Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Ke Tempat Wisata


__ADS_3

Jam delapan pagi tepat, rombongan gubernur sudah sampai di hotel. Tampak di sana Farel dan timnya sudah menunggu. Namun Diana, Dara, Karmen dan Anita belum terlihat. Kapten Herry menemui Farel.


"Nona belum keluar, kami sudah di sini sekitar sepuluh menit." Kata Farel pada Kaptem Herry.


"Baiklah, kita tunggu saja." Jawab Herry.


Tampak ada puluhan mobil SUV sudah terparkir di depan hotel. Itu adalah mobil rombongan gubernur. Selain itu, terlihat juga Inspektur Herman juga ikut bersama rombongan.


Gubernur dan istrinya, serta pejabat terkait proyek yang hendak meninjau lokasi tampak turun dari mobil.


Jenny bersama calon mertua juga ikut turun. Ayah Manan adalah pejabat di pemerintahan yang mengurus soal proyek. Jenny tampak cantik dengan pakaian yang ia kenakan. Sementara Manan berseragam polisi, dia ada di dalam mobil yang membawa tahanan. Masing-masing tahanan di bagi dalam tiga mobil, dan dalam mobil ada dua polisi, satu sebagai sopir dan satunya lagi duduk di samping sopir. Semua polisi melengkapi diri dengan rompi anti peluru dan membawa sejata api jenis pistol.


Sementara satu kompi polisi dan satu kompi tentara ada di dalam dua truk. Truk polisi dan truk tentara. Atas permintaan Diana, tahanan akan dibawa ke lokasi proyek dan tinggal di sana untuk diperiksa oleh Farel dan timnya.


Sejak tadi, mata Jenny selalu melihat ke arah Farel yang saat itu sedang mengobrol dengan Kapten Herry. Farel memang cukup tampan. Apalagi dia mengenal Kapten Herry dan terlihat akrab, itu membuat Jenny iri. Kanapa bukan Manan yang ngobrol dengan Kapten Herry?


Di tempat lain, tampak banyak orang yang menyaksikan rombongan itu. Mereka ingin tahu apa yang terjadi. Beberapa wartawan tampak sudah berada di sana dan akan ikut bersama rombongan ke lokasi proyek. Namun mereka tidak diberitahu bahwa di dalam mobil ada tahanan yang akan dibawa ke sana.


Ketika mereka bertanya soal, kenapa membawa tentara dan polisi yang terlalu banyak?


"Kalian tahu sendiri, beberapa waktu lalu gubernur dalam bahaya, tentu saja kami juga tidak ingin membahayakan Gubernur." Jawab Inspektur Herman yang berdiri agak jauh dari gubernur.


Selain didampingi Inspektur Herman, gubernur juga didampingi oleh Jenderal Joshua, seorang perwira bintang tiga sekaligus kepala tentara di Kota M. Saat dikonfirmasi dengan jawaban Inspektur Herman, Joshua juga menjawab hal yang sama.


"Apa pendapat Anda soal Nona Diana?" Tanya wartawan pada Joshua.


"Oh, dia gadis yang hebat tentunya." Jawab Jenderal Joshua.

__ADS_1


"Apakah di kemudian hari pihak militer atau kepolisian akan merekrutnya?" Tanya wartawan lagi.


Inspektur Herman dan Jenderal Joshua tertawa.


"Pertanyaan kalian sungguh tidak ada jawabannya." Jawab Joshua.


"Bayangkan kalian sehebat Nona Diana dan kaya raya, apakah kalian mau menjadi tentara atau polisi? Hahaha!" Lanjut Joshua sambil berkelakar. Di sampingnya, Herman juga ikut tertawa.


Saat itu, dari dalam hotel tampak berjalan keluar Diana, Karmen, Dara dan Anita. Diana menakai celana panjang katoon berwarna coklat muda dipadu dengan kemeja panjang berwarna putih, begitu juga dengan Karmen, Dara dan Anita. Keempat orang itu berjalan keluar bak model. Mereka saat itu menjadi perhatian. Farel dan timnya yang mengetahui itu segera berbalik dan membungkuk hormat.


"Salam, Nona Diana!" Sambut mereka serempak.


Di sisi lain, tampak Gubernur dan rombongan juga melihat ke arah Diana. Dia melambaikan tangan ke arah Diana. Diana dan lainnya langsung menuju ke arah gubernur. Kapten Herry berjalan di belakang mereka. Dara sampai berlari untuk mengimbangi laju langkah orang-orang dewasa.


"Apakah semua sudah seperti yang aku katakan, Kapten?" Tanya Diana tanpa memalingkan muka.


"Baiklah, jangan sampai bocor." Kata Diana.


Diana menyapukan pandangannya, dia melihat Jenny. Lalu dia menundukkan kepala dan tersenyum dan terus berjalan ke arah gubernur. Wajah Jenny langsung berubah merah. Dia tidak menyangka, di sini Diana ternyata orang yang sedang ditunggu.


