Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Menghina CEO


__ADS_3

Mari tinggalkan sejenak Galang dan kawan-kawan.


Di kantor perusahaan pambuatan kapal, pagi itu Diana datang ke perusahaan bermaksud mengecek apakah Rocky masih melakuikan tekanan atau tidak. Dia datang hanya menggunakan Sepeda Motor Listrik. Kebetulan memang tempatnya tidak jauh dari dia tinggal. Diana, Karmen dan Dara sekarang tinggal di perumahan milik perusahaan atas permintaan Anton.


Dara yang ikut dengan Diana, sangat senang menaiki sepeda motor listrik. Dia pun minta dibelikan helm ketika mereka baru saja membeli sepeda listrik itu. Diana memarkir sepeda listriknya di tempat parkir khusus direktur.


Bagaimanapun, dia adalah CEO, maka tidak salah jika dia memarkirt kendaraannya di tempat itu. Beberapa karyawan yang pagi itu datang, mereka memperhatikan Diana dan Dara. Ketika melihat mereka memarkir sepeda listrik di tempat parkir direktur, beberapa orang mendatanginya.


Menurut petugas parkir, itu tidak masalah, toh tempat parkir sangat luas, daripada parkir di tempat parkir karyawabn, nanti ,malah mengganggu karyawan yang mau parkir.


"Ya, siapa ini? Bukankah ini Diana teman sekelas kita?" Sekelompok pemuda dan gadis yang baru turun dari mobil melihat Diana dan Dara yang saat itu hendak melepaskan helm. Mereka pun mendatanginya.


"Hei Diana, bukannya kamu dulu kerja di tempat barang rongsok? Kenapa berada di sini? Apa kamu mau melamarkerja? Kamu rupanya sudah punya anak, ya?" Kata seorang gadis saat sudah di dekat Diana.


"Oh, Ratih. Kamu bekerja di sini, kah?" Diana mengingat temannya saat di SMA dulu. Walau berbeda kelas, namun mereka saling mengenal.


"Aku sudah tidak bekerja di sana. Aku sekarang bekerja di sini." Jawab Diana.


"Ternyata kamu juga bekerja di sini? Kamu kan hanya lulus SMA, pekerjaan apa yang cocok buat kamu di sini?" Tanya Ratih dengan senyum mengejek.


"Ratih, kenapa kamu berkata seperti itu? Bukankah pekerjaan itu sama saja? Yang membedakan adalah nama dan tempat." Seorang pemuda yang bersama Ratih menegurnya karena Ratih sudah kelewatan.


"Jimmy, kenapa kamu membelanya?" Tanya Ratih.


"Siapa yang membelanya? Ucapanmu itu sudah kelewatan Ratih. Semua pekerjaan bukankah sama saja? Diana juga teman sekolah kita. bagaimana kamu bisa menghinanya begitu?" Jawab Jimmy.


"Ketua kelas kita memang suka sekali membela DFiana sejak dulu. Tapi aku tidak peduli. Bukankah pekerjaan rendahan itu tidak sama dengan karyawan yang bekerja duduk di kantoran?" Ratih masih ngotot dan tidak mau kalah.


"Benar Ratih, bekerja di perusahaan ini, kalau dia lulusan SMA, paling-paling jadi office Boy atau Cleaning Service. Lalu dia membawa anak, bagaimana dia akan bekerja?" Seorang gadis membela Ratih.

__ADS_1


"Tidak begitu juga, Evi. Apa di matamu itu hanya kedudukan tinggi yang layak mendapat kehormatan? Diana bekerja sesuai kapasitasnya. Itu juga akan memudahkan atasan. Jika tidak ada yang bekerja sebagai bawahan, lalu kamu mau menyuruh siapa? Jadi, jangan suka menghina bawahan. Kita juga merupakan bawahan, di atas kita masih ada manajer dan direkltur juga ada CEO. Bagaimana pendapat mereka tentang kita?" Jimmy masih menasihati mereka.


"Lagian dia hanya karyawan biasa, kenapa parkir sepeda listriknya di tempat parkir direktur. Sungguh karyawan yanhg tidak tahu etika." Ratih kembali bicara.


"Tukang parkir mengizinkan, jadi bukankah itu tidak masalah. Lagipula, direktur Arya da direktur lainnya pasti tidak akan keberatan." Jawab Diana santai. Dia melihat Kaki dara sudah bergerak-gerak. Kaki kanannya dihentak-hentakkan ke lantai. Pertanda dia sedang kesal. Mungkin dia ingin segera masuk.


"Sayang, ada apa?" Tanya Diana pada Dara. Dara lalu menunjuk ke arah pintu masuk. Dara ingin masuk. Lihatlah pakaiannya. Dia sudah mengenakan pakaian yang baguis, masa harus berdiri di luar. Harusnya dia masuk dan makan ayam goreng. Diana lalu memegang tangan Dara dan membawanya berjalan menuju pintu lobi.


