
Jam dua siang, Diana sudah sampai di kantor polisi. Diana menumpang taksi sendirian. Saat itu suasana tidak begitu ramai karena itu adalah hari libur. Hanya ada beberapa polisi berjaga, ketika masuk melalui gerbang masuk, mobil diperiksa dan dimintai tanda pengenal.
Diana menunjukkan lencana yang diberikan oleh Inspektur Herman saat di restorsn. Tujuannya adalah agar Diana lebih mudah masuk. Benar saja, dua polisi yang akan memeriksanya langsung berdiri tegap dan memberi hormat. Kemudian mempersilahkan taksi itu masuk. Sampai di depan kantor, taksi berhenti dan Diana turun.
Diana masih brlum tahu, lalu dia memilih duduk di ruang tunggu lobi kantor. Seorang polisi muda segera menghampirinya.
Setelah memberi hormat, polisi muda itupun bertanya, "Apakah ada yang bisa aku bantu, Nona?"
"Aku ingin menemui Inspektur Herman dan Kapten Herry." Jawab Diana.
Polisi muda itu terkejut, "Apakah Anda Nona Diana?" Tanyanya. Diana mengangguk.
"Baiklah, Anda tunggu sebentar." Polisi muda iru segera pergi dengan buru-buru. Diana masih duduk di tempatnya.
Hanya selang beberapa menit, polisi muda itu datang lagi bersama Herman dan Herry. Keduanya tampak berjalan dengan tergesa-gesa.
"Maaf telah membuat Anda mrnunggu." Kata Inspektur Herman.
"Tidak apa-apa. Aku juga baru sampai." Jawab Diana, lalu dia memberikan lencana milik Insoektur Herry.
Mereka berdua akhirnya membawa Diana ke ruang interogasi. Di sana sudah ada beberapa polisi mengawal para tahanan. Delapan tahanan dengan tangan diborgol tampak melihat Diana dengan kekaguman.
"Inspektur, bawa mereka ke ruang yang lebih besar. Aku akan menemui mereka di sana. Sediakan makanan dan minuman di ruangan itu untuk mereka semua." Kata Diana.
Ada beberap ruang interogasi. Kebanyakan ruangan itu sempit dan biasanya hanya akan ada satu orang saja bergantian untuk diinterogasi.
"Baik, Nona!" Jawab Herman. Lalu dia menyuruh anak buahnya untuk melakukan seperti yang diminta Diana.
Para tahanan dibawa masuk ke ruang yang lebih besar. Di dalam ruangan itu tampak sangat menyeramkan. Ada beberapa alat yang biasa digunakan oleh penyidik untuk memaksa tahanan mengakui perbuatannya. Namun tentu saja itu tidak akan dilakukan Diana untuk kedelapan orang itu. Ruanagan itu kedap suara. Suara di dalam ruangan tidak akan bisa didengar dari luar, begitu juga sebaliknya.
"Kapten, Inspektur! Tolong jangan direkam percakapan kami! Dan lepaskan borgol mereka." Pinta Diana.
Tapi, Nona?" Herry terkejut.
"Tidak apa-apa." Jawab Diana
Herman dan Herry mengangguk. Setelah tahanan dibawa masuk, Diana lalu masuk dan mengunci pintu dari dalam.
__ADS_1
Diana duduk berhadapan dengan oara tahanan yang duduk di seberang meja di kursi panjang.
"Makanlah dulu!" Kata Diana dengan posisi masih berdiri. Kedelapan orang itu pun mengikuti yang dikatakan Diana. Mereka mengambil makanan di meja dan memakannya.
"Kalian tahu? Seharusnya aku membunuh kalian semua waktu itu. Tapi aku tidak membunuh kalian karena ingin tahu siapa orang yang menyuruh kalian. Kalian mengaku atau tidak, aku akan menemukan mereka." Kata Diana setelah dia duduk.
Kedelapan orang yang terdiri dari tiga laki-laki dan lima perempuan itu saling berpandangan. Mereka menatap Diana dengan kagum. Muda, cantik dan pemberani serta hebat.
"Jika kalian diselamatkan oleh bos kalian, misalnya, tetap saja aku akan menemukan kalian. Kalian berusaha membunuh kakek dari anakku. Kalian sama saja cari mati." Diana terus saja bicara.
Kedelapan orang itu masih belum ada yang bicara. Diana. Tidak memaksa mereka. Namun dia tahu, karena mereka ingin bertemu Diana, maka pasti akan ada yang mereka katakan.
"Kalian berasal darimana?" Tanya Diana.
"Kami...." Kata seorang laki-laki dengan banyak tato di tubuh dan wajahnya.
"Kami dari Pulau Bintang." Lanjutnya.
Diana terkejut. "Apa hubungan kalian dengan Paman David di Pulau Bintang? Bukankah seharusnya kalian menjaga pulau?" Tanya Diana.
