
Pagi itu, Nenek Sol sudah berada di lapangan desa. Lapangan itu berada di barat desa dan berbatasan dengan lokasi konstruksi. Demi keselamatan, Diana menghentikan sementara pembangunan dan akan dilanjutkan jika masalah telah usai.
"Nenek Sol, kami sudah datang." Kata Diana.
"Kemarilah, aku sudah menunggumu. Nona Diana, aku tahu bahwa leluhurku telah memilihmu sebagai pemegang pedang selanjutnya saat perang ini. Untuk perang kali ini, kamu akan menjadi panglimanya." Kata Nenek Sol.
Diana tidak terlalu terkejut. Mau sebagai panglima atau tidak, Diana tetap akan berada di garda depan untuk berperang melawan makhluk-makhluk itu. Dan tentu saja itupun walau tanpa diminta.
"Terimakasih, Nek. Aku akan menjaga pedang ini." Kata Diana.
Sementara sudah ada banyak orang berkumpul di lapangan yang sangat luas itu. Gubernur meminta agar penduduk desa diungsikan ke kota. Mulai hari ini.
Banyak bus dan truk di desa yang akan membawa orang dan barang, juga ada yang datang seperti dari kepolisian dan tentara yang akan berperang. Sementara dari perguruan Paser Maut akan datang esok harinya sesudah mengkonfirmasi pada Diana.
Dari sekian banyak yang datang, dari tentara dan polisi yang paling banyak. Atas insttuksi dari Nenek Sol, semua peralatan militer memang tidak berguna, tapi itu bisa mengulur waktu. Perang mungkin akan terjadi agak lama, karena pihak musuh memang menginginkannya.
Mengulur waktu tentu saja akan menyita tenaga. Sementara, Raja Naga belum diketahui akan datang kapan. Namun untuk biaya perang sendiri ditanggung oleh pemerintah.
Diana sudah menghubungi Galang, namun ponselnya masih belum aktif. Dia sudah mengirimkan pesan agar jika sampai, Galang langsung ke provinsi selatan untuk membantunya melawan musuh.
Dan pesan itu belum terkirim sampai sekarang. Namun Diana tidak mau ambil pusing. Dia sendiri yang akan melawan monster-monster yang tidak bisa mati itu. Sebenarnya dia khawatir pada bala bantuan. Tentu saja akan ada yang mati ketika peperangan itu terjadi. Namun, sebuah perang pasti akan ada nyawa yang dikorbankan.
Saat terakhir di bunker, Farel memunjukkan foto monster kepada delapan orang anak buah David, ketika melihatnya, mereka yakin tidak takut. Mereka mengatakan pernah melawan monster di bawah laut saat dulu masih bertugas. Itu sudah biasa, kata mereka.
__ADS_1
Jensderal Joshua memerintahkan angkatan darat untuk mempersiapkan senjata yang dibutuhkan. Baju besi untuk semua petarung juga telah dikirim dengan puluhan truk. Mereka mempersiapkan semuanya dengan baik.
Para ahli perangpun sudah berada di sana untuk melatih strategi. Diana sebenarnya tidak mau dipilih sebagai Panglima Perang kali ini. Namun tidak ada pilihan, malam itu memang dia benar-benar sebagai super hero ketika menyelamatkan gubernur. Apalagi, perang kali ini memang Diana lah yang pertama melawan para monster bersama Karmen dan pemuda berambut panjang.
Jadi, Inspektur Herman dan Jenderal Joshua pun memilihnya. Ini adalah perang melawan siluman, manusia biasa mungkin tidak akan sanggup, namun Diana dan Karmen telah terbukti sanggup.
"Nona, Diana!" Seseorang memanggilnya. Diana menoleh, dan ternyata adalah Jenderal Joshua.
"Jenderal!" Jawab Diana.
"Kami dari militer sudah mengirimkan seribu prajurit pilihan dengan senjata otomatis. Bagaimana persiapan Anda, Nona? Menurut penjelasan, mereka tidak mempan senjata apapun, namun kami tetap mengerahkan pasukan bersenjata selain pasukan petarung." Jenderal Joshua ingin tanggapan dari Diana.
"Sebenarnya pedangku bisa membunuh mereka, Jenderal. Tapi aku tidak mungkin menghadapi mereka seorang diri. Benar, senjata apapun tidak akan bisa membunuh mereka. Tapi setidaknya, pasukanmu yang pertama kali akan menyerang mereka dengan senjata otomatis. Kita akan lihat hasilnya nanti. Yang kita butuhkan adalah bertahan hidup hingga Raja Naga datang. Menurut temanku, hanya Raja Naga yang mereka takuti. Menurut perkiraannya, Raja Naga akan sampai di sini dua hari atau tiga hari dari mulai kita berperang dengan mereka." Diana menatap Karmen.
