
Tiga kapal sudah sampai di pulau. Masing-masing kapal membawa ratusan orang. Mereka dibawa kemari untuk bekerja sebagai penambang. Selain itu, kapal juga membawa peralatan modern untuk menambang.
Saat ini kapal Galang memang tidak ada di sana. Galang menyuruh kapten agar membwa kapal ke sisi pulau yang lain agar tidak terlihat oleh mereka yang datang belakangan.
Mereka yang melihat suku Ro menyambut dengan senjata dan rarusan orang, pqra penambang menjadi ciut nyali. Mereka jelas ketakutan karena ridam sesuai denga apa yang mereka dengar sebelum berangkat menuju pulau.
"Kalian semua jangan takut! Sebaiknya kalian jangan ke sana dulu karena kami akan menghabisi mereka semua!" Seorang pria berwajh sangat berteriak dan kemudia dia dan puluhan orang swgera turun serta membawa tongkat kayu.
Mereka kemudian mendatangi orang-orang dari suku Ro yang sudah menunggu kedatangan mereka.
Melihat orang-orang yang mendatangi mereka hanya puhan, semangat bertarung suku Ro makin menjadi. Mereka berpikir sudah berlatih beberapa minggu, dan yang mereka hadapi hanya puluhan orang saja. Jadi mereka berpikir pasti menaang.
Her yang menjadi pemimpin perang mereka tersenyum penuh kemenangan. Dia sudah yakin pasti menang. Apalagi, mereka hanya bersenjatakan tongkat saja.
Sementara dari pihak musuh saat ini sudah berdadap-hadapan dengan kelompok dari suku Ro.
"Kalian sudah dioeringatkan agr segera meninggalkan pulau, malah kalian mau melawan kami? Iru sama aaj cari mati!" Teriak pria berwajah sangar. Dia sangat marah karena penduduk pulau tidak menggubrisnya dan malh menantangnya.
"Ini pulau kami, tentu saja kami harus mempertahankan warisan leluhur kami!" Teriak Her membalas pria bertampang sangar dan seram.
"Hahahaha! Kalian melawanku sendirian saja belum tenru mampu, apalagi melawan orang-orangku? Mereka semua adalah ahli beladiri! Hahahahaha!" Pria sangar itu merass diremehkan.
"Namaku adalah Res dari keluarga Horu Ro yang kalian usir lima puluh tahun lalu. Kini, selain menguasai pulau, aku akan memblas dendam!" Teriak pria sangar yang mengaku bernama Res.
"Oh! Kalian memang keluarga penghianat dari dulu. Jika kalian tidak curang, tidak mungkin tetua mengusir kalian. Dan kamu, Res, aku adalah lawanmu!" Teriak Her tak mau kalah.
Res tampak tidak terkejut. Dia sama sekali tidak takut.
"Dengar, aku adalah anak buah Tuan Baron, penguasa dunia hitam dari provinsi tengah. Tidak ada yang berani padanya. Siapapun yang melawanya, akan mati. Dan kalin semua akan mati di sini!" Teriak Res dan memperkenalkan seseorang.
"Aku sama sekali tidak peduli! Jika ada yang berani mengusik pulau kami, maka akan berhadapan dengan kami!" Her nampak udah tidak sabar.
"Baiklah! Jika mau kalian seperti itu, aku akan mengabulkan permintaan kalia mati di sini! Ayo serang" Teriak Res. Kemudian, puluhan oranv beesenjatakan tongkat maju menyerang dan merangsek ke arah kelompok suku Ro.
Melihat musuh menyerang Her juga makin bersemangat. Dia sudah membayngkan akan menapatkan anak gadis kepala Suku. Gadis impian semua anak muda suku Ro.
Walaupun sebebarnya gadis-gadis suku Ro rata-rata cantik. Namun memang anak gadis kepala suku lebih canti dari lainnya.
__ADS_1
"Serang!" Teriak Her yang membuat orang-orang itu pun bergerak maju dan berteriak, "Serang!"
Lalu pertempuran pun tidak dapat dihindarkan. Mereka berperang demi tujuan masing-masing.
Sementara agak jauh dari tempat itu, beberapa orang sedang melihat kedua kelompok saling serang. Termasuk di sana ada kepala suku, istrinya dan juga Er, anak kepala suku.
Dan di tempait lainnya, Galang, Rangga, Josh dan Cintya juga sedang melihat adegan perang dua kelompok itu.
"Orang-orang suku Ro sama sekali belum pernah berperang. Jadi mereka akan kalah. Apalagi aku lihat mereka itu tidak sebanding dengan kelompok musuh. Lihat saja mereka sudah babak belur." Kata Galang sambil duduk di kursi di bawah sebuah pohon.
"Apa kita tidak sebaiknya langsung membantu?" Tanya Rangga.
Galang mengangkat tangannya, "Jangan dulu, tunggu sampai Her itu kalah dari Res. Dia terlihat sangat percaya diri, aku tidak ingin membuatnya kecewa jika sekarang kita bertindak."
"Baiklah kalau begitu." Rangga akhirnya paham maksud Galang.
Sementara terlihat Res kini maju menghampiri Her yang saatbitu sedang bertarung melawan beberapa anak buah Res. Walaupun Her lebih kuat, namun dia juga tidak mampu menjatuhkan satu lawanpun.
Padahal beberpa pukulan Her mengenai musuh-musuhnya dan dia juga sibuk menghindari serangan musuh.
Kemudian dia pun langsung menyerang Her dengan tinjunya. Res tidak membawa senjata apapun. Sebuah serangan begitu cepat dari Res berhasil ditangkis dengan tangan oleh Her. Her mundur satu langkah, tangannya terasa sangt sakit.
"Haha! Ternyata kamu hanya besar mulut!" Teriak Res.
Kemudian Res mengambil tongkat dari tangan anal buahnya, memutar tongkat itu laksana baling-baling helikopter. Lalu, dengan sekuat tenaga dia melempatkan tongkat yang berputar itu ke arah Her.
Her sangat terkejut. Walaupun dia ahli beladiri, menghdapi serangan seperti itu jelas di kewalahan. Her mundur seperti dikejar tongkat. Dia sedang mencari cara menghentikan tongkat itu. Dan beberapa saat kemudian, Res bergerak cepat ke arah Her yang terus mundur. Res meraih tongkat, lalu dengan seluruh tenaganya, menusukkan tongkat ke arah leher Her.
Her terkesiap dan tidak bisa menghindar lagi. Tongkat itu terlalu cepat datang padanya. Sesaat tongkat itu akan menusuk lehernya. Semua orang yang saat itu bertempur segera berhenti dan melihat apa yang terjadi. Dan di kejauhan, kepala suku dan lainnya juga menahan teriakan. Her akan mati. Itu pikir mereka.
Namun yang terjadi di luar dugaan. Sesaat ketika tongkat akan menusuk leher Her, tiba-tiba sebuah tangan menangkap tongkat dan mematahkannya.
Galang sudah berdiri di membelakangi Her. Dan tidak berapa lama, Rangga juga sudah berdiri di samping Galang. Semua orang kini meliht ke arah Galang yang berhasil menggagalkan serangan Res.
Her menatap punggung Galang. Awalnya dia memang sudah pasrah akan mati di tangan Res, namun kini dia bernafas lega. Ada orang yang menolongnya.
"Hentikan perang ini!" Teriak Galang. Lalu dia menoleh ke Her dan berkata, "Suruh mundur pasukanmu"
__ADS_1
"Kalian semua! Mundur" Teriak Her tanpa berpikir panjang.
Akhirnya pasukan dari suku Ro mundur. Mereka memang sudah bbak nelur dihajar oleh orang-orangnya Res yang lebih kuat dari mereka. Apalagi tadi mereka menyaksikan Her hampir mati oleh tongkat Res. Mereka menjadi ciut nyali tentunya.
"Siapa kamu! Berani-beraninya ikut campur urusan kami!" Tanya Res dengan nada marah karena Galang sudah menggagalkan serangannya pada Her. Jika tidak ada Galang, Her tentu saja sudah mati.
Di sisi penonton, Er tampak bersemangat ketika melihat Galang ternyata membela sukunya. Dia memang jatuh cinta pada Galang saat pertama kali melihatnya.
"Aku? Apa itu penting? Tapi baiklah, karena kamu sudah akan mati, lebih baik aku memberitahumu. Agar kamu mati dengan tidak penasaran. Namaku Galang. Aku dalah malaikat pencabut nyawa orang-orang jahat dan serakah!" Kata Galang.
Selesai Galang mengucapkan kata-kata, tiga sosok bayangan bergerak menuju ke arahnya. Tiga sosok itu lalu berdiri di dekat Res.
"Tuan Hanta, Tuan Yoga dan Nyonya Tin, kenapa kalian kemari? Biarkan aku menyelesaika ini!" Teriak Res ketika tahu siapa yang datang.
"Dasar bodoh! Memangnya kamu bisa mengalahkannya?" Kata seorang wanita berumur empat puluh tahun. Wajahnya putih bersih dan tetlihat cantik. Dia memakai baju dan celana hitam ketat membuat lekuk tubuhnya terlihat. Wanita itu memegang sebuah kipas besi yang cukup besar.
Seharusnya kipas itu beratnya sekitar tiga kilo. Namun wanita bernama Tin itu memegangnya dengan santai, mengipasi tubuhnya dan matanya mengerling pada Galang.
"Apa maksud Nyonya Tin?" Tanya Res.
Nyonya Tin menatap Res sambil melotot. "Kamu barusan tahu, dia menangkap tongkatmu dan mematahkannya. Jika dia orang biasa, mana mungkin bisa mematahkan seranganmu yang mengerahkan seluruh ternaga?"
Wajah Res tampak merah. Antara marah dan malu. Namun itu adalah kenyataan. Walaupun dia merasa kuat, ternyata serangannya memang dapat dipatahkan dengan mudah oleh Galang.
Sememtara dua orang laki-laki tampak hanya senyum-senyum dan melirik ke arah Tin.
"Ah, Nona Tin ini. Aku sudah lama mengenalmu, berkali-kali kamu menolak cintaku. Sekarang ketika bertemu pemuda ini, kamu seperti tidak memperhatikan akau lagi." Yang berkata adalah Tuan Yoga. Seorang pria berumur empat puluh tahun sebaya dengan Tin.
"Kamu seharusnya berkaca dulu sebelum bicara begitu! Huh!" Tin tampak ngambek dan membuang muka.
Di punggung Yoga, ada sebuah pedang panjang yang masih di dalam rangka. Wajah Yoga lumayan tampan namun mata kiri Yoga terlihat berwarna putih. Seperti tidak ada bola mata. Dia mengenakan celana panjang berwarna coklat, sepatu juga berwarna coklat. Sementara atasan dia memakai kaos berwarna biru tua tanpa lengan.
"Kalian berdua memang kebanyakan bicara! Bukankah kita kemari diutus Tuan Baron untuk mengosongkan pulau? Ingat tugas!" Berkata Hanta yang berdiri dengan tangan disilangkan di dada.
Hanta adalah pria paruh baya dengan tubuh yang pendek. Pakaiannya serba hijau, ada sebuah rantai besi di selempangkan di tubuhnya. Jika dilihat, ujung rantai itu ada sejenis mata tombak berukuran sedang. Itu adalah senjatanya.
Galang dan Rangga saling berpandangan, keduanya sama-sama tersenyum masam.
__ADS_1