Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Perang Hari Pertama


__ADS_3

Sudah hampir setengah hari para makhluk itu menghadapi serangan meriam dan senapan otomatis, mereka belum bisa maju dan mencapai titik di mana seharusnya terjadi perang fisik. Mereka masih sibuk dihujani peluru meriam dan senapan mesin.


Namun, mereka semakin dekat dannhanya berjarak lima puluh meter saja. Para prajurit juga telah siap, mereka sudah memantapkan hati. Dalam pikiran, seandainya makhluk-makhluk itu menang, bagaimana nasib anak cucu kelak?


Hal ini membuat para prajurit benar-benar bertekad bulat harus memenangkan perang ini walaupun itu mustahil. Mereka juga masih menaruh harapan pada Raja Naga yang katanya akan datang bersama Guru Galuh. Itu membuat mereka makin bersemangat, menunda kemenangan jauh lebih baik ketimbang langsung kalah.


"Jenderal Joshua, apakah sudah ada laporan jumlah peluru meriam yang tersisa? Jika memungkinkan, maka kalau bisa sampai matahari terbenam, itu akan lebih baik. Juga Inspektur, apakah pasukan bersenjata otomatis masih bisa bertahan sampai matahari terbenam?" Tanya Diana kepada dua jenderal di sampingnya.


"Iya, Nona. Untuk pasukan meriam bahkan bisa lebih banyak. Dan untuk pasukan bersenjata otomatis malah lebih banyak lagi. Untuk peluru meriam sudah ada pengiriman dari berbagai gudang, dan itu akan sampai pada siang hari. Jadi, mungkin selkitar jam sepuluh besok pagi, kita sudah kehabisan peluru dan baru ada lagi siang hari." Jawab Jenderal Joshua.


"Baiklah, artinya, setelah dsn sepuluh, kita akan bertrmpur fisik. Kuatkan mental para prajurit Jemderal dan Inspektur. Kita akan berperang fisik esok hari." Kata Diana.


"Siap, Nona!" Jawab kedua jenderal itu.


Seharian penuh, makhluk-makhluk siluman berjibaku melawan.peluru. Tidak ada kesempatan bagi mereka untuk bertarung secara fisik. Itu membuat mereka sangat marah, namun apa daya, dalam aturan mereka perang ada masanya, itu yang tidak bisa mereka langgar, karena jika filanggar, itu akan memusnahkan kekuatan mereka dan semua kekuatan hilang, mereka bisa dibunuh.


Perwngpun berhenti tatkala matahari terbenam. Tidak ada korban jiwa dalam perang hari ini. Semua prajurit bernafas dengan lega.


Mereka pun kembali ke kemah masing-masing. Diana dan Karmen ikut dalam mobil Jenderal Joshua.


"Kalau amunisi kita cukup, sebenarnya kita tidak perlu bertarung langsung, Nona." Kata Jenderal Joshua.


"Benar, tapi sampai kapan, Jenderal? Itu tidak mungkin. Sedangkan pengiriman saja harus menunggu sampai besok siang. Oh ya, besok kita akan ada tambahan petarung. itu adalah saudara-saudaraku, juga nenekku dari Kota S. Aku harap pagi mereka sudah sampai di sini." Jawab Diana sambil memberitahu pesan dari Rangga semalam.


"Syukurlah, Nona. Karena prajurit untuk perang langsung kita kalah banyak. Kita juga ada tambahan prajurit petatung sebanyak limaribu orang dari berbagai kota, itu sudah termasuk dari berbagai perguruan di proinsi selatan, timur dan tengah. Aku harap itu bisa membangkitkan semangat para prajurit. Mereka sudah sampai ke mari sore tadi dan sedang mendirikan perkemahan di utara kemah kita." Kata Jenderal Joshua.

__ADS_1


"Itu bagus, Jenderal. Aku berharao kita bisa bertahan sampai Raja Naga datang. Aku tidak tqhu sampai kapan kita akan bisa bertahan. Dan aku harap para prajurit juga tidak perlu ada korban." Diana terlihat sedih.


Bagaimanapun, Diana adalah warga sipil, dia tidak bisa melihat orang baik menjadi korban dalam perang. Jika dia sanggup, maka diq sendiri yang akan maju berperang. Sayangnya dia hanya seorang diri dan itu tidak mungkin melawan sepuluh ribu makhluk siliuman itu.


