Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Titah Raja


__ADS_3

Pagi itu, suasana kadipaten tampak ramai. Hal yang menjadi ketakutan penduduk sudah diselesaikan oleh Diana tadi malam. Diana akhirnya menginap di kediaman adipati. Kedua kusir pun melepaskan kuda dari kereta dan memasukkannya ke kandang milik adipati. Kedua kusir juga diberi tempat yang sama dengan Diana dan lainnya. Mereka ikut dihormati sama seperti Rangga yang juga laki-laki.


Dara tentu saja menjadi gadis paling istimewa. Semua orang ingin memdekatinya, memyentuhnya ataupun menciumnya. Namun tentu saja tidak akan ada yang berani.


"Titah Raja untuk Adipati!" Teriak salah seorang penjaga di luar pendopo. Saat itu, adipati sedang berjalan meuju depan pendopo istana kadipaten bersama istri dan anak-anaknya. Sementara Diana bersama Dara sedang berada di depan pendopo istana.


Mendengar teriakan itu, Adipati dan keluarga berjalan lebih cepat. Sampai di depan, dia dan keluarga segera berlutut. Dan semua orang yang berada di sana juga ikut berlutut. Termasuk mereka yang sedang berada di halaman, semuanya berlutut.

__ADS_1


Hanya Diana dan Dara yang tidak berlutut. Mereka hanya melihat ada beberapa prajurit punggawa kerajaan dengan pakaian perang sedang duduk di atas kuda. Seorang kepala prajurit tampak sedsng berusaha membuka sebuah gulungan.


"Titah Raja! Setiap Kadipaten wajib mengirimkan seribu prajurit perang dalam waktu satu minggu ke bagian timur kerajaan. Kerjaan sedang dalam ancaman perang. Raja-raja di bawah Kerajaan Nusantara harus ikut berperang membela negara dari ancaman perang negara asing. Raja-raja kecil, adipati dan wilayah di bawah Kerajaan Nusantara wajib ikut berpartisipasi dalam perang melawan negara asing. Bagi siapa saja yang membantah, maka hukumannya adalah mati! Titah ini ditulis oleh Yang Mulia Raja!" Kepala prajurit menutup kembali gulungan dