
Sejak Diana pergi ke Lembah Katak, para pangeran terus meributkan. Karmen menantang Pangeran Lintang untuk bertarung karena Diana. Saat ini, keduanya sudah saling berhadap-hadapan.
Pangeran Lintang sangat percaya diri dan merasa menang. Sementara Karmen terlihat biasa saja. Dia tahu kekuatan para pangeran yang tidak seberapa dibanding empat jenderal yang bisa jadi lebih kuat dari Karmen atau Rangga.
"Pangeran, apakah kamu sudah siap? Kamu pasti sangat hebat. Jadi berani melawanku. Sebenarnya, aku tidak ingin bertarung denganmu. Karena kamu sama sekali bukan lawanku. Aku bisa mengalahkan ribuan musuh hanya dalam waktu yang singkat. Apalagi hanya kamu." Karmen memancing kemarahan Pangeran Lintang.
"Jangan banyak omong! Buktikan saja!" Pangeran Lintang terpancing dan mulai marah. Lalu dengan segera menghunus pedangnya. Tidak menunggu lama, Pangeran Lintang sudah langaung menyerang Karmen yang saat itu tidak menggunakan pedang.
Pangeran Lintang terlihat begitu hebat. Ketika pedang hendak mengenai Karmen, Karmen menghindar ke samping lalu dia mundur. Pangeran Lintang terus memburunya dan menyerang di titik yang mematikan di tubuh Karmen.
Karmen sama sekali tidak sedang berhadapan dengan lawan yang hebat. Jadi dia terus saja menghindari serangan demi serangan Pangersn Lintang. Karmen juga tidak berniat menyerangnya.
Bahkan, pertarungan itu sama sekali tidak seimbang.
"Cukup!" Teriak Pangeran Ludira.
__ADS_1
"Ada apa, Kakak? Kami belum selesai!" Sahut Pangeran Lintang dengan kecewa.
"Kamu tidak akan bisa mengelahkannya! Kamu sana sekali bukan lawannya!" Bentak Pangeran Ludira.
Wajah Pangeran Lintang memerah karena malu. Dia memang tidak bisa sekalipun menyentuh kulit Karmen. Jika Katmen mau, dia dengan mudah mengalahkan Pangersn Lintang.
"Pangeran Ludira, aku beritahu, Pamgla Diana, kehebatannya seratus kali lipat dariku dan Rangga. Bahkan bisa lebih. Bahkan, tanpa perlu bergerak dari tempatnya, Panglima Diana bisa membunuh ribuan orang hanya dengan mengedipkan mata. Jadi jangan pernah meremehkannya. Kalau dia marah, maka kalian habis!" Sahut Karmen dengan nada yang tidak sopan.
"Kami di sini mau membantu kalian berperang, bukan karena ingin jabatan. Jabatan Pamglima Diana di megeri kami tidak bisa dibandingkan, dia adalah seorang raja yang sangat dicintai oleh rakyat, dicintai pejabat, ditakuti musuh. Dan siapapun tidak akan tahan menghadapimya. Namun, dia adalah seorang yang rendah hati." Lanjut Karmen.
"Ada apa? Bukankah kalian harusnya sedang berlatih?" Tanya Diana kemudian. Tidak ada yang menjawab.
"Para Jenderal! Apa kalian bisu?" Tanya Diana sekali lagi. Tidak ada yang bersuara. Sumyi, bahkan jika ada jarum yang jatuh bisa terdengar.
"Kenapa para pangeran ada di sini?" Tanya Diana lagi.
__ADS_1
"Baiklah! Kalian tidak mau bicara. Jangan sampai aku bertanya pada Karmen dan Rangga." Diana mulai emosi.
"Bruk!"
Keempat Jenderal langsung menjatuhkan diri dan berlutut.
"Kami memgaku bersalah, Yang Mulia!" Seru keempat Jenderal.
Keempat Jenderal tertunduk dan tidak berani mengangkat wajah. Diana memamdangi mereka. Lalu, pandangannya tertuju pada para Pangeran.
"Pangeran Ludira! Aku tahu di antara kalian ada yang menginginkan menjadi panglima. Aku sangat tidak keberatan. Bagaimana jika aku menguji orang itu? Dia bisa maju dan menghindari satu saja pukulanku. Kalau dia selamat, maka dia lebih hebat dari aku. Tetapi, jika dia terkena pukulanku, maka dia akan mati! Siapa orang itu, majulah!" Lalu Diana pun berdiri dengan sikap yang arogan.
Dia tahu para pangeran memiliki pemikiran yang berbeda-beda. Para Pangeran sama sekali tidak ada yang menjawab.
"Kalian pasti mengira karena aku pergi ke Lembah Katak, maka aku tidak bisa pulang dan akan mati di sana. Jadi kalian memiliki rencana jahat." Diana terlihat marah.
__ADS_1