
Setelah menginap satui malam di Pulau Bintang, Galang dan rombongan akhirnya berangkat padi menuju Malaka. Mereka akan ke sebuah pulau bernama Pulau Harimau yang menjadi pusat Klan Harimau. Namun, soal kebenaran dari keberadaan Klan Harimau juga belum jelas. Perjalanan menuju Malakan diperkirakan sekitar satu minggu.
Mari kita kembali ke Kota S
Dua hari kemudian, Diana, karmen dan Dara telah tiba di Kota S. Mereka memilih tinggal di hotel daripada di rumah Jatmiko untuk menghindari kesalahpahaman dengan Rocky. Kabar yang diterima Diana dari Anton, bahwa Rocky menerima lebih banyak keuntungan perusahaan daripada perusahaannya sendiri.
Sebuah memo dikirimkan ke setiap direktur bahwa,
"Mulai saat ini, hentikan semua kegiatan yang berkaitan dengan Rocky. Jika ada orang Rocky yang berada di perusahaan, maka harus segera diusir. Apabila takut, maka segera mengundurkan diri dari perusahaan.
Ttd.
CEO
Memo itu ditandatangani oleh CEO. Semua direktur tentu bertanya-tanya. Siapa CEO yang dimaksud? Ancaman mundur tentu saja membuat takut para direktur. Memang benar, semenjak perusahaan dalam tekanan Rocky dan gengnya, untuk perusahaan jadi sangat kecil dan perusahaan tidak pernah berkembang dengan cepat dan hanya mengandalkan modal yang sudah ada.
Para direktur menyadari, bahwa jika CEO berani terhadap Rocky, maka mereka tentu saja akan dibela. Itu alasan mereka untuk berani melawan tekanan dari Rocky.
Anton memang tidak mengumumkan soal CEO yang baru. Para direktur berfikir bahwa itu adalah galang, jadi mereka tidak perlu kuatir.
******
"Siapa sebenarnya CEO yang baru itu? Kenapa dia sangat berani melawanku?" TanyaRocky setelah menerima laporan mengenai diusirnya orang-orangnya dari perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam Grup Bintang.
"Apa ada yang tahu siapa CEO baru itu? Berani sekali dia melawanku. Mengenai enam pengusaha, aku tidak mempermasalah karena takutnya nanti diselidiki oleh polisi. Asal tidak ada campur tangan penegak hukum, aku akan membiarkannya." Tanya Rocky.
__ADS_1
"Masih diselidiki, Tuan. Tapi belum ada kabar apapun sampai saat ini. Menurutku, dia pasti akan menampakkan diri." Lukas yang menjawab.
"Baiklah, kita tidak bisa mengambil tindakan sekarang. Apalagi kabarnya, mafia di Kota Pulau sudah ditangkap, dan yang menangkapnya salah satunya seorang wanita. Kita tidak akan bertindak untuk sementara waktu. Bungkam semua agar tidak sampai grup lain tahu kejadian ini." Rocky menarik nafas
"Lakukan perintah agar penyelidikan terus berlanjut. Dan tidak ada yang boleh mengambil tindakan apapun tanpa perintahku!" Rocky berdiri lalu meninggalkan ruang tengah.
"Baik, Tuan!" Lukas dan beberapa orang menjawab dengan hormat.
******
"Diana, kamu ingin melawan Rocky?" Tanya Karmen.
"Aku ingin melihat dia akan melakukan apa setelah aku melawannya." Diana membenarkan posisi duduknya di sofa.
"Aku yakin dia tidak akan melakukan apa-apa. Tapi hanya menyelidiki siapa CEO yang baru. Apalagi kabarnya enam pengusaha yang dia sembunyikan di ruang bawah tanah sudah diselamatkan oleh orang. Dia pasti kuatir dan akan berpikir seribu kali untuk melawanku." Jawab Diana kalem.
"Karmen, sebenarnya aku tidak ingin ini semua. Aku hanya ingin menjadi gadis normal yang bekerja demi mencukupi kebutuhankan. Waktu aku tinggal sama Nenek, ganjalan terbesarku adalah, aku ingin menemui Galang hanya untuk memberitahunya tentang kami yang sbenarnya. Lalu kami akan pergi." Diana menarik nafas dalam.
