
"Lang, Paman sudah selesai." Kata Rangga sambil berbisik. Lalu Galang menunjuk pada tangan. Maksudnya adalah menunggu jam.
"Semoga sesuai rencana." Galang juga berbisik.
Sementara di bagian lain ruangan itu, tampak seorang pengusaha pria yang sudah tua saat ini terlihat tidak sehat. istri yang bersamanya sedang memohon pada para penyekap untuk membebaskan mereka. Dia ingin membawanya ke rumah sakit.
"Baik! Aku akan membebaskan kalian berdua." Selesai bicara, pemimpin kelompok lalu menggerakan kepalanya ke anak buahnya. Seorang mendekati pengusaha itu. Lalu memberondong mereka dengan peluru dari senapan otomatis. Seketika dua orang itu tewas.
"Siapa lagi yang ingin dibebaskan?!" Seru pemimpin komplotan. Lalu setelahnya tidak ada suara lagi.
Bebepa wanita mulai menangis, namun tak ada suara yang keras. Hanya terdengar isaknya saja. Tampak semua orang mulai cemas. Ini terlalu menakutkan bagi mereka.
"Kapten? Apakah Anda sudah siap?" Tanya Galang. Herry mengngguk, dia akan menembak dua orang di dekst pintu. Dia sebenarnya agak kuatir. Ini pertama kalinya dia ikut menjadi sandera.
Saat itu, terlihat pemimpin komplotan yang membawa pistol sedang menelpon. Dia menghubungi salah satu sekretaris dari sebuah perusahaan. Dia memegang pistol di tangan kirinya dan terlihat lengah, sementara yang lainnya juga terlihat sedang memperhatikan bos mereka yang sedang menelpon.
Kapten Herry yang sudah memberi aba-aba bersiap untuk menembak. Dia tahu, dia harus sekali tembak membunuh sasaran. Jika tidak, maka itu berati gagal dan bisa memakan korban.
****
Sementa itu di lobi, polisi dan ambulan sudah datang. Para penjahat yang sudah tewas itu kemudian dibawa ke rumah sakit dengan ambulan. Para polisi itu adalah anak buah Kapten Herry.
Setelah urusan di lobi selesai, kemudian mereka bergerak ke atas. Berdasarkan pesan dari orang tak di kenal, mereka harus menunggu di lantai 6. Saat ini mereka tidak tahu di kamar nomor berapa yang terjadi penyekapan, namun, mereka melihat ada beberapa mayat yang tergeletak di sana. Salah satunya di dekat lift.
__ADS_1
Akhirnya beberapa polisi diperintah mengumpulkan mayat-mayat itu dan membawanya ke lobi. Setelah di periksa, kematian orang-orang itu karena pisau, bukan karena tembakan. Namun, karena mereka membawa senapan mesin, akhirnya mereka berkesimpulan bahwa mayat-mayat itu adalah penjahatnya.
Tiba-tiba, para polisi itu mendengar dua tembakan dan dua suara orang menjerit.
*****
Galang memberi kode agar Herry segera beraksi. Saat itu, baik Galang, Karmen dan Rangga sudah bersiap.
"Dor..! Dor...!" Dua suara letusan tiba-tiba terdengar memekakkan telinga. Terdengar teriakan kesakitan dan dua orang yang berjaga di pintu tumbang. Sebuah peluru menembus kepala masing-masing orang itu dan akhirnya tewan. Bos penjahat yang sedang menelpon terkejut, dan 4 orang lainnya juga terkejut. Mereka segera akan bereaksi.
Namun, ketika mereka sedang terkejut, tiba-tiba 3 bayangan berkelebat secepat peluru. Tak ada yang melihatnya, tahu-tahu Karmen, Rangga dan Elang sudah merebut senjata orang-orang itu. Rangga tampak memegang 2 senjata, Karmen satu senjata Galang satu senapan dan selanjutnya, dia telah memaksa pemimpin kelompok itu berjongkok dan menodongkan pistol ke kepalanya.
Herry yang melihat itu lalu berdiri dan segera memborgol pemimpin. Dan di detik berikutnya, datang polisi yang sudah menunggu di luar dengan senjata lengkap.
Namun, kali ini, ada dua korban. Galang, Rangga dan Karmen sangat menyesal karena jatuh korban. Namun, itu tidak sepenuhnya kesalahan mereka. Semua orang juga tahu kejadiannya.
