
Malam itu, Diana langsung meminta Herman dan Joshua datang ke rumahnya. Dia menunggu mereka berdua di lantai atas di mana Farel dan timnya tinggal dan bekerja.
"Kami sudah datang, Nona!" Sapa kedua jenderal yang baru saja tiba.
"Jenderal, Inspektur. Maaf aku memanggil kalian..tentu saja ini tidak sopan." Kata Diana menyambut.
"Tidak, Nona! Kami senang Anda memanggil kami." Jawab Joshua.
"Silahkan duduk!" Kata Diana.
Setelah mereka duduk, Diana menjelaskan banyak hal mengenai ruang bawah tanah, senjata dan lorong yang menuju suatu tempat.
"Inspektur, Jenderal! Maaf bila aku mencurigai kalian! Tapi, berdasar penyelidikan anak buahku, ada pejabat tonggi di bawah kalian yang terlibat. Bahkan juga ada oejabat di pemerintahan yang terlibat. Jika itu kalian berdua, maka rahasiaku dan anak buahku tentu saja sudah selesai. Dan kami bisa mati kapan saja." Ucap Diana tanpa penyesalan.
__ADS_1
"Aku ingin wilayah ini aman, jadi investasiku di sini akan berjalan baik dan aku tidak akan merugi." Lanjut Diana.
Dua jenderal.saling berpandangan, keduanya tentu saja sangat terkejut. Bagaimana mengatasi hal ini? Siapa yang terlibat? Tentu saja ini sangat sulit.
"Jenderal, Inspektur, aku menyerahkan sisanya kepada kalian. Kalian sudah melihat bagaimana aku membantu kalian. Jadi, urusan ini aku serahkan pada kalian berdua. Jika membutuhkan bantuanku atau orang-orangku, kalian bisa menghubungiku atau Paman Anton yang merupakan veteran Jenderal di militer. Tentu saja Paman Anton mengerti tentang hal-hal begini."
"Nona, kami sangat berterimakasih padamu, kami pasti butuh bantuanmu. Terus terang saja, aku srndiri belum bisa mendeteksi ada bawahanku yang terlibat." Jawab Inspektur Herman.
Kedua jenderal mengangguk-angguk, kemudian melihat satu sama lain.
"Baik, kami akan di sini melihat perkembangan." Jawab Herman.
"Baiklah, kalian bisa berkoordinasi dengan Farel dan timnya. Aku tidak mau melibatkan polisi dan tentara selain kalian, karena aku mencurigai kalian, tapi aku percaya kalian berdua." Ucap Diana. Kedua jenderal mengangguk mengerti.
__ADS_1
"Farel, siapkan dja tempat tidur untuk tamu terhormat kita. Beritahu apa yang perlu kepada mereka dan berikan hal serinci mungkin agar jangan salah sasaran!" Kata Diana pada Farel.
"Baik, Nona!" Jawab Farel. Lalu dia pergi memanggil pelayan untuk menyiapkan dua tempat tidur di dua kamar yang berbeda. Rumah itu luamayan besar. Rumah pemberian dari pengusaha properti Kota M, sebenarnya sangat luas, ada banyak sekali kamar, ruangan rapat, kolam renang, tempat berlatih dan juga ada kamar khusus pelayan yang berjumlah puluhan orang.
Diana mengalihkan pandangannya ke Dara, saat itu Dara sudah tertidur di depan komputer. Tadi dia bermain-main dengan komputer, entah apa yang dia ketikkan, semntara Diana bicara dengan Inspektur Herman dan Jenderal Joshua. Rupanya Dara mengantuk dan langsung tidur.
Diana merasa kasihan melihat Dara. Beberapa hari ini dia sering meninggalkannya. Dara mungkin ingin protes, namun dia tidak tahu caranya. Dana tersenyum.
Rambut Dara dikuncir dua. Dia selalu ingin sama seperti Diana. Apapun yang Diana pakai atau lakukan, maka Dara akan mengikutinya, harus sama. Diana menghampiri Dara, menggendongnya.
"Jenderal, Inspektur, tidak berapa lama lagi, aku akan pergi ke suatu tempat. Nenekku yang memintaku. Kalian harus secepatmya menyelesaikan ini agar aku bisa memulai pekerjaanku dengan serius di tempat wisata, dan aku bisa menyerahkan tugas ini pada orang lain keluargaku." Kata Diana.
"Baik, Nona!" Jawab kedua Jenderal
__ADS_1