Mereka pun sampai di tenda, di sana, Dara sudah menyambut Diana bersama Anita. Dara masjh mengenakan pakaian prajurit yang semalam dia pakai.


"Ibuuuuu!" Teriak Dara.


Diana setengah berlari menghampiri Dara. Namun Dara tiba-tiba berhenti, dia memberi hormat pada Diana seperti seorang prajurit pada rajanya.


"Ya ampun, pinternya. Siapa yang mengajari?" Tanya Diana.


"Bibi Anita." Jawab Dara sambil tersenyum.


Diana lalu berjomgkok, "Dara sudah makan, ya?"


"Sudah!" Jawab Dara kemudian tersenyum.


"Sudah, ya?" Tanya Diana lagi. Dara mengangguk lalu dia memeluk Diana. Pemandangan itu menjadi perhatian banyak prajurit yang baru kembali dari medann perang. Hanya Dara sqtu-satunya anak kecil yang berada di tenda prajurit dan dalam keadaan perang. Mereka terharu melihat itu.


"Nona, Para pemimpin pasukan yang baru datang ingin menemui Anda!" Lapor seorang prajurit yang sedang berjaga.


"Persilahkan!" Jawab Diana.


""Baik, Nona!" Lalu prajurit itu pun bergegas pergi. Saat itu Diana langsung duduk di kursi bersama Dara. Sementara Karmen dan Anita berdiri di belakangnya. Diana dan Karmen masih memakai baju kebesaran. Nampak gagah dan berwibawa.

__ADS_1


Diana beradq di trnda terbuka temoat biass menerima tamu. Tujuh orang masuk ke tenda. Fua orang berpakaian militer, dua orang lainnya berpakaian polisi dan tentara dan tiga lainnya berpakaian biasa.


"Salam, Nona! Aku Jenderal Alfonso dari provinsi tengah ingin menemui Nona Diana!" Kata seorang berpakaian militer.


"Aku Jenderal Timothy dari Provinsi Timr ingin menemui Nona Diana!" Kata lainnya.


"Kami para pemimpin pasukan seribu memberi salam pada Nona Diana! Mohon beri petunjuk!" Kata lima otang lainnya bersama.


"Duduklah! Tdak perlu terlalu formal. Kita di sini sama kedudukan sebagai prajurit. Aku sangat senamg kalian bisa datang tepat waktu, karena besok, kita akan berperang secara fisik." Kata Diana, lalu ketujuh orang duduk di kursi yang ada di ruangan itu.


"Oh ya, yang perlu kita lakukan besok adalah bertahan. Semakin lama bertahan akan semakin baik. Karena jika tidak, mereka akan menyerang penduduk biass, itu yang ditakutka. Jadi mereka memang hutuh musuh." Kata Diana lagi.


Ketujuh orsng ini merasa heran, ternyata Nona Diana masih sangat muda dan cantik.


"Menurut cerita, makhluk-makhluk itu tidak bisa mati, dan hanya Nona yang bisa membunuhnya?" Tanya Timothy.


"Benar, pedangku ini bisa melukai mereka. Tapi aku belum sempat membunuh mereka karena kabur. Jika aku sanggup, sebenarnya aku bisa maju sendiri. Tapi mereka terlalu banyak. Itu masalahnya." Jawab Diana.


"Bagaiamana dengan Raja Naga?" Tanya Alfonso.


"Menurut guru dari perguruan di Gunung M3r, Raja Naga akan datang bersama.guru Galuh. Tapi aku tidak tahu pasti kapan Raja Naga akan datang." Jawab Diana memang belum tahu pasti.


"Bagi kita prajurit petarung, sebisa mungkin selalu menghindari benturan langsung dengan makhluk-makhluk itu, tidak perlu menangkis serangan, namun usahakan menyerang balik. Mereka tidak terlalu kuat secara fisik, tapi mereka tidak bisa mati." Lanjut Diana. Ketujuh orang itu mengangguk-anggukkan kepala.


"Pada para pemimpin pasukan, sampaikan itu pada pasukan kalian. Itu sangat penting, dan kita harus bertahan sampai Raja Naga datang. Dan lagi, ada mkhluk yang membawa pedang api, biar aku yang akan menghadapinya, kalian harus menghiindar dari pertarunganku. Karena pedangku dan pedangnya sangat berbahaya buat kalian." Kata Diana sambil melihat ke arah lima orang pemimpin pasukan.

__ADS_1


"Mengerti, Nona!" Jawab mereka bersama-sama.


******


__ADS_2