Bahkan Kapten Herry sampai harus membuntutinya dan diacuhkannya. Bagaimana dengan pacarnya?


Saat itu ayah mertuanya berada bersama pejabat lainnya di belakang gubernur. Saat Diana tiba di sana, Jenny melihat ayah mertuannya menundukkan kepala pada Diana. Oh, Jenny benar-benar merasa sangat kecil sekarang.


Saat itu inspektur Herman dan jenderal Joshua juga di sana menyambut Diana.


"Jenderal, Inspektur, aku sudah membawa orang-orangku. Sesudah ini, kalian yang bertanggung jawab membantu mereka." Kata Diana pada Joshua dan Herman.

__ADS_1


Herman dan Joshua segera menjawab, "Siap, Nona!" Lalu mereka semua memasuki mobil. Beberapa polisi dan tentara membantu Farel dan timnya menaikkan barang-barang yang mereka bawa ke dalam truk. Dan mereka sepuluh orang naik di truk polisi dan sepuluh orang naik di truk tentara. Sedangkan Farel, masuk ke mobil yang dibawa oleh Herry.


Diana dan Dara satu mobil dengan Gubernur. Mobil jenis Rolls Royce Limousine itu sangat luas. Mobil seharga satu triliun itu adalah kendaraan dinas gubernur jika dalam keadaan darurat.


Yang paling heran saat itu adalah Dara. Biasanya dia naik mobil yang dalamnya sempit. Bahkan dia masih harus pakai kursi sendiri khusus bocil yang menambah keadaan dalaman mobil makin sempit. Tapi mobil ini dalamnya sangat luas. Dara sangat senang.


"Nanti ibu suruh beli mobil seperti ini, ya." Kata gubernur pada Dara. Dara melihat ke arah Diana. Diana pura-pura tidak melihatnya. Dara tampak marah dan dia membuang muka. Gubernur dan istri tertawa dengan tingkah Dara.


"Ibu!" Teriaknya.


"Iya, besok kita beli." Jawab Diana sambil tersenyum. Dara lalu menggerak-gerakkan jarinya. Besok, hari ini, berarti kurang sehari lagi. Dia harus tidur dulu lalu besok membeli mobil. Gerakan-gerakan itu membuat seisi mobil tersenyum-senyum. Namun tidak berani tertawa karena takut Dara marah.


Dara yakin ibunya pasti akan membelinya. Karena ibunya uangnya sangat banyak. Dara tersenyum sendiri membayangkan bahwa dia sudah mulai pintar berhitung. Mula-mula dia akan tidur, ketika bangun, ibunya akan membeli mobil seperti ini agar dia bisa tidur dalam mobil seperti di dalam kamar. Lalu dia juga bisa menghitung, bahwa uang ibunya sangat banyak. Dara pun menggerak-gerakkan jarinya dan terus menghitung.


Di mobil yang berbeda, ",Ayah mertua, sebenarnya Diana itu siapa?" Tanya Jenny yang duduk di samping ibu mertuanya. Sementara di kursi paling belakang, duduk dua orang gadis yang memakai seragam polisi. Kedua gadis itu adalah Tami dan Raya yang merupakan sepupu dari Manan.


Manan sendiri adalah anak satu-satunya, sedangkan Tami dan Raya tinggal bersama keluarga Manan karena sebenarnya rumah mereka berada di provinsi kepulauan.


"Diana? Dia itu orang hebat, gadis yang sangat kaya. Uangnya tidak bisa dihitung, dan dia juga sangat hebat. Beberapa waktu lalu, dia menyelamatkan gubernur dari pembunuhan, lalu, sekarang dia akan berinvestasi di proyek pemerintah. Ayah yang menangani proyek, jadi ayah yang bertanggungjawab pada Nona Diana nantinya." Jawab Ayah Manan.


"Dia dulu teman sekolahku, sangat miskin, mengapa sekarang dia sangat kaya?" Tanya Jenny dengan kesal.


Semua orang dalam mobil terkejut. Benarkah yang dikatakan Jenny?


"Orang bisa saja sukses setelah sekolah, ada yang sukses menjadi pengusaha, ada yang hanya bekerja di perusahaan. Nona Diana ini perusahaannya banyak sekali, bahkan tambang batu permata hitam di pulau adalah miliknya. Yang ayah senang dari Nona Diana, dia itu sangat rendah hati. Dia tidak sombong dan sangat senang membantu orang lain." Ayah Manan memberi penjelasan.


Tentu saja sekarang Jenny tidak nyaman, kemaren dia menghina Diana sebagai seorang pencuri. Diana bahkan tidak marah, dia hanya ingin Jenny pergi, saat itu mungkin Diana sangat tidak nyaman dengan tingkah Jenny. Jenny sangat menyesal saat ini.

__ADS_1


"Jenny, kamu jangan sembarangan memanggil namanya, atau kita dalam masalah besar." Itu terakhir kali yang diucapkan oleh ayah mertuanya. Jenny diam saja.


__ADS_2