"Kata temanku, Raja Naga adalah kerabat dekat kami, tapi kami belum pernah dengar tentang kerabat kami yamg merupakan Raja Naga." Diana menghentikan ucapannya.
"Inspektur!" Jawab Diana.
"Aku dan Inspektur Herman akan berperang di sampingmu, Nona. Kami adalah petarung, jadi tidak elok rasanya kami hanya diam saja." Kata Jenderal Joshua.
"Jenderal, Inspektur, strategi perang tentu kalian berdua lebih paham daripada aku, dan aku sangat senang dengan adanya kalian berdua di sini, tentu saja itu akan menyulut semangat semua prajurit. Ini akan menambah kekuatan mental para prajurit. Untuk logistik sendiri aku sudah mengalokasikan dana satu triliun. Walaupun kita melawan monster, tetapi mereka juga berperang dengan aturan. Selama malam, kita bisa beristirahat." Kata Diana.
Semua orang yang mendengar ucapan Diana merasa kagum. Gadis cantik ini sangat memperhatikan kebutuhan orang lain dan bahkan dia sendiri rela berkorban demi negaranya dan orang lain. Jadi, alangkah malunya jika pejabat sendiri tidak ikut membantu.
__ADS_1
Namun, walaupun begitu, Diana sendiri tidak sombong dan selalu bersikap rendah hati, padahal semua orang sangat menghormatinya.
Pemerintah juga sudah menyiapkan rumah sakit darurat, ribuan trnaga medis telah dikirimkan ke sana. Itu sudah beserta dengan perlengkapannya. Jalur menuju ke selatan juga ditutup kecuali untuk keperluan perang.
Wartawan diizinkan namun mereka akan dipantau oleh tim Farel. Ada banyak aturan yang diterapkan pada mererka, terutama media online. Diana memberi tugas pada tim Farel agar benar-benar mengawasi wartawan. Tim cyber dari kepolisian juga dikerahkan untuk membantu tim Farel.
Farel bertuga menjadi instruktur, semua hal harus dilaporkan padanya mulai hari pertama mereka bertugas. Sementara Dara hanya kebingungan di pelukan Diana.
*****
Hari-hari berlalu dengan sangat cepat, padahal mereka tidak ingin hari selalu cepat berganti. Mereka ingin setiap hari sangat lama, dan bahkan kalaj bisa, hqri tidak cepat berlalu.
Ya, pemikiran seperti itu memang sangat beralasan. Bayangkan, dalam waktu dekat, mereka akan menghadapi monster, makhluk kebal senjata. Apakah itu tidak menakutkan?
Pada hari H minus dua, "Nenek, apakah bisa aku bertarung satu lawan satu sampai mati dengan pemimpin mereka, dan jika salah satu kalah, maka harus tunduk dan menyerah?" Tanya Diana pada Nenek Sol.
"Percuma, ketika pemimpin mereka tewas, tetap saja mereka akan dengan cepat memilih pemimpin baru dan itu berlaku seterusnya. Dulu leluhur Lasa bisa berdamai dengan mereka, itu semua karena Raja Naga Kesembilan. Keteika pertempuran terjadi, lebih separuh pasukan mereka berhasil dibakar habis oleh Raja Naga. Mereka akhirnya menyerah, dan leluhurku membuat perjanjian. Perjanjian itu terbuat dari batu dan tertulis dalam bahasa Sansekerta."
"Kedua belah pihak menyepakati, barang siapa nanti anak cucunya melanggar, maka akan terjadi perang kembali. Itu sudah terjadi lima ratus tahun yang lalu. Dan terjadilah hari ini, aku memang tidak pernah menyangka bahwa akan terjadi perang lagi dengan mereka. Akau tidak pernah belajar beladiri. Aku tidak bisa apapun, dan pesan dari orang tuaku, jika suatu hari perjanjian batal, saat berperang, carilah siapapun yang cocok dengan pedang kilat, maka dia adalah panglima perangnya.
"Aku melihat Nona Diana mampu mengendalilan pedang kilat. Dan saat waktu pertama kali pedang dihunus, pedang mengeluarkan kilatan petir. sudah berapa orang anak dan cucuku mencoba menghunus pedang, namun tidak ada reaksi apapun.
"Jadi aku yakin, Nona Diana adalah orang yang terpilih."
__ADS_1
Penjelasan Nenek Sol membuat setiap yang mendengar memiliki keberanian untuk maju berperang. Setidaknya Nona Diana pasti sangat mampu menghadapai makhluk-makhluk jelek itu.
Dara penasaran, ibunya adalah Panglima Perang? Lalu dia apa?