
"Halo, Nona!" Sapa Farel setelah menerima panggilan.
"Farel, bagaimana dengan delapan orang itu?" Tanya Diana.
"Beres, Nona, semua sudah berhasil dilakukan opersai. Semua berjalan lancar." Jawab Farel.
"Baguslah! Oh ya, coba nanti tanyakan pada mereka, apakah mereka mau membantuku? Juga, hapus semua video rekaman tadi malam, tidak ada yang boleh menyebar sampai ke seluruh negara." Kata Diana.
"Baik, Nona. Nanti akan aku tanyakan pada mereka. Mengenai video dan foto yang Nona maksud, timku telah membuat robot blocked dan sudah kami masukkan di mesin media sosial, jadi siapapun yang masih punya video dsn foto dan berusaha menggunggahnya, robot akan segera beraksi menghapusnya. Nona tenang saja." Jawab Farel.
"Sore nanti aku akan ke bunker, dan akan membicarakan sesuatu dengan tim juga delapan orang itu. Yang penting kamu tanyakan duli, maukah mereka membantuku. Itu saja." Kata Diana lagi.
"Baik, Nona. Pesan Nona akan aku sampaikan." Jawab Farel. Lalu Diana mematikan panggilan.
Farel segera menemui delapan orang yang sudah selesai operasi. Mereka sedang makan di sebuah ruangan.
"Kakak Lung, maaf aku mengganggu makan kalian. Sebentar saja, tadi Nona Diana meneleponku. Dia menanyakan, apakah kalian mau membantu Nona Diana? Itu saja pertanyaannya." Tanya Farel.
Yang dipanggil kakak Lung adalah pria besar bertato di seluruh tubuh bahkan sampai ke muka.
"Tentu saja, apapun yang diminta Nona Diana, pasti kami lakukan!" Jawab Lung cepat.
Semua orang juga setuju, mereka mengangguk-angguk.
"Baiklah, itu saja, mengenai jelasnya, nanti sore Nona Diana akan kemari. Kalian bisa tanyakan langsung padanya." Kata Farel.
Mereka pun penasaran dengan apa yang diinginkan oleh Diana. Mereka tentu saja tidak dapat membantah. Apalagi Diana sudah banyak membantu mereka, terutama telah menyelamatkan nyawa mereka. Jadi apapun akan mereka lakukan untuk membalas kebaikan Diana.
******
Pulau Ro
__ADS_1
Siang itu rombongan Galang akan segera kembali ke Kota S. Sebelumnya, dengan kemampuannya, Galang sudah melindungi Pulau Ro dengan Formasi Naga Pelindung, sehingga jika ada yang bermiat menyerang pulau, formasi akan segera bereaksi.
"Kita berangkat sekarang, Kaptem!" Kata Galang kepada Kapten Thomas yang sudah siap dan menyambut Galang di pintu masuk, Er juga ada dalam rombongan itu.
Sementara puluhan gadis yang sudah diselamatkan juga ikut dalam rombongan. Juga puluhan pria penculik gadis dibawa untuk diserahkan pada pihak kepolisian.
Tiga kapal lainnya juga berangkat pulang membawa orsng-otang yang awalnya akan menjadi penambang, mereka diminta Galang untuk kembali ke keluarganya.
Er terlihat menitikkan air mata, dia memang pernah bersekolah di kota, tidak sering dia pulang dan bertemu orang tuanya. Namun perpisahan kali ini, itu karena hal lain, Galang sudah mengingatkan, bahwa mengikutinya adalah akan qda dalam bahaya.
Walaupun begitu, Er berkeras kepala dan tetap mengikuti Galang. Sementara orang tua Er memang sudah yakin dengan Galang. Galang tentu saja akan bertanggung jawab pada Er.
Galang menatap Er dengan iba, dia merasa tidak tega bila Er harus berpisah dari orang tuanya demi mengikutinya. Saat Galang menatapnya, Er tidak berani membalas tatapan Galang. Er hanya menunduk dan terus berjalan memasuk kapal dan mengikuti Cintya.
Galang berjalan mendekati Er, lalu mengambil tasnya yang agak kecil. Karena tas lainnya sudah dimasukkan ke ruangan barang.
"Kamu tidurlah di kamarku!" Kata Galang.
"Tenang saja, aku bisa tidur di manapun. Ayo, ikutlah denganku." Ajak Galang. Lalu mereka berdua memasuki sebuah kamar yang mewah. Lalu Galang mengemasi barang-barangnya dan dimasukkan ke dalam tas. Dia juga membawa pedang Naga miliknya.
"Terimakasih." Kata Er.
"Tidak apa-apa." Lalu Galang keluar kamar. Er segera menata ulang kamar yang berantakan. Selama di Pulau Ro dan sebelumnya, Galang tidak membiarkan orang lain masuk ke kamarnya, terutama karena Pedang Naga dan Kita Tujuh Bayangan Naga serta Seribu Pil Ajaib.
