
"Nona, sebelum Nona menyelamatkan kami dari Rocky, saya saja sudah rugi triliunan. Kalau hanya dua puluh lima miliar, saya tidak akan rugi. Anggap saja itu sebagai rasa terimakasih saya pada Nona Diana yang telah menyelamatkan kami. Dan, Nona juga memiliki saham sepuluh persen di perusahaan saya. Dividen akan diberikan pada Nona nantinya melalui rekening bank. Banyak pengusaha lain yang juga memberikan saham pada Nona Diana." Jawab Pambudi.
Di antara orang-orang yang ada di sana, yang merasa sangat terjepit adalah Niken. Ternyata Diana adalah orang yang sangat dihormati oleh bosnya. Niken sepertinya ingin bunuh diri.
"Baiklah, Paman, aku akan membayar dua rumah, tetapi mendapatkan tiga rumah. Apakah seperti itu?" Tanya Diana.
"Betul, Nona! Tio! Segera urus surat-surat rumah, dan berikan pada Nona Diana sekarang juga!" Jaeab Pambudi, lalu menyuruh manajer untuk segera mengurus berkas rumah.
"Paman jangan terburu-buru. Aku juga belum melakukan pembayaran." Kata Diana. Lalu dia mengambil kartu bank dari tas kecilnya dan memberikannya pada manajer.
"Oh ya, potong seratus juta, dan berikan itu pada Saras. Hanya dia yang peduli padaku dan tidak meremehkan aku. Itu adalah hadiah dariku untuknya." Kata Diana pada manajer.
Saras yang mendengar perkataan Diana segera berlutut. "Terimakasih, Nona! Terimakasih, Nona!" Katanya, dan tak sadar, Saras meneteskan airmata bahagia.
"Bangunlah!" Kata Diana. Karmen membantu Saras bangun dari berlutut. Saras mengusap air mata, dia terlihat tersenyum saat ini. Dia mendapat banyak fee dari penjualan, malah ditambah juga dari Diana. Dia berhasil menjual tiga rumah paling mahal sekaligus.
Sementara teman-temannya kini melongo menyaksikan Saras mendapatkan banyak sekali uang pada hari ini. Mereka pun mulai menyesali diri. Seandainya itu aku? Seharuanya aku tadi yang langsung menyapa dan melayaninya.
Apalagi Niken, hatinya sangat sakit sekali. Tidak disangka, orang yang diolok-oloknya sejak pertama datang, justru dialah yang membeli rumah paling banyak. Namun bukan dia yang membuatnya membeli banyak rumah.
"Nona, pembayaran sudah sukses. Ini surat-surat rumah Anda. Apakah Anda akan membawanya atau kami antarkan?" Tanya manajer.
"Tolong antarkan saja. Soalnya kami hanya membawa sepeda listrik dan tidak ada trmpat untuk meletakkan sertifikat." Jawab Diana.
"Baik, Nona! Kami akan segera mengantarkannya. Terimakasih atas kepercayaan Anda pada perusahaan kami." Manajer pun membungkuk hotmat.
Saat mereka sedang berbincang, Dara tidak ada di sana. Tadi Dara ada bersama mereka dan saat itu mereka tengah berbicara dengan manajer.
Ketika Diana dan Karmen hendak pulang, Dara tidak ada di sana. Mereka pun mencari Dara di seluruh kantor, tetapi Dara tidak ada.
__ADS_1
"Karmen!" Teriak Diana panik.
"Dara, di mana kamu, Nak?" Teriak Diana. Semua orangbikut mencari Dara. Namun Dara ridak ditemukan.
Orang-orang yang awalnya datang kemari, mereka masih ada di sini. Namun, hanya tiga orang yang tidak ada di sana. Mereka adalah Niken, Tuan Wang dan anaknya.
Diana menyembunyikan kesedihannya. Dia tidak ingin menangis. Sementara Karmen pun demikian. Lalu Karmen memeluk Diana, sama-sama menenangkan diri.
"Dara!" Suara Diana lirih. Matanya berkaca-kaca. Karmen pun demikian.
"Aku yakin ketiga orang itu yang menculik Dara." Kata Diana.
Namun, mereka belum tahu pasti kemana mereka membawa Dara.
"Nona, ada telepon dari seseorang!" Teriak Pambudi lalu menyerahkan sebuah ponsel model lama pada Diana.
