
Malam itu, di keluarga Jatmiko diadakan jamuan nmakan malam. Jatmiko sengaja mengundang beberapa pengusaha yang selalu yang walaupun tunduk pada Rocky, tetapi selalu menentang. Hanya karena takut, maka mereka tidak berani terang-terangan.
Di antara para undangan, di sana ada Anton, Galang dan Rangga. Sedangkan Karmen dan Dara tidak bersama mereka. Jatmiko mengenalkan mereka kepada para pengusaha di sana.
Sebenarnya perusahaan Galang yang dikatakan oleh Anton sekarang juga dalam tekanan Rocky, makanya Anton bersikeras untuk melawan Rocky. Tiga hari, waktu yang ditetaapkan oleh Rocky sangat mepet. Maka Anton dan Galang harus bertindak tepat.
Rangga sudah melaporkan hasil penyelidikannya. Maka Anton sudah tahu apa yg harus dilakukan. Dia sudah membicarakan hal itu dengan Galang, Rangga dan Jatmiko sore tadi.
Saat sedang menikmati jamuan makan malam, terdengar keributan di luar. Tiba-tiba beberapa orang menerobos masuk dengan arogan. Mereka adalah tetua suruhan Rocky dan beberapa pengawal berbaju merah. Melihat itu, Jatmiko dan beberapa pengusaha sangat terkejut dan berdiri. Sedangkan Anton, Galang dan Rangga terlihat santai saja.
"Kenapa kalian menerobos masuk? Jika ingin bertamu, bisa juga dengan baik-baik!" Jatmiko tampak marah dengan kedatangan para tetua suruhan Rocky.
"Jatmiko, kamu sendiri yang meminta ini. Tuan Rocky sudah memperingatkan agar tamumu pergi, ternyata masih di sini dan malah mengundang pengusaha lain juga. Apa kamu mau melawan Tuan Rocky?" Jawab Paman Son dengan nada tinggi.
Sebenarnya Jatmiko tidak takut dengan para tetua ini. Bahkan jika dia melawan salah satunya, dia bisa menang. Namun di belakang mereka ada Rocky yang sangat kuat. Siapapun akan dikalahkannya. Jatmiko menghela nafas. Dia sebenarnya bisa mengandalkan Anton yang juga sangat kuat. Namun dia tidak akan berani memintanya untuk masalah ini.
"Sudah-sudah... Kalau ada masalah bisa dibicarakan baik-baik. Jangan dengan ribut. Kami sedang makan. Sebaiknya mari bergabung dan makan bersama. Baru bicara masalahnya." Tanpa menoleh, Anton bersuara. Semua orang menatapnya.
Anton justru sedang menikmati makanannya tanpa mempedulikan mereka. Para tetua justru marah mendengar perkataan Anton.
Namun, para tetua itu tidak berani bertindak gegabah. Akhirnya mereka pun duduk dan ilut makan. Tidak ada kata-kata sama sekali saat mereka makan bersama. Semua diam.
Para tetua terlihat saling pandang, melihat ke arah Anton, Galang dan Rangga dengan pandangan menyelidik.
Setelah selesai makan, Anton mulai membuka percakapan.
"Nah, sudah kenyang. Jadi sekarang ke inti masalahnya. Kalian ingin kami pergi dari Kota S, bukan?" Tanya Anton sambil memandangi para tetua.
__ADS_1
"Ya, itu perintah dari Tuan Rocky. Secepatnya kalian harus pergi dari kota ini." Yang menjawab adalah Paman Son. Nada bicaranya tidak sekeras tadi.
"Sebenarnya gampang saja. Kami memiliki kepentingan di kota S yang tidak bisa kami tinggalkan. Hanya kebetulan saya mengenal Jatmiko. Lalu dia menawari kami menginap di rumahnya beberapa hari. Apalah itu sebuah masalah yang sangat besar?" Anton meletakkan tangannya di bagian dada. Ingin tahu reaksi para tetua.
"Masalahnya, saat kalian berada di sini, Tuan Jatmiko mematikan ponselnya dan tidak dapat dihubungi. Itu yang membuat Tuan kami marah." Paman Son mencoba menjelaskan. Karena dari informasi, Anton dan lainnya merupakan tamu istimewa Jatmiko.
"Hahahaha... Jadi karena itu? Biar aku beritahu, ponsel seseorang bisa saja tidak aktif karena kehabisa baterai. Apakah itu suatu masalah besar bagi kalian? Hmmmm... Benar-benar orang yang tidak sabaran." Antpn menghela nafas.
"Jatmiko, kamu juga, kenapa ponsel bisa lupa kamu isi daya? Ah.. Hanya hal sepele begini sampai harus mengusir kami? Ckckckck..." Anton seperti sedang bicara pada dirinya sendiri kemudian.
