik Suro Kampak. Itu membuat semua orang terkejut.
Anak buah Suro Kampak saling berpandangan. Mereka benar-benar bingung kali ini. Tidak ada yang bicara. Lalu salah seorang melemparkan senjata ke tanah. Hal itu dilihat oleh banyak orang, dan anak buah lainnya pun membuang senjata mengikuti orang yang pertama.
"Hidup pendekar! Hidup pendekar!" Tiba-tiba tedengar suara riuh pengunjung pasar. Mereka mengelu-elukan Diana dan Karmen.
__ADS_1
Saat itu, Jogoboyo dari dua desa telah sampai. Mereka langsung turun dari kuda dan menghadap ke Diana.
"Pendekar! Terimakasih karena sudah membantu kami!" Ujar salah satu Jogoboyo.
"Paman berdua, lepaskan semua tahanan, antar pulang semua yang trlah dipaksa dan ambil alih pasar. Umumkan pada semua orang bahwa aku sebagai pelindung desa kalian! Jika ada yang macam-macam, maka akan berurusan denganku!" Kata Diana.
"Baik, Pendekar!" Jawab Jogpboyo.
Lalu, dua Jogoboyo berlutut, kemudian semua orang pun ikut berlutut, "Kami sangat berterimaksih kepada pendekar karena telah menolong kami dari penindasan. Kami akan menyerahkan seluruh hidup kami untuk pendekar, juga seluruh keturunan kami!" Kata Jogoboyo dengan suara keras. Semua orang yang berlutut mengangguk-angguk setuju.
"Paman, tidak perlu sesungkan itu, kami di sini menolong kalian karena kewajiban. Jika aku dan kakak-kakakku bukan orang kuat, mana mungkin kami bisa melawan Suro Kampak dan anak buahnya.
"Kepala Desa kami sudah bicara pada kami bahwa kami akan memperingati kememangnan ini setiap tahun, dan semua keturunan kami akan memperingatinya selamanya. Lima pendekar telah datang sebagai dewa penolong kami, dan kami akan merayakannya setiap tahun, dan akan mempersembahkan hasil bumi kami untuk pendekar sebagai tradisi turun temurun." Kata Jogoboyo.
"Bukankah itu terlalu berlebihan, Paman?" Tanya Diana. Namun Jogoboyo berdua tidak menjawab. Dan itu adalah tekad mereka sekarang. Jadi tidam bjsa dicegah lagi.
__ADS_1
"Anak buah Suro Kampak, tahan mereka semua dan hukum mereka sesuai dengan hukum kalian!" Lanjut Diana.
Lalu Diana dan Karmen pun pulang ke rumah kepala desa Hulu. Mereka sangat terkejut, di halaman rumah yaang luas, sudah berkumpul banyak orang. Mereka adalah penduduk desa setempat.