Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Anak Adipati


__ADS_3

Tengah malam, rombongan Diana sudah sampai di perbatasan masuk Kadipaten Manik Arum seperti yang dikatakan kusir. Di perbatasan, ada sejenis menara setinggi lima meter dan ditempati oleh prajurit yang mengawasi perbatasan. Sementara di bawah, ada pos prajurit kadipaten yang juga berjaga.


Menara-menara itu memang digunakan untuk mengawasi pergerakan orang yang keluar masuk. ada banyak sekali menara mengelilingi Kadipaten Manik Arum. Jarak antar menara sekitar limaratus meter.


Diana menghentikan laju kudanya, begitu juga dengan Karmen dan kusir. Diana memandang berkeliling.


Seorang prajurit menghampiri mereka.


"Kalian mau kemana?" Tanya Prajurit.


"Kami akan ke kerajaan, tapi malam ini kami mau mencari penginapan di sini, besok baru melanjutkan perjalanan." Jawab Diana.


"Maaf, orang asing dilarang memasuki Kadipaten untuk saat ini. Sebaiknya kalian mencari penginapan di pinggiran kota. Kalian lihat, cahaya yang terang itu adalah tempat orang asing menginap." Kata prajurit sambil menunjuk suatu tempat.


"Memangnya ada apa dengan kadipaten kalian?" Tanya Diana iseng.


"Tidak perlu banyak tanya! Orang asing tidak perlu tahu apa yang terjadi!" Jawab prajurit dengan nada tinggi.

__ADS_1


Diana tersenyum masam. Lalu dia memberi kode agar mereka menuju lampu yang terang. Mereka pun akhirnya berbelok ke arah kanan.


"Paman? Apakah jalan ini bisa ke kerajaan?" Tanya Diana pada Kusir.


"Biasanya dulu kami lewat tengah kota kadipaten. Aku belum tahu jalan ini. Kita bisa tanyakan nantu, Tuan Pendekar." Jawab kusir.


"Baik!" Sahut Diana, kemudian dia menuju sisi Karmen dan melanjutkan perjalanan.


Hanya lima belas menit, mereka sudah sampai di trmoat penginapan yang dimaksud. Namun, alangkah terkejutnya mereka, yang dimaksud penginapan ternyata adalah sebuah tempat pelacuran, selain itu, twmpat itu juga merupakan tempat perjudian.


Saat sudah mulai perjalanan, beberapa orang dengan tampang garang menghentikan mereka.


"Mau kemana kalian? Kalian tidak bisa kemana-mana. Kalian akan tetap di sini. Haha!" Kata seorang pria.


"Benar, kalian wanita-wanita cantik, tidak baik berkeliaran malam-malam. Apalagi ini sudah tengah malam. Sebaiknya kalian menginap saja di sini dan menemani Tuan kami. Hahaha!" Sahut lainnya.


"Diana, kita hajar saja mulut kotor mereka!" Kata Karmen.

__ADS_1


"Tentu saja, tapi tunggu dulu, siapa yang dimaksud tuan mereka, aku ingin tahu." Jawab Diana.


"Hei! Pria-pria jelek! Apa kalian ingin pincang? Kalau berani mengganggu kami, maka kami akan mematahkan setiap satu kaki kalian! Hihi!" Teriak Karmen setengah bergurau. Namun, walaupun begitu, itu membuat beberapa pria menjadi marah.


"Kamu belum tahu sedang berhadapan dengan siapa? Tuan kami adalah anak Adipati Manik Arum!" Seorang pria memberitahu.


"Oh! Aku mengerti! Jadi kalian ini manusia-manusia tidak berguna anak buah orang besar? Suruh dia kemaei! Aku akan menghukumnya!" Suara Diana sangat keras. Membuat beberapa orang yang berada di rumah itu menoleh ke arah mereka.


"Kamu berani menghina tuanku? Kamu pantas mati!" Teriak seorang pria paling depan.


"Sedang!" Suara itu terdebgar sangat keras dan saat itu juga sekitar tuju pria berbadan besar maju dengan pedsng di tangan. Diana tidak bergrming. Dia yakin mereka bukanlah prajurit yang biasa berperang, namun hanya pandai menggertak.


Saat mereka mulai mendekat, Diana melepaskan tujuh senjata rahasianya dan langsung menembus tulang kering mereka semua. Akibatnya, mereka bertujuh langsung menjerit kesakitan dan beguli-guling di tanah sambil memegangi tulang kering mereka.


Sawt itulah dari dalam rumah berlarian banyak orang dengan senjata di tangn. Di sntara orang-orang itu, ada seorang dengan pakaian bangsawan. Dia adalah putra Adipati Manik Arum.


"Siapa yang melakukan ini?" Tanya anak adipati.

__ADS_1


__ADS_2