Galang segera pergi ke restoran sambil menggendong tas dan membawa pedang. Dia pun duduk di sana dan memesan teh panas. Perjalanan kali ini akan memakan waktu sekitar satu minggu untuk sampai ke Kota S. Setidaknya itu yang dikatakan Kapten Thomas sebelum berangkat.
******
Sore itu Diana sudah sampai di bunker tempat tim Tekno berada. Penjagaan oleh polisi dan tentara sangat ketat berlapis-lapis. Bunker itu memang rencana akan diserahkan untuk markas Angkatan Laut yang terhubung langsung ke laut lepas melalui terowongam. Sedangkan di ujung terowongan, ada kapal selam milik angkatan laut provinsi selatan.
Karena yang datang adalah Diana, Karmen, Dara dan Anita, mereka langsung dipersilahkan masuk tanpa pemeriksaan. Diana dan lainnya pun langsung menuju ke tempat Farel dan lainnya. Di sana sudah berkumpul tim Farel yang berjumlah dua puluh orang.
__ADS_1
Saat Diana muncul di sana, mereka pun segera memberi salam dan hormat. Diana menyuruh mereka duduk kembali.
"Panggil delapan orang itu!" Pinta Diana.
Seseorang segera pergi dan menuju ruangan lainnya, saat kembali, di belakangnya sudah ada delapan orang yang mengikutinya.
"Salam, Nona!" Delapan orang memberi salam dan membungkuk hormat.
"Duduklah kalin semua!" Perintah Diana.
"Kakak semua, apakah Farel sudah bicara pada kalian?" Tanya Diana setelah mereka semua duduk.
"Iya, Nona. Kami akan membantu Nona apapun permintaan Nona Diana. Bahkan jika kami harus mati, kami siap!" Jawab Lung
"Trimakasih, Kakak." ucapan Lung membuat Diana terharu.
"Kalian tidak harus menuruti semua keinginanku. Kita manusia harus saling tolong menolong. Jika kalian menolak, aku juga tidak akan memaksa. Sembilan hari ke depan, akan ada serangan dari makhluk dunia lain. Aku dan Karmen sudah bertarung dengan ratusan di antara mereka, walaupun harusnya kami menang, namun mereka tidak bisa mati. Tubuh mereka juga tidak bisa ditembus dengan senjata tajam." Diana kembali mengingat kejadian malam itu dan siang tadi.
"Aku tadi sempat pergi ke Gunung Mer dan bertarung kembali dengan orang yang sudah kerasukan makhluk itu. Sayangnya dia kabur entah kemana. Dia membawa pedang api yang sangat berbahaya." Diana menghela nafas.
"Perang dengan mereka berarti mencari mati. Tidak memerangi mereka juga hanya akan menjadi budak mereka. Aku tidak tahu berapa jumlah mereka. Namun salah satu dari mereka mengatakan kalau akan membawa lebih banyak lagi pasukan. Aku sudah minta bantuan dari perguruan Paser Maut. Mereka bersedia membantu dan akan membawa sekitar dua ratus orang. Itu belum termasuk para guru. Aku juga sudah minta bantuan dari pemerintah agar meminjamkan baju besi tentara untuk semua orang yang akan berperang."
"Selain itu, pihak angkatan laut sudah mengkonfirmasi pasti datang, juga dari kepolisian, tadi inspektur Herman sudah mengirimkan pesan. Kita hanya menunda waktu, karena seorang teman mengatakan kalau Raja Naga pasti akan datang dan mengalahkan makhluk itu."
"Juga menurut Nenek Sol, tradisi perang mereka hanya akan dilakukan siang hari saja sampai matahari terbenam."
"Jika kalian ikut bersamaku memerangi mereka, aku sangat senang, tapi jika tidak, aku tidak akan memaksa kalian. Kalian akan aku kembalikan secepatnya ke Pulau Bintang." Diana mengakhiri ucapannya.
Kedelapan orang itu saling berpandangan, Mereka saling bicara satu sama lain setengah berbisik. Lalu, seorang wanita berambut pirang, mungkin saja dia janda, berdiri lalu membungkuk hormat.
"Nona, namaku Ester. Aku adalah salah satu yang pernah tinggal di asrama pasukan elit angkatan laut. Walaupun aku dibebas tugaskan sementara, karena ini menyangkut manusia, maka aku akan mengikutimu untuk memerangi mereka. Dan tadi teman-teman sudah sepakat bahwa mereka akan mengikuti Nona sampai mati." Kata Ester. Wanita cantik berumur tiga puluh tahun itu membungkuk hormat.
__ADS_1
"Terimakasih, Kakak. Aku sangat menghargai keputusanmu dan juga yang lainnya. Besok pagi kalian akan dijemput untuk berlatih di desa. Semua akan berlatih. Ini adalah perang tidak resmi. Karena lawan bukan negara lain, tapi negara juga akan ikut berperang bersama.kita." Kata Diana.