Orang-orang di sana pun mengikutinya. Sementara Ratih dan Evi yang juga berjalan nampak kesal. Saat hendak masuk, dua orang satpam mencegat mereka dan menanyakan kartu pengenal.


"Kartu pengenal apa?" Tanya Diana.


"Maaf, tanpa kartu [pengenal, tidak ada yang diizinkan masuk." Kata satpam dengan ramah.


"Ya, ternyata dia tidak punya kartu karyawan. Bagaimana kamu bisa masuk tanpa kartu karyawan?" Yang bicara adalah Ratih. Lalu mulailah Ratih mengolok-olok Diana. Dia dan Evi berulangkali menyindir dan menghina Diana. namun Diana diam saja.


Tiba-tiba ponsel Diana berdering. Diana mengambil posnsel dari tas kecilnya. Ternyata Arya.


"Aku sudah di depan pintu lobi dan tidak bisa masuk karena tidak ada kartu pengenal. Kenapa kamu tidak memberitahuku?" Jawab Diana. Dian juga bertanya perihal kartu pengenal.


"Apa? Nona ditahan? Nona tunggu di sana. aku akan segera turun." Kata Arya, lalu panggilan ditututp.


Sebuah kehebohan terjadi di dalam. Dirut Arya dan dirut dari berbagai departemen tampak terburu-buru berjalan ke arah pintu lobi. Selain Arya, ada juga manajer Dimas dan banyaki juga manajer lain berjalan di belakang Arya.


"Ada apa ini? Tidak biasanya  Dirut dan para direktur juga manajer sampai turun secara bersama. Pasti mau menyambut tamu penting." Orang-orang pun penasaran dengan apa yang terjadi.


Dari luar, baik Ratih, Evi, Jimmy dan lainnya juga bisa melihat kehebohan itu. Apalagi dinding lobi dan pintu lobi terbuat dari kaca tembus pandang. Mereka mengira ada tamu istimewa yang datang. Jadi mereka pun mencari-cari, siapa tamu penting itu.


Sementara Dara  masih melakukan hal yang sama. Kakinya berkali-kali dihentakkan. Dia berfikir, mereka akan pergi ke restoran. Jadi di pikirannya, dia akan makan ayam goreng.

__ADS_1


"Ibu!" Teriak Dara.


"Iya, sebentar, sayang. kakek Arya sebentar lagi datang." Kata Diana membujuk Dara.


"Ayam goleng!" Teriak Dara. Diana tersenyum. Diana baru paham, Dara mengira mereka akan pergi ke restoran.


"Nanti pesan di dalam, ya." Kata Diana dengan lembut, membuat hati dara semakin tenang dan dia pun tidak bertingkah aneh lagi.


Saat itu, para Direktur pun keluar dari pintu dan mereka semua berlutut, juga para manajer.


"Selamat datang Nona Diana, selamat datang Nona Dara!" TYeriak para direktur dan manajer secara bersama.


Apa ini? Nona Diana?Orang-orang yang melihat para direktur dan manajer berlutut, mereka pun akhirnya ikut berlutut. Walau tidak tahu itu untuk siapa.


Terlebih Ratih dan Evi. Mereka sangat penasaran. APa maksudnya Nona Diana?


"Paman Arya, bisakan memesan ayam goreng untuk Dara?" Tanya Diana pada Arya.


"Tentu saja, Nona. Nona Dara mau berapa banyak?" Arya menjawab Diana, sekaligus menanyakan juga pada Dara.


"Dara mengangkat tangan kanan, dua jari ditekuk, menyusakan jari telunjuk, jari tengah dan jari manis. Berearti dara mau tiga ayam goreng.


"Seseorang! Pergi ke restoran dan pesankan tigapuluh ayam goreng untuk Nona Dara!!" Kata Arya.


"Terlalu banyak, Paman. nanti tidak habis. Jangan lupa pahan, ya." Kata Diana, membuat Dara tersipu. Orang-orang di sana melirik ke arah Dara dan semuanya tersenyum, kecuali Ratih dan Evi.


Seorang manajer segera berlari ke restoran untuk memesan ayam goreng Dara. Restoran perusahaan ada di lantai bawah, jadi mereka bisa langsung pergi ke restoran untuk makan pagi.


"Paman Arya, apa aku tidak diajak masuk?" Tanya Diana mengagetkan Aya dan lainnya. "Kalian semua berdirilah, aku mau masuk. Kalian menutup jalan masuk. Karyawan juga mau masuk dan mau bekerja."

__ADS_1


Semua orang langsung berdiri dan membuka jalan untuk Diana dan Dara. Setelah Diana melewati mereka, mereka pun berjalan mengikuti Diana dan Dara.


Arya lalu berjalan di sampih Diana dengan tubuh membungkuk. "Nona, kita langsung ke ruang pertemuan."


__ADS_2