
Hari ini sekolah libur karena hari minggu. Nenek Diah pergi ke kamar Diana. Ada sesuatu yang mengganjal perasaannya.
Nenek Diah melihat Dara sedang tidur. Pasti semalam.dia merengek-rengek lagi minta ikut Diana.
"Nenek, ada apa? Sepertinya ada seseuatu yang penting?" Tanya Diana.
"Diana, kamu tahu? Dua hari lalu, nenek pernah bilang padamu bahwa Nenek bermimpi didatangi kakekmu?" Tanya Diah.
"Iya, Nenek." Jawab Diana.
"Diana, sepuluh hari lagi kamu akan pergi. Dan aku tidak bisa bersamamu. Kamu akan pergi bersama Karmen dan Rangga serta Anita. Mengenai memgurus perusahaanmu, kamu bisa serahkan ke Er atau Cintya. Mereka pasti bisa melakukannya. Aku sebenarnya ingin Galang membantumu. Tapi, dia sedang berlatih. Aku tidak berani memintanya." Kata Nenek Diah.
"Bagaimana dengan Dara, Nenek?" Tanya Diana.
"Dara tidak bisa berpisah lama darimu. Dia akan ikut bersamamu. Masalah di Kota M bukankah sudah kamu serahkan pada Herman dan Joshua? Jadi waktu sepuluh hari, selesai atau belum masalah di Kota M, kamu tetap harus pergi." Ujar Nenek Diah.
__ADS_1
"Nenek, sebenarnya aku harus pergi kemana?" Tanya Diana.
"Diana, Kakekmu adalah seorang keturunan dari.juru damai di masa lalu. Sebelum meninggal, dia menyerahkan sebuah batu seperti kaca. Bentuknya kotak. Di dalamnya seperti sebuah kerajaan yang sedsng dalam peperangan. Nenek tidak tahu pasti apakah itu memang gambaran sebuah kerajaan di masa lalu atau itu hanya buatan seorang seniman. Tapi kakekmu bilang bahwa kamu yang akan pergi ke sana untuk meredam.perang dua kerajaan besar." Jawab Nenek Diah.
"Tok! Tok!" Terdengar pintu kamar Diana diketuk.
"Diana! Tuan El datang!" Suara Cintya terdengar di luar pintu.
Diana membuka pintu, "Aku akan ke sana sebentar lagi." Kata Diana pada Cintya.
"Sayang, kok merem lagi?" Diana menggendong Dara dan segera ke ruang tamu bersama Nenek Diah.
"Tuan El!" Sapa Diana.
"Nona, Aku sudah tahu apa yang harus Anda lakukan dalam sepuluh hari ke dwpan. Aku yang akan mengantarkan kalian melewati pintu rahasia ke tujuan kalian. Perjalanan kalian akan sulit, namun, aku akan selalu melindungi kalian. Sayangnya Tuan Galang tidak bisa ikut besama kalian karena dia harus menyempurnakan teknik Tujuh Bayangan Naga yang memang belum sempurna." Kata El yang membuat Diana dan Diah terkejut.
__ADS_1
"Bagaimana kamu tahu itu, Tuan El?" Tanya Diah.
"Nyonya, aku tahu banyak apa yang terjadi di masa lalu sampai hari ini. Namun aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Tuan Galang dan Nona Diana adalah masa depan. Namun, aku tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku hanya mempersiapkan saja." Jawab El.
"Tuan Li menitipkan ini untuk Nona Diana." Kata El lalu membuka sebuah kota yang saat itu mengrluakan cahaya hijau.
Sebuah kalung terbuat dari batu giok berwarna hijau dengan liontin segitiga juga berwarna hijau. Cahaya kalung itu seketika seperti terserap oleh Diana. Setelah memakainya, Diana merasakan tubuhnya semakin kuat dan ringan. Dara yang berada dalam.pelukannya terbangun karena ada rasa hangat yaang mengalir ke tubuhnya.El memberikan kalung itu oada Diana untuk dioakai.
El juga menyerahkan kalung yabg berbentuk sama dengan kaluang yang diberikan pada Diana dan memberikannya untuk Dara. Dia tahu Dara pasti juga menginginkan kalung yang sama.
"Ini adalah Kalung Seribu Keajaiban milik keluarga Tuan Li. Kalung ini telah memilih Nona Diana sebagai pemiliknya. Itu yang dikatakan oleh Tuan Li. Nona, pada hari kesepuluh aku akan datang lagi kemari, saat itu, Nona Diana, Nona Karmen dan Tuan Rangga serta Nona Dara sudah memakai baju perang. Aku akan mengantarkan kalian pergi." Kata El.
"Baik, Tuan El. Kami siap." Jawab Diana.
El kemudian berlutut, memberi hormat dan berpamitan pergi. Diana memandang Dara yang saat itu sedang tersenyum senang karena memiliki kalung yang cantik. Dara selalu berpikir dia memang harus sama dengan Ibu.
__ADS_1