Saat inu suasana ruangan tampak riuh, semua orang nampak ada yang yang gembira dan ada yang trauma, dua korban lalu dibawa keluar, dua korban dari pihak penjahat juga dibawa ke rumah sakit. Lalu penjahat yang hidup digelandang ke kantor polisi untuk proses penyidikan.
Setelah semua polisi dan pihak rumah sakit pergi dari ruangan. Herry tiba-tiba berlari ke podium, dia menyalakan microphone.
"Bapak dan ibu, mohon perhatiannya. Kita telah diselamatkan oleh empat orang yang amat hebat hari ini. Kita semua tahu, kita pasti akan menceritakan pengalaman ini ke luar. Tapi, mereka.." Herry menunjuk ke Galang, Rangga dan Karmen, "Tidak bersedia menunjukkan identitas mereka. Apalagi mereka sampai masuk media. Jadi mohon semua merahasiakan keberadaan mereka. Apakah semua paham dengan yang saya maksud?" Kata Heri.
Semua orang mengangguk dan menjawab, "Paham!"
__ADS_1
Herry tersenyum. Lalu, setelah semua orang mengerti maksudnya, dia berjalan ke arah Galang, Karmen dan Rangga. Setelah mengucapkan terima kasih, dia lalu pergi.
Suasana ruangan itu kembali ramai. Mereka semua membicarakan Galang, Rangga dan Karmen. Sementara ketiganya tidak peduli. Mereka lalu menemui Herlambang, berbicara beberapa patah kata lalu mereka pamit dan pergi dari ruangan itu. Semua orang melihat kepergian mereka. Dila tak terkecuali.
Saat itu, wanita ibu Robin mendekati Dila. Dia dengan senyum yang terpaksa kemudian berkata, "Sebenarnya Robin juga bisa mengalahkan mereka, tapi malah keduluan orang-orang itu." Katanya dengan penuh percaya diri. Dila merasa risih, namun dia tetap berusaha tersenyum.
"Nak Dila, sebaiknya memang Nak Dila cepat-cepat menikah. Robin paling cocok dengan Nak Dila. Dia bisa melindungimu." Wanita itu melanjutkan. Danny yang melihat Dila seperti tertekan dengan perkataan wanita itu akhirnya mengajaknya ke dekat ayahnya.
Danny merasa kesal mendengar suara wanita itu. Padahal mereka baru mengalami kejadian yang sangat mengerikan, namun bisa-bisanya wanita itu masih membicarakan perjodohan.
Saat itu, Herlambang langsung naik podium dan memberi sambutan singkat.
"Bapak dan Ibu sekalian. Mohon maaf acara malam ini sudah selesai. Dan kita boleh bubar. Kita baru saja mengalami musibah dan tentu saja kita telah selamat. Buat korban, saya ucapkan turut berbelasungkawa."
"Saya sekali lagi mengucapkan terimakasih untuk mereka. Telah dua kali menyelamatkan keluarga saya. Semoga ke depan tidak akan ada lagi hal seperti ini. Terimakasih."
Setelah mengucapkan itu, Herlambang lalu menyalami semua tamu. Setelah itu, semua orang membubarkan diri. Mereka pulang ke rumah masing-masih. Beberapa orang polisi tampak berada di luar pintu. Kemudian di depan juga ada beberapa orang polisi. Terakhir, masih ada juga polisi yang berjaga di tempat parkir. Mereka sudah memeriksa setiap mobil barangkali dipasang bom. Namun mereka tak mememukan bom.
Keadaan hotel kembali normal. Herlambang dan keluarga tak langsung kembali ke rumah. Mereka menuju kamar hotel Galang.
Galang, Karmen, Rangga, Anton dan Dara belum tertidur, mereka masih mengobrol di ruang tengah. Sementara Dara masih tiduran di paha Anton sambil minum susu. Dara terlihat masih belum mrngantuk karena dia sudah tidur saat di podium dan saat ditinggalkan Anton. Dara saat ini masih menguping pembicaraan orang dewasa.
"Kita sudah menyembunyikan identitas kita dan hanya keluarga Herlambang yang tahu, akhirnya terbongkar juga. Mungkin sebaiknya kita cepat pergi dari sini." Kata Galamg.
__ADS_1
Tiba-tiba pintu diketuk. Rangga membuka pintu, saat itu terlihat keluarga Herlambang di depan pintu. Rangga mempersilahkan keluarga ini masuk.