"Diana, ini sudah menjadi takdirmu. Kamu lihat Dara? Dia hanya tahu bahwa kamu adalah ibunya. Dan dia tidak pernah berfikir terlalu jauh. Dia tahu bahwa dia p[unya ibu. Sering jika dia tidur, dia selalu memanggil-manggil ibu. namun sekarang, dia sudah tidak lagi." Karmen memberi nasihat daan semangat.
"Baiklah, aku akan menjalaninya. Tidak tahu apakah aku akan kuat atau tidak, setelah Galang kembali, aku akan menyerahkan jabatan CEO padanya." Diana menyerah.
"Kamu tahu, Diana? Paman Anton menyerahkan semua perusahaan padamu tentu ada maksudnya. Dia tidak ingin Galang terekspos sebelum waktunya. Itu saja. Kamu tahu aku akan selalu mendukungmu Diana. kamu tegas dan berani, kalau Galang, dia lemah dan terlalu cuek. Mungkin memang kamu yang cocok, Diana." Karmen menambahkan.
"Okelah, ayo kita makan, aku ingin makan di pinggir jalan. Sudah lama aku tidak makan-makanan favoritku." Ajak Diana.
__ADS_1
Setelah itu, mereka keluar dari hotel dan berjalan kaki ke jalan raya, melalui jembatan penyeberangan dan akhirnya ada restoran kecil yang lumayan ramai.
"Diana, ini terlalu ramai. Bagaimana kalau kita pindah yang lainnya?" Kata Karmen.
"Tidak perlu Karmen, kita bisa antri. Tidak perlu pindah. Kamu pesan saja makanannya dulu, nanti kalau sudah waktunya pasti dipanggil." Jawab Diana.
Memang restoran kecil itu selalu ramai pengunjung, selain harganya murah, rasa masakan di restoran ini sangat lezat. Diana memang tidak pernah makan di sini, Namun di tadi membaca tulisan yang ada di spanduk restoran soal menu. Jadi dia tertarik kemari. Bahkan, saking lezatnya, banyak bos-bos perusahaan yang rela antri demi mendapat giliran makan.
Diana yang sedang menggendong Dara, berjalan ke arah sebuah bangku panjang, ingin duduk di sana. Namun, saat dia baru akan duduk, kursi itu diduduki oleh beberapa orang gadis dan pemuda yang mungkin juga sedang antri.
"Maaf, bolehkah saya ikut duduk?" Tanya Diana pada beberapa orang itu.
"Tidak bisa, kami sedang menunggu dua orang lagi dan nanti mereka akan duduk di sini!" Jawab seorang perempuan dengan nada tidak enak didengar. Diana lalu berdiri saja di sana. Saat itu Karmen juga sudah sampai di sana dan ikut berdiri. Dia menunjukkan nomor antrian kepada Diana. Dia melihat dan tersenyum masam.
"Sayang turun ya. Ibu capek." Pinta Karmen pada Dara. Dara lalu melihat ke wajah Diana. Diana hanya tersenyum tidak menampakkan rasa capek.
Dara malah memeluk Diana dengan erat. Karmen tersenyum masam melihat kelakuan Dara. Dara memang seperti sedang menggoda mereka berdua. Mungkin dia sedang merindukan ayahnya. Diana tidak menolak jika Dara minta digendongnya terus. Memang setelah pulang dari Kota Pulau, tingkah Dara cukup merepotkan. Terkadang dia main sendiri dengan mainan yang dibelikan kakek dan Pamannya. Namun sekali waktu, dia akan minta digendong oleh Diana. Sedang Karmen yang mencoba menggendongnya, Dara tidak mau.
"Dara sama Bibi, ya?" Ajak Karmen mengulurkan tangan. Namun Dara menolak dan memeluk Diana lebih erat lagi,
"Biarkan dia bersamaku, karmen." Kata Diana. Diana tahu Karmen merasa tidak enak dengan Diana yang terus menggendong Dara. Dia ingin menggantikannya.
"Iya!" Yang menjawab justru Dara.
Dari kejauhan, tampak berjalan seorang pemuda dan seorang gadis. Mereka menuju ke arah Diana, Karmen dan Dara. Beberapa pemuda dan gadis yang duduk di dekat mereka melambaikan tangan dan memanggil kedua orang itu.
__ADS_1
Karmen dan Dara mengenali kedua orang itu. Namun Karmen diam saja, hanya melihat sekilas lalu memandang ke arah lain.