Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Bertemu Lagi


__ADS_3

Alun-alun Kota Pulau kini sedang dipercantik dengan berbagai ornamen pesta. Pesta itu dimaksudkan adalah untuk menyambut Galang dan lainnya. Berbagai hiasan seperti lampu, kain-kain spanduk dan lain-lain terlihat sudah dipasang dengan rapi dan indah.


Alun-alun itu sangat luas, walaupun tidak bisa menampung orang dari seluruh kota, namun ada ribuan orang bisa hadir dan berada di alun-alun untuk mengikuti pesta.


Untuk biaya pesta sendiri menurut Sanjaya, itu adalah uang pribadinya yang telah ia kumpulkan selama ini. Di bagian pinggir terlihat sebuah panggung yang megah dengan berbagai hiasan.


Saat itu Sanjaya sedang melihat-lihat kesiapan tempat pesta. Sanjaya puas dengan persiapan ini. Dia bahkan memuji para pekerja yang membuatnya.


Diana, Rangga, Karmen dan Dara saat ini sedang berada di sebuah pondok bambu yang dibuat di pinggiran alun-alun. Mereka duduk-duduk dengan santai menikmati indahnya alun-alun kota yang sedang dihias. Walau belum rampung seratus persen, namun sudah terlihat keindahannya.


"Rangg, temani aku beli minuman. Tampaknya Dara haus." Ajak Karmen pada Rangga. Dara mengerjapkan mata dan mengangguk-angguk.


"Dara mau apa?" TAnya Rangga.


"Eskrim." Jawab Dara singkat. Karmen dan Rangga kemudian pergi mencari toko minuman.


Dua buah mobil memasuki area parkir alun-alun. Tampak keluar dari sana pemuda yang tadi berada di restoran yang mengaku diundang oleh Raja Kota Pulau. Saat itu semua orang di restoran sangat menghormatinya dan lagi, manajer restoran sampai datang dan melayani mereka minum.


Sampai suatu ketika, Rangga membisikkan sesuatu pada manajer, dan manajer itu marah dan buru-buru mengejar dan memanggil Galang. Diana tersenyum sendiri saat mengingat itu. Kini pemuda itu dan orang-orangnya berada di sini. Dan, ada dua orang perempuan yang juga turun dari mobil, mereka adalah Melisa dan Merry, ibunya Melisa.


Diana makin tersenyum menyaksikan itu. Dara yang melihat Diana tersenyum sendiri, memandang wajahnya dan mendekatkan wajahnya pada Diana. Dara bertanya-tanya, ada apa ibu tersenyum sendiri? Pikirnyadalam hati.


Diana yang menyadari Dara memandanginya, langsung memegang wajah Dara. "Maaf, sayang. Ibu tidak memperhatikanmu." Kata Diana sambil malu-malu walaupun itu adalah Dara.


Saat itu, Melisa dan ibunya telah sampai di depan Diana. Saat mereka melihat Diana, mereka ingin pamer soal pemuda itu pada Diana. Diana tahu apa yang akan dilakukan Melisa dan ibunya. Jadi dia diam saja.


"Oh, Diana, ternyata kamu itu pengasuh, ya?" Tanya Melisa pada Diana. Diana hanya diam saja. Dia tidak menggubris perkataan Melisa. Ibunya Melisa juga mendekat.


"Diana! Kamu tahu pemuda itu? Dialah yang menangkap Raja mafia Suryanata. Dia adalah tamu kehormatan Raja Kota Pulau. Kami tadi iklut satu mobil dengannya. Benar-benar pemuda yang hebat. Sepertinya dia tertarik pada Melisa." Kata Merry mulai lagi.

__ADS_1


Diana tersenyum masam. Dia sebenarnya tidak ingin bertemu dengan orang ini lagi. Entyah kenapa, Kota Pulau sepertinya sangat sempit dan tidak ada tempat yang bisa menjauhkannya dari Melisa dan ibunya.


"Oh syukurlah, Nyonya. Sepertinya Nona Melisa cocok dengan pemuda itu." Diana menanggapi dengan malas. Awalnya hanya ingin melihat-lihat saja, malah pada akhirnya bertemu dengan kedua orang ini lagi.


"Ya tentu saja, tidak seperti kamu. Siapa yang cocok sama kamu? Tentu saja tidak ada. Hanya seorang pengasuh saja." Kata Merry lagi. Nadanya seperti biasa, mengejek, menghina, merendahkan dan entah apalagi.


Diana diam saja. Dia tidak ingin sekali berlama-lama berdekatan dengan kedua orang ini. Dia ingin secepatnya masuk ke kulkas untuk mendinginkan kepalanya.


"Ya, Diana kenapa kamu diam saja? Anak siapa yang kamu asuh ini? Haha!" Melisa tertawa senang melihat Diana dipermalukan. Diana hanya diam saja. Daia bermaksud pergi dari sana dan menggendong Dara. Namun dihalangi oleh Melisa.


