
Diana menugaskan bangsa peri yang sudah ditaklukkannya untuk membuat peralatan perang. Mereka dipimpin langsung oleh bawahan Ratu Keabadian. Rancangan senjata berat dan juga senapan saat ini sedang dikerjakan.
Ratu juga sudah mengkonfirmasi bahwa mereka bisa membuatnya dan itu dikerjakan di istananya. Diana mewanti-wanti bahwa, semua harus selesai dalam waktu tiga hari. Itu semua dimaksudkan agar peralatan itu bisa langsung diuji coba dan prajurit bisa menggunakannya.
Sementara itu malam sudah dstang, semua pemimpin pasukan seribu yang dirunjuk sudah berkumpul. Diana yang memgenakan pakaian serba hitam terlihat sangat cantik. Di belakangnya ada Rangga dan Karmem yang mengenakan pakaian serba hitam juga.
Saat Diana keluar dari tenda, saat itu semua pimpin.pasukan seribu memberi hormat.
"Salam untuk Panglima!" Teriakan mereka menggema di seantero perkemahan.
Diana melambaikan tangan, lalu duduk di kursi. Semua orang menantikan Diana bicara.
__ADS_1
Diana memandangi semua orang yang berdiri di hadapannya. Tak tampak ada senyum, dia sangat serius dan, saat itu mata-mata yang dikirim Diana telah kembali.
Setelah memberi hormat pada Diana, salah satu prajurit mata-mata segera melapor, "Kami telah mencatat semua senjata yang digunskan musuh. Dan itu berbeda dari senjata sebelumnya. Ada senjata batu dan cukup mengejutkam, mereka memiliki pelomtar batu dengan ukuran raksasa." Kata seorang prajurit
"Sekarang mereka berkemah di Lembah Katak." Prajurit mengakhiri laporannya.
"Baiklah, kalian pergilah!" Jawab Diana. Beberapa petinggi prajurit yang ditunjuk Diana memdampinginya saling berpandangan. Lembah Katak merupakan lembah paling mengerikan. Tidak ada yang bersni berada di tempat itu dan keluar dengan selamat.
"Panglima! Lembah Katak dihuni oleh seorang pertapa sakti. Ada ribuan makhluk halus yang menghuninya. Jika mereka bisa berada di sana dan selamat, apakah artinya pertapa sakti telah ditundukkan oleh mereka?" Kata seorang petinggi prajurit.
"Dengar semua! Setiap komandan pasukan seratus harap memeriksa kesiapan prajuritnya masing-masing. Kita tidak ingin selalu terjadi banyak korban. Siapa yang terkuat, dia akan berada di barisan paling depan. Dan yang lebih lemah akan berada di baris berikutnya dan seterusnya.. Setiap pemimpin pasukan seribu, harus meminta laporan kesiapan prajurit dan melaporkan kepadaku." Lanjut Diana.
__ADS_1
Para pemimpin pasukan mengangguk-angguk. Hal seperti ini memang terlalu sepele, tapi itu sangat penting demi perhatian pemimpin pada prajurit yang dipimpinnya.
Diana memperhatikan hal-hal kecil yang jarang diperhatikan oleh para pemimpin pasukan. Dan hal itu memang harus dilakukannya. Jadi dia tahu jika ada prajurit yang sakit atau apapun bisa segera diatasi.
"Jenderal Sutono. Aku mempercayakan pasukan pemanah padamu.Mulai hari ini kamu akan memimpin pasukan pemanah. Untuk Jenderal Jaya Sisesa Aku mempercayakanmu pada sepuluh ribu pasukan pedang dzn tombak. Jenderal Samarhudi, akan memimpin pasukan artileri. Sedangkan Jenderal Chen Long, Anda memimpin pasukan Peralatan berat tempur."
"Besok semua akan bekerja sesuai tugas maaing-masing. Kalian para jenderal meupakan empat pilar pasukan dan sepeeti yang aku katakan, semua pemimpin harus mengetahui dan memahami prajurit di bawahnya!" Kata Diana pada empat pejabat tinggi yang bersamanya.
Di dalam keprajuritan kerajaan Nusahtara, tidak ada sistem jenderal, namun Diana memberi gelar baru pada empat orang sebagai jenderal perang yang membawahi ribuan pasukan dan membawahi para pemimpin pasukan seribu.
Jumlah pasukan Diana sudah dihitung perkiraan berjumlah seratus ribu orang prajurit dan itu sudah termasuk pasukan bantuan dari berbagai kerajaan kecil dan juga prajurit dari kadipaten yang ada di bawah kerajaan.
__ADS_1
Saat memgetahui jumlahnya, Diana akhirnya membagi pasukan dalam tiga fase penyerangan. Untuk perang hari pertama, Diana hanya membutuhkan empat puluh ribu pasukan. Kemudian hari kedua empat puluh ribu pasukan dan di hari berikutnya sisa pasukan dua puluh ribu akan digabung dengan pasukan hari pertama.
Semua pasukan akan dibekali dengan keterampilan menggunakan senapan yang sedang dibuat.