"Apa? Kenapa Anda tahu Tuan David?" Tanya lelaki itu.
Kedelapan orang itu langsung gemetar dan mengeluarkan keringat dingin. Mereka sangat ketakutan.
"Dengar! Paman akan segera sampai di Kota S, aku akan membawanya kemari untuk menemui kalian, aku bisa saja memintanya agar tidak menghukum kalian. Tapi, aku harus tahu dari kalian. Siapa orang yang menyuruh kalian." Kata Diana.
Pria bertato kemudian menceritakan awal mula mereka direkrut untuk membunuh Gubernur wilayah selatan.
"Saat itu kami sedang berada di pantai dan hendak melakukan patroli, ketika tiba-tiba ada sebuah kapal mendatangi kami....."
******
Pulau Bintang
Kapal berukuran kecil itu menuju ke arah delapan orang yang baru saja akan melakukan patroli. Mereka sangat terkejut. Karena biasanya yang datang adalah kapal besar milik Pulau Bintang membawa makanan atau bahan bakar juga barang-barang dari negara tetangga.
Tapi ini adalah kapal yang berbeda. Kedelapan orang itu waspada. Memang pesan dari David, siapapun yang memiliki tujuan jahat, mereka akan mendapat hukuman langsung dari Raja Naga.
__ADS_1
Kapal itu akhirnya sampai di bibir pantai dan menurunkan jangkar.
Ada sekita sepuluh orang orang turun dari kapal. Salah seorang di antara mereka di kenal oleh kedelapan orang itu. Itu adalah Tuan Bobby, teman Tuan David dan Tuan Anton di kesatuan dulu.
Mereka pun akhirnya menyadari itu dan menganggap mereka yang datang adalah teman. Singkat cerita, mereka berkata bahwa Tuan David meminta mereka berdelapan untuk menemuinya di Kota M.
Mereka pun percaya dan tidak pernah curiga.
"Baiklah, kami akan segera ke sana..biarkam kami mempersiapkan semuanya." Kata pria bertato.
"Tidak perlu, helikopter akan segera sampai dan kalian bisa langsung berangkat. Kalian akan diantar ke Kota S hari ini juga." Kata Bobby.
Benar saja, saat itu terdengar bunyi helikopter di kejauhan. Singkat cerita, kedelapan orang itu langsung dibawa ke Kota S. Mereka dibawa ke sebuah rumah kecil di pinggiran kota.
Sesampai di sana, mereka disambut oleh puluhan orang dengan senjata otomatis di tangan mereka. Mereka terkejut. Mereka pikir akan menemui Tuan David di rumah itu.
Waktu berlalu, mereka pun dibawa dalam sebuah sel. Kedelapan orang itu dimasukkan sel.
"Dengarkan aku!" Kata Bobby, "Kalian hanya akan melakukan satu tugas. Jika berhasil, maka aku akan melepaskan kalian, tapi jika kalian menghianati aku, maka kalian akan tamat. Aku akan memasukkan bom waktu yang yamg akan meledak setelah sepuluh hari. Jadi jika kalian berhianat, bom dalam tubuh kalian akan meledak." Lanjutnya.
"Apa maksudmu? Jadi kamu bukan ingin mempertemukan kami dengan Tuan David? Tapi ingin memanfaatkan kami?" Kata pria bertato sangat menyesal.
"Haha! Kalian itu harus hormat padaku." Jawab Bobby.
"Baiklah, besok siang kalian akan berangkat ke Kota M. Tugas kalian sangat mudah. Kalian hanya aku minta membunuh Gubernur wilayah selatan. Itu saja, sesudah berhasil, bom dalam tubuh kalian akan dilepas, dan kalian bebas pergi, dan kalian juga akan mendapat bonus ratusan miliar." Kata Bobby.
********
"Malamnya kami berdelapan dibawa ke sebuah laboratorium. Ada sesuatunhang sangat kecil yang dimasukkan dalam tubuh kami. Kata Bobby, itu adalah bom waktu. Dan kami punya waktu hanya sepuluh hari. Nona, tolonglah kami!" Kata pria bertato.
"Benar, Nona! Kami tidak sengaja melakukan ini semua. Jadi tolonglah kami. Kami mengaku bersalah." Kata seorang wanita berambut pirang.
"Aku akan berusaha menolong kalian. Aku akan bicara pada Inspektur dan Kapten Herry." Kata Diana yang sedikit bingung.
"Lalu, apalagi yang kalian ketahui?" Tanya Diana.
"Yang kami tahu, kami dibawa ke rumah seorang yang bernama Junito. Itu saja dan selebihnya kami tidak tahu apa-apa." Jawab wanita berambut pirang.
__ADS_1
"Itu sudah cukup. Jika kalian mengikuti perintahku, kalian akan aman." Kata Diana.