"Ibu, dia mau kabur lagi. Dasar perebut pacar orang. Aku akan membalasmu kali ini Diana!" Melisa tampak emosi. Entah apa yang membuatnya emosi. Pacarnya dulu meninggalkannya dan memilih mengejar Diana. Namun Diana tidak mau. Dan sampai sekarang Melisa masih marah pada Diana.


Diana tidak habis pikir, kok ada orang seperti ini? "Melisa, aku mau pergi, jangan halangi aku!" nada bicara Diana terlihat meninggi.


"Mau pergi? Enak saja. kamu tahu, di Kota Pulau ini kamu mau pergi ke mana?" Melisa dengan arogan masih menghalangi Diana.


"Bisakan kalian berdua tidak menggangguku?!" Diana hilang kesabaran dan berteriak. Orang-orang di sekitar melihat ke arah sana. Pemuda itu mendekati Melisa


Pemuda itu tertegun dfengan kecntikan Diana. namun dia tidak ingin kehilangan muka di hadapan Merry dan Melisa. "Hai, apa yang kamu lakukan pada mereka?" Tanya pemuda iotu pada Diana.


"Tidak ada urusannya denganmu!" Jawab Diana ketus.


"Dia adalah pacarku, jadi itu urusanku juga!" Pemuda itu membentak Diana dan membuat Dara ketakutan.


"Tunggu! Apakah kamu yang mena ng kap Raja Mafia?" Tanya Diana tiba-tiba.


"Dia memang yang menangkapnya. Apa kamu ada masalah? Bahkan dia ini dapat undangan dari Raja Kota Pulau." Yang menjawab adalah Melisa yang saat itu menyilang ksn tangan di dada.


"Oh, di mana kamu menangkapnya?" Tanys Diana lagi.

__ADS_1


"Ada apa Diana? Kamu tidak layak bertanya begitu padanya. Kamu itu suapa?" Gadis sombong itu terlihat sanga t marah dan meremehkan Diana.


"Bukankah Raja Kota Pulau ada di sana?" Tangan Diana menunjuk ke arah di mana Raja Kota Pulau berada, "Mendingan kalian mendatanginya saja." Kata Diana santai.


Saat itu, Karmen dan Rangga datang. Melihat Diana ditindas, Rangga marah. "Oh, kamu kan yang menangkap Raja Mafia?" Tanya Rangga mengejek.


"Tentu saja! Dialah yang menangkap Raja Mafia iti! Memangnya ada apa?" Yang menjawab lagi-lagi adalah Melisa.


"Tanyakan padanya, bagaimana cara menangkapnya. Jangan-jangan dia berbohong." Rangga lantas tersenyum ke arah pemuda itu. Amarhnya seketika hilang dan berganti dengan nada mengejek.


"Apa urusanmu? Dia datang kesini karena Undangan Ruan Raja Kota Pulau." Jawab Melisa.


"Oh, begitu, ya? Hei Tuan yang menangkap Suryanata, aku dengar, orang yang menangkap Suryanata lengannya terkena tebasan pedang besarnya. Boleh aku lihat?" Rangga semakin mengejek pemuda itu yang saat ini makin pucat.


Melisa pun terkejut saat mendengar ucapan Rangga. Dia lalu memperhatikan lengan Pemuda itu, tidak ada tanda-tanda bekas luka. Baru tadi pagi para perompak ditangkap. Seharusnya lukanya masih belum kering. Melisa melihat pemuda itu baik-baik saja.


"Hei pemuda pembohong, kamu berani datang kemari untuk membohongi semua orang? Dasar tidak tahu malu!" Rangga pun semakin mengejeknya. Tatapannya kini tertuju pada pemuda itu yang wajahnya pucat.


"Aku dapat undangan dari Raja Kota Pulau. Ayahku yang diundang, tapi karena ayahku tidak bisa datang, maka aku yang mewakilinya." Kata Pemuda itu mulai bisa menguasai diri.


"terserah saja! Jangan ganggu kami di sini. kalau kalian tidak pergi, maka jangan salahkan aku jika bertindak kasar. kalian telah menindas orang yang tidak seharusnya ditindas. Kalian akan menyesalinya!" rangga mulai mengancam.


"Apa maksudmu?" Tanya pemuda itu.


"Pergilah sebelum kesabaranku habis!" Bentak Rangga. Diapun memegang kerah baju pemuda itu lalu melemparkannya. Pemuda itu terhempas dan jatuh menabrak orang-orang yang bersamanya.


"Kamu? Aku akan melaporkan pada ayahku. Kamu akan tahu akibatnya." Ancam Melisa.


"Aku tidak peduli pada ayahmu. Suruh dia datang kesini, biar aku menghajarnya!" Suara Rangga terdengar serak. Dia mulai marah lagi.

__ADS_1


Akhirnya Melisa dan ibunya pergi diikuti oleh pemuda itu dan orang-orangnya. Melisa pergi dengan penuh dendam


__ADS_2