"Anakmu ada di tanganku. Tenang saja, aku tidak akan menyakitinya. Aku hanya ingin uangmu. Jika lapor polisi, kamu tahu apa yang akan terjadi pada anakmu? Bawa ponsel ini dan aku akan memberi tahu apa yang harus kamu lakukan selanjutnya." Panggilan dimatikan. Suara di tel3pon tadi adalah suara laki-laki. Diana hanya mengira-ngira, mungkin itu Tuan Wang.
"Bagaimana, Nona?" Tanya Pambudi.
"Paman, tolong jangan sampai kejadian ini keluar dan jangan sampai wartawan yang ada di sini membocorkan kejadian ini. Aku akan membayar berapapun untuk membungkam semuanya." Kata Diana pada Pambudi.
"Nona jangan kuatir. Aku akan mengurus semuanya. Nona fokus saja pada Nona Kecil." Jawab Pambudi. Lalu dia segera mendatangi wartawan yang saat itu meliput penjualan. Dia memberitahu mereka agar jangan sampai kejadian ini keluar. Jika tersebar, maka Nona Diana akan membuat mereka hancur. Kiira-kira itu yang diberitahukan pada wartawan oleh Pambudi.
Wartawan memang beberapa kali mengetahui sosok Diana. Terakhir, mereka meliput acara pertemuan dengan Rocky. Memgetahui hal itu, tentu mereka merasa ngeri. Ini bukan soal takut pada Diana, ini adalah soal nyawa anak kecil yang diculik.
Jika berita ini bocor ke media, bisa jadi para penculik ketakutan dan mereka tidak swgan menyakiti bahkan menghabisi Dara lalu pergi jauh.
Diana dan Karmen lalu pulang, dikawal oleh Pambudi dan manajer yang sekaligus mengantarkan surat rumah. Diana tidak peduli dengan semua itu. Yang dia pikirkan adalah bagaimana menyelamatkan Dara. Itu jauh lebih penting dari apapun.
__ADS_1
Sesampai di rumah, Diana menelepon Jatmiko, memintanya datang bersama Farel. Diana ingin Farel menyelidiki di mana lokasi mereka membawa Dara. Walaupun itu sulit, namun Diana tahu Farel punya kemampuan soal dunia abu-abu. Jadi dia akan meminta Farel untuk melacak nomor telepon yang dipakai untuk menelepon tadi.
Hanya selang lima belas menit, Jatmiko datang bersama Farel. Ternyata Anita juga ikut bersama mereka.
"Maaf Nona, aku rindu oada Nona Dara. Jadi aku ikut kemari. Mohon maafkan aku." Kata Anita sembari menunduk.
"Anita, Dara diculik. Aku meminta ayahmu dan kakakmu kemari untuk membantuku." Kata Diana. Sontak Anita menangis. Dia merasa sangat sedih. Nona Kecil yang dia rindukan ternyata diculik. Padahal dari rumah dia sudah sangat senang akan bertemu dengan Dara. Dia memanh sudah agak lama tidak bertemu dengan Dara.
Kebetulan ayahnya diminta datang, jadi dia ikut. Tapi ternyata Dara malah diculik. Anita pun tidak bisa menahan diri mendengar kabar itu. Dia memang sangat menyayangi Dara, gadis kecil yang sangat lucu dan menggemaskan. Anita membayangkan betapa menderitanya Dara saat ini.
Diana memberikan nomor telepon yang dipakai penculik untuk meneleponnya tadi pada Farel. Farel langsung membuka laptopnya, mengaktifkannya. Lalu mulailah tangan terampilnya bermain pada keyboard.
Diana sangat berharap Farel bisa menemukan titik lokasi penculik agar dia segera menemukan Dara.
"Nona, sudah ketemu. Lokasinya tidak jauh dari Dara Shinta Food. Sebentar, aku akan mencari alamat tepatnya." Kata Farel. Lalu jari-jarinya bermain lagi.
Kemudian, dia memberikan sebuah alamat pada Diana.
"Karmen, siapkan mobil, kita berangkat!" Kata Diana.
"Biar aku saja, Nona. Kami akan bersama Nona." Kata Jatmiko.
"Anita, tunggulah di sini! Paman Pambudi, jika Paman mau pulang, silahakan. Aku tidak bisa diam saja." Kata Diana.
"Baik, Nona!" Jawab Anita.
"Nona tenang saja, aku dan manajer serta Saras akan menunggu di sini. Semoga Nona Dara segera diselamatkan." Jawab Pambudi.
Kemudian Diana berangkat bersama Karmen, Jatmiko dan Farel. Yang mengemudikan mobil adalah Jatmiko. Mereka langsung menuju alamat yang diberikan oleh Farel.
__ADS_1