"Maaf, Tuan, ada keperluan apa hingga Anda sampai dan menginap di Kota S?" Tanya Paman Son menyelidik.
"Oh, kami hanya ingin menyambangi teman-teman kami saja. Kebetulan hanya lewat saja. Dan itu seharusnya tidak mengganggu kalian para orang kaya di kota ini. Mohon sampaikan pada Tuan Rocky, kami mohon izin menginap beberapa hari. Setelah urusan selesai, kami akan pergi."
Anton seperti sedang meminta izin pada penguasa Kota S. Yang seharusnya mereka minta izin adalah pemerintah setempat. Dan itu sudah dilakukan oleh kepala keluarga Jatimiko, yaitu Laya.
"Juga, sampaikan maaf kami pada Tuan Rocky, datang kemari tanpa meminta izin darinya. Jika tidak diperkenankan menginap di rumah Jatmiko, maka kami akan menginap di hotel saja." Anton melanjutkan.
"Baiklah, Tuan Anton. Kami bisa menerima penjelasan Anda. Dan kami akan sampaikan yang Nada katakan pada Tuan Rocky. Kami akan mengabari nanti setelah keputusan dari Tuan Rocky." Jawab Paman Son. Dia sama sekali tidak melihat ancaman apapun dari Anton dan lainnya.
Saat tetua itu masuk pun, Anton, Galang dan Rangga juga tidak terpengaruh dengan mereka. Bahkan mereka sama sekali tidak ikut campur. Melihat itu, Paman Son yakin Anton tidak berniat ikut campur.
"Kami permisi dulu. Dan nanti akan kami kabari." Lukas berpamintan. Saat mereka hendak keluar, Anton, Rangga dan Galang pun berdiri.
*****
Vila kediaman Rocky
__ADS_1
"Hmmm... Jadi seperti itu. Baiklah, beritahu Jatmiko. Biar saja mereka menginap di rumahnya untuk beberapa hari. Asal tidak mengganggu acara pertemuan para pengusaha saja." Rocky kemudian menyetujui setelah mendengar penjelasan dari para tetua.
"Terimakasih, Tuan. Kami akan mengabari Jatmiko." Jawab Paman Son.
"Lukas, bagaimana persiapan pertemuan para pengusaha? Apakah suah siap semua?" Tanya Rocky pada Lukas setelah masalah tamu Jatmiko beres.
"Semuanya sudah beres, Tuan. Undangan sudah dikirim dan semua pengusahan sudah mengkonfirmasi akan hadir." Jawab Lukas yakin.
"Bagus kalau begitu. Jangan sampai jatah ke Tuan Robby berkurang. Kalau itu terjadi, kita semua akan mati." Rocky menjelaskan.
"Siap, Tuan!" Lukas sangat yakin dengan kemampuannya. Dia dan anak buahnya sudah menyiapkan semuanya dengan matang. Tinggal pelaksanaannya saja. Dia juga yakin, tidak ada pengusaha yang berani membangkang, termasuk Jatmiko.
******
Di dalam kamar Karmen, Dara sedang merengek. Dia marah karena mainannya tidak ada. Dan dia tentu saja sangat kesal. Mainan dan pakaiannya tertinggal di hotel milik Herlambang. Itu memang kesalahan orang-orang tua. Karmen yang membujuknya berkali-kali tidak bisa. Dara tetap marah dan tidak mau.
"Sayang, besok mainannya sudah datang. Kemaren tertinggal di tempat kakek Herlambang. Dara ingat kan sama kakek Herlambang?" Kata Karmen merayu Dara.
Namun Dara justru tangannya disilangkan di dada. Dia jelas masih marah.
Dara sangat sayang pada mainannya, karena itu adalah pemberian dari kakek dan pamannya di kota B. Walaupun Dara tidak bisa mengungkapkan isi hatinya, namun dia selalu mengingat pemberian dari kakek dan pamannya.
Karmen juga sangat memahami akan hal itu. Dara pasti sangat sayang pada mainannya.
"Sayang, bagaimana kalau kita jalan-jalan? Kita membeli ayam goreng di pinggir jalan seperti waktu itu. Pasti seru, kan?" Rayu Karmen Mendengan itu, Dara menurunkan tangannya. Kata jalan-jalan membuatnya menjadi luluh juga.
Kalau soal ayam goreng, di rumah Jatmiko, para pelayan selalu menyediakan ayam goreng kesukaan Dara. Namun kalau jalan-jalan, Dara pasti mau.
__ADS_1
Akhirnya Karmen membawa Dara pergi. Dia juga mengajak Galang dan Rangga. Sedangkan Anton tinggal di rumah Jatmiko.
Anita ikut bersama mereka dan beberapa pengawal mengikuti mereka atas perintah Jatmiko.