Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Penyambutan Kota M


__ADS_3

Galang memeluk Dara dengan erat. Tidak terasa sudah beberapa bulan dia tidak bertemu dengan Dara.


Mereka semua berkumpul untuk kembali ke Kota M. Mobil jemputan sudah memenuhi area perkemahan. Tampak ribuan relawan sedang membongkar perkemahan.


Seperti biasa, Dara kembali ke Diana. Dia sudah terbiasa dengan ibu. Perjalanan kembali ke Kota M dipimpin oleh para jenderal. Mereka dalam satu mobil militer yang terbuka. Di depan sekali, mobil pasukan pengawal milik kepolisian untuk menyisir jalan.


Di belakangnya, ada pasukan sepeda motor dari kepolisian dan diteruskan dengan mobil para jenderal. Semuanya diatur dengan mobil terbuka. Diana satu mobiil dengan Dara dan Karmen juga Anita. Selanjutnya Galang bersama Rangga dan seterusnya.


Mobil-mobil selanjutnya mengikuti dari belakang dan melaju tidak terlalu kencang. Ribuan mobil mengular seperti seekor ular raksasa. Para prajurit bersorak-sorai sepanjang jalan menyanyikan lagu kemenangan.


Sepanjang jalan dipenuhi oleh penduduk yang imgin menyaksikan pahlawan mereka. Dalam kesempatan inilah mereka bisa melihat sosok-sosok yang selama ini mereka kagumi seprti Diana, Karmen, Dara, para jenderal, atau juga pendatang baru seprti Galang yang tampan dan juga Rangga.


Tanpa mereka, kemungkinan provinsi selatan ini sudah hancur. Dua orang yaitu Diana dan Galang mampu melawan puluhan ribu monster. Ada kekaguman yang yang bisa diungkapkan. Mereka tentu saja sangat antusias. Momen itu mereka abadikan dengan ponsel dengan kamera resolusi tinggi. Entah itu rekaman video maupun foto.

__ADS_1


Di mobilnya, Dara malah kebingungan. Baru kali ini dia melihat begitu ramai orang. Bahkan, di pinggir jalan, Dara melihat anak-anak kecil.yang memanggil-manggil dirinya sambil melambaikan tangan. Dengan senang hati, Dara juga melambaikan tangan. Anak-anak kecil itu sungguh lucu. Pikir Dara. Dara pun tersenyum melihat kelakuan anak-anak itu. Dia ingin seperti mereka. Berada di pinggir jalan dan memanggil-manggil namanya.


Tapi, selanjutnya Dara malah kebingungan. Kalau dia di sana dan namanya dipanggil, nanti siapa yang melambaikan tangan? Ah, Dara malah pusing. Lebih baik dia bersama ibunya. Takutnya nanti kalau bersama mereka, dia malah ditinggal oleh ibu. Itu akan membuatnya makin pusing mencari-cari ibunya.


"Nona Diana! Nona Diana!"


Teriakan seperti itu sudah terdengar di sepanjang jalan. Diana yang duduk di mobil terbuka tersenyum dan melambaikan tangan.


Senyum Diana tentu saja senyum yang sangat menyejukkan dari seorang Panglima Perang yang gagah berani.


Memasuki Kota M, kerumunan orang makin banyak, warga kota tumpah ruah di pinggir jalan yang akan dilalui oleh rombongan prajurit perang.


Perang hanya berjalan tiga hari dan pasukan yang dikepalai Diana berhasil menang. Warga kota yang mengidolakan Diana tentu saja tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan melihat langsung idola mereka.

__ADS_1


"Ibu! Itu!" Tunjuk Dara. Dara melihat ada seorang yang sedang berjualan. Entah makanan apa yang dilihat Dara, dia ingin makanan itu. Seorang wanita tua sedang menjajakan jualannya. Diana meminta sopir untuk menghubungi patwal untuk berhenti dulu.


Semua mobil berhenti. Diana turun bersama Dara dan Karmen serta Anita. Tentu saja itu membuat semua orang terkejut. Diana berjalan ke arah nenek yang sedang jualan.


"Nenek, kami mau beli ayam goreng." Kata Diana.


"Nona Diana!" Kata Nenek itu. Lalu dia berlutut. Diana terkejut. Kenapa seperti ini?


"Nenek, bangunlah, aku mau membeli ayam gorengmu." Kata Diana.


"Nona, aku tidak menyangka, kamu malah datang kemari. Aku mau memberikan ayam goreng ini untuk Nona Dara. Ini hadiah dariku untuknya. Karena kamu sudah menyelamatkan anakku dari kematian. Anakku sekarang sudah di rumah dan sudah sembuh berkat pertolonganmu." Kata Nenek itu sambil menyodorkan sebuah wadah berisi banyak sekali ayam goreng.


Dara sudah tidak bisa menahan lagi. Air liurnya sudah berjatuhan.

__ADS_1


"Nenek, setiap prajurit adalah temanku, jadi aku tidak akan membiarkan satu temanku yang membutuhkan pertolongan terabaikan." Jawab Diana. Karmen membantu nenek itu berdiri. Sedangkan Anita menerima wadah berisi banyak sekali ayam goreng.


Mata Dara berbinar, dia sangat senang. Itu adalah makanan yang sangat banyak. Bisa untuk satu bulan. Pikirnya.


__ADS_2