Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Taktik Diana


__ADS_3

"Hubungi Kapten Herry!" Perintah Diana.


"Baik, Nona!" Jawab Farel.


Lalu Farel.segers menghubungi Kaptrn Herry. Saat panggilan tersambung, terdengar suara-suara berisik.


"Halo!" Sapa Kapten Herry.


"Kaptrn! Ada di mana sekarang?" Tanya Diana.


"Oh, Nona Diana? Aku masih di markas, dua personel yang menjaga Dinda tenyata memang disuap oleh para penyerang Dinda. Saat ini mereka masih diinterogasi. Nona, ada yang penting?" Kapten Herry terdengar serius.


"Kapten, apakah anak buahmu yang mengawasi di sekolah bisa memasang kamera pengawas yang diberikan Farel? Aku minta beberapa tempat untuk diawasi, pertama, di ruangan Junito, ruang kepala sekolah sudah aku pasang, di kantin, di lapangan basket dan beberapa dipasang di dekat gerbang masuk." Pinta Diana.


"Baik, Nona. Bagaimana dengan di halaman?" Tanya Kaptrn Herry lagi.


"Kamu pikurkan yabg terbaik, Kapten. Yang penting aku minta yang sufsh disebut. Aku besok ke sekolah." Jawab Diana.


"Baiklah! Aku segera menghubungi mereka, Nona!" Sahut Herry. Lalu Diana menutup panggilan.


"Besok, awasi dengan teliti tempat yang aku minta dipasang kamera pengawas. Jangan sampai terlewat satupun. Siapapun yang masuk dalam kamera pengawas, catat dan laporkan pada Karmen atau Rangga." Kata Diana pada Farel.


"Baik, Nona!" Jawab Farel.

__ADS_1


*****


Suasana sekolah tampak seperti biasa. Erina diantar Karmen ke sekolah. Dia tidak membantu petugas kebersihan menyapu. Beberapa teman kelasnya ikut menyapu termasuk Listi. Namun dia membawakan makanan untuk mereka. Erina menyerahkan makanan itu pada mereka dan langsung pergi.


Listi yang melihat Erina pergi, langsung mengikutinya.


"Erina! Mau kemana?" Tanya Listi.


"Aku mau ke lapangan basket!" Jawb Erina.


"Aku ikut!" Teriak Listi. Lalu berlari mengejar Erina.


Erina tidak menjawab juga tidak menolaknya. Saat sampai di lapangan basket, ternyata tempat itu tidak ada orang. Padahal biasanya Evan dan gengnya ada di sana. Erina hanya ingin tahu reaksi Evan karena sudah dia hari ini Dinda tidak sekolah.


"Ayo kita pergi!" Ajak Erina.


"Hahahaha! Mau pergi kemana gadis cantik!" Sebuah suara berat terdengar sangat keras. Lalu muncul belasan orang berperawakan tinggi besar. Di belakang orang-orang itu, Evan dan teman-temannya.


Erina tersenyum saat melihat mereka.


"Erina! Ayo lari!" Teriak Listi.


Erina memegang tangan Listi agar jangan lari. Jika lari, maka Listi justru dalam bahaya. Karena bisa saja dia dicegat di.lorong yang sepi.

__ADS_1


"Di sini saja sambil menunggu Guru Rangga dan kakakku." Bisik Erina.


Karmen saat setelah mengantar Erina, langsung memarkirkan mobil dan masuk ke lokasi sekolah dengan cara melompat pagar. Dia ssat ini sedang berada di atap dan menunggu laporan dari Farel.


Sementara, Rangga setelah diberitahu oleh Farel bahwa Diana sedang di lapangan basket, segera bergegas. Karena terlihat terburu-buru, Guru Lala yang penasaran akhirnya mengikutinya. Rangga tidak bisa mencegahnya dan beberapa murid yang berada di lorong melihat Guru Rangga dan Guru Lala berjalan tergesa-gesa juga mengikutinya.


"Tenyata benar dugaanku, Evan hanyalah seorang pecundang. Haha!" Kata Erina. Itu membuat Listi jadi semakin takut.


"Erina! Apa hang kamu katakan?" Tanya Listi.


"Hei! Jaga ucapanmu! Kamu belum tahu siapa Tuan Muda Evan?" teriak seorang tinggi besar.


"Aku tahu! Dia adalah pecundang! Hahaha!" Erina tertawa mengejek.


"Erina! Kamu tahu? Aku sudah mengetahui rumahmu! Dan sekarang orang-orangku sedang ke sana. Kamu akan lihat! Sebentar lagi rumahmu akan rata dengan tanah! Hahahaha.


Mendengar itu, Listi sangat ketakutan. Sebenarnya ada apa ini? Pikir Listi.


"Ah, kamu sedang bermimpi. Kamu mengira aku ini lemah. Kamu tahu? Di rumah ada nenekku. Dan nenekku akan menghabisi orang-orangmu hanya dalam waktu beberapa menit saja. Kamu jangan mimpi, Evan! Hahaha!" Erina tidak kalah gertakan.


Wajah Evan memerah. Dia marah sekali karena sikap Erina yang sombong. Di tangannya, dia memegang bola basket, lalu dengan sekuat tenaga melemparkan bola itu ke arah Erina. Bola meluncur dengan deras.


Listi menutupi wajahnya sambil menunduk. Saat bola hampir mengenai Erina, tiba-tiba Guru Rangga sudah menangkap bola itu dan kini Guru Rangga sedang bermain-main dengan bola itu. Dengan sangat lihai, Guru Rangga seperti sedang bermain basket.

__ADS_1


Melihat itu, evan sangat terkejut. Listi yang tadinya takut, kini sedikit lebih tenang karena kehadiran Guru Rangga, Guru Lala dan beberapa murid lainnya.


__ADS_2