
Diana masih terus mendengar Toni membual perihal pamannya yang adalah bos do Dara Shinta Food. Mengenai restoran yang akan diberikan padanya, tentu saja teman-teman lainnya percaya pada Toni kecuali Diana dan Jimmy.
"Aku tidak tahu bagaimana cara kamu meminta restoran ini, sehingga Herman mau memberikan restoran ini padamu." Gurau Diana yang membuat wajah Toni memerah.
"Tenti saja bukan urusanmu. Kamu wanita miskin tahu apa soal orang kaya?" Yang menjawab adalah Tiwi. Namun, ketika melihat wajah Toni memerah, Tiwi tampak merasa kuatir. Apakah itu karena pertanyaan Diana?
Susi yang juga melihat wajah Toni memerah mencoba mengalihkan pembicaraan, "Hei, Hesti, bukannya pacarmu juga akan datang? Kenapa sampai sekarang belum juga datang?" Tanya Susi pada Hesti yang sedari tadi hanya diam saja. Hesti memang seorang gadis pendiam. Walaupun dia termauk gadis yang cantik di kelasnya, namun penampilannya sederhana saja.
Hesti merupakan anak seorang pengusaha kelas menengah. Ayahnya membuka pabrik sepatu produksi lokal dengan berbagai desain yang banyak diminati, karena beberapa hal termasuk ulah Rocky, perusahaan itu yang awalnya berkembang pesat, kini semakin menurun dari segi pendapatan walaupun penjualan terus meningkat. Itu terjadi karena Rocky memang mengambil banyak keuntungan dari setiap perusahaan di Kota S.
"Oh, Hesti, siapa pacarmu? APakah dia Tuan Muda yang kaya raya?" Tanya teman lainnya.
"Dia putra dari Tuan Jatmiko, dia bilang akan datang bersama adiknya yang perempuan. Aku kirim pesan belum dibalas. Mungkin masih di jalan." Jawab Hesti.
Mendengar nama Jatmiko, semua orang menjadi terkejut. Terutama Toni. Jelas dia akan kalah bersaing dengan Farel yang memang putra seorang pengusaha yang sukses.
"Kakek!" Ucap Dara yang membuat semua orang mmenoleh ke arahnya. "Ibu, apa kakek ke sini?" Tanyanya.
"Tidak, sayang, tapi Bibi Anita dan Paman Farel yang mau datang." Jawab Diana setengah berbisik agar tidak terdengar oleh mereka.
Beberapa pelayan masuk untuk menghidangkan makanan yang mereka pesan.
"Tuan Herman memberi pesan bahwa makanan hari ini gratis dan dia yang membayar semuanya." Kata pelayan yang membuat sejumlah orang merasa senang dan juga terkejut. Jimmy yang memahami semuanya lalu menoleh ke arah Diana. Diana sama sekali tidak merespon apapun saat pelayan mengatakan hal itu. Jimmy tahu itu adalah diberikan untuk Nona Diana.
"Paman pasti tahu aku di sini. Sampaikan pada pamanku, aku mengucapkan terimakasih." Ucap Toni dengan percaya diri.
"Anda siapa?" Tanya pelayan penasaran sambil menurunkan makanan ke meja.
"Aku adalah keponakan Tuan Herman." Jawab Toni.
"Oh, baiklah, nanti akan disampaikan oleh manajer kami." Pelayan lalu membungkuk hormat.
__ADS_1
"Wah, pacar Tiwi memang hebat!" Seru seseorang.
"Tiwi tidak salah pilih pacar tentunya." Ujar Susi. Dan yang lainnya pun memuji kehebatan Toni. Bagaimanapun, memuji Toni mungkin bisa membuat mereka mujur nantinya. Toni bisa merekomendasikan teman-teman Tiwi untuk bekerja di restoran ketika restoran sudah diberikan pada Toni.
"Ah, itu biasa saja. Pamanku memang paling tahu siapa keponakannya." Kata Toni seolah merendah tetapi terlihat sombongnya.
"Pelayan, bisakah aku pesan paha 2 paha ayam digoreng dan sup bayam untuk anakku?" Tanya Diana.
"Maaf, di sini adalah restoran Jepang, jadi kami tidak menyediakannya. Silahkan memesan di tempat lain." Jawab pelayan sambil penasaran dengan pesanan Diana.
"Oh, Diana, kamu sungguh bikin malu saja. Kamu benar-benar membuat kami kehilangan muka!" Tiwi tampak marah ketika Diana memesan sesuatu yang memang tidak ada.
Saat itu Jimmy mendekati pelayan, membisikinya. Pelayan itu tampak ketakutan dan dengan gemetar hendak berlutut, namun dicegah oleh Jimmy.
"Iy.. Iya ada, akan segera disediakan." Ucap pelayan sambil membungkuk dan segera berjalan cepat menuju dapur.
Hanya selang beberapa menit, pelaya wanita itu masuk kembali dan membawa pesanan Diana yang membuat semua orang terheran-heran.
"Silahkan, Nona." Pelayan itu menyuguhkannya di hadapan Dara dengan membungkuk. Dia sama sekali tidak berani menatap Diana.
"Oh, itu tidak perlu bayar, Nona." Jawab pelayan dengan keringat dingin yang mulai membasahi wajah dan badannya.
Diana berdiri, lalu menatap wajah pelayan itu, memberikan uang duaratus ribu padanya dan digenggamkan di tangannya. "Bekerjalah lagi, itu uang tip dariku."
"Terimakasih, Nona! Terimakasih, Nona!" Pelayan itu membungkuk berkali-kali. Diana memegang bahunya dan tersenyum.
"Acih." Dara pun mengucapkan terimakasih pada pelayan yang masih berdiri di sampingnya. Tangannya menyentuh tangan pelayan itu. Dan pelayan itu tersenyum, membungkuk lalu pergi meninggalkan ruangan.
"Jimmy, apa yang kamu katakan? Kenapa pelayan tadi sangat ketakutan?" Tanya Susi.
"Aku tidak mengatakan apa-apa." Jawab Jimmy lalu duduk kembali.
__ADS_1
Diana memandang Jimmy, dia tahu Jimmy membisikkan ke peklayan kalau dia adalah pemilik restoran. Sementara Jimmy yang dipandang Diana menunduk tanpa berani mengangkat muka.
"Jangan ulangi lagi!" Kata Diana pada Jimmy. Jimmy semakin menunduk dan semakin tidak berani mengangkat muka. Sementara seisi ruangan saling pandang dan penasaran dengan yang terjadi barusan.
Pintu ruangan terbuka, mereka semua menoleh ke arah bpintu dan melihat ada Herman, Farel dan Anita yang mengikuti Farel untuk bertemu Hesti pacar Farel. Hanya Diana yang masih duduk dan tidak beranjak untuk berdiri.
Semua orang berdiri saat mereka masuk.Toni yang melihat Herman masuk ruangan segera menyapanya, "Paman!"
Namun Herman mengabaikannya. Bersama Farel dan Anita, langsung menuju Diana dan Dara. Dara yang melihat mereka bertiga, melambaikan tangan dan tersenyum terutama pada Anita.
"Bibi!" Seru Dara. Dara minta turun dari kursi pada Diana. Setelah turun, tangan Dara melambai-lambai pada Anita, menyuruhnya datang kemari. Baik Anita, Herman dan Farel tersenyum geli melihat kelakuan Dara yang menggemaskan.
Semua orang yang melihat itu kembali tercengang. Anak itu mengenal mereka bertiga? Tentu saja itu mengejutkan. Bukankah tiga orang itu adalah orang-orang yang tidak mudah ditemui? Kenapa anak itu bisa mengenalnya?
"Diana, kamu apa tidak tahu siapa yang datang? Kenapa kamu masih duduk?" Tiwi bertanya dengan wajah yang dengki.
"Aku tahu siapa mereka." Jawab Diana.
"Kalau begitu kenapa kamu masih duduk?" Tiwi makin menunjukkan wajah tidak senang.
Diana masih tetap duduk dan tidak peduli dengan segala aturan apapun. Baginya semua orang itu sama saja. Tidak harus berlebihan.
Dara masih berdiri dan tangannya terus melambai ke arah tiga orang itu. Sementara Anita mempercepat jalannya untuk menuju Dara yang kian menggemaskan.
Tangan Dara yang mungil kemudian menarik-narik pakaian Diana yang masih duduk. Memberitahu siapa yang datang.
Diana pun tersenyum melihat tingkah Dara yang seakan sudah lama tidak bertemu dengan Anita.
Saat mereka bertiga sampai di di depan Dara dan Diana, ketiganya lalu membungkuk hormat. Dara kemudian mengulurkan dua tangannya dan minta digendong Anita.
Anita menoleh ke Diana, meminta persetujuan tentunya. Karena tidak sembarang orang bisa menyentuh Dara. Diana pun mebgangguk dan tersenyum.
__ADS_1
Dengan semangat lalu Anita menggendong Dara. Anita juga merindukan gadis kecil itu yang sangat menggemaskan.
Melihat itu, semua yang ada dalam ruangan itu menjadi kaku, hanya Jimmy yang tidak, karena dia sudah tahu siapa Diana sebenarnya. Di hati mereka semua bertanya-tanya, 'Siapa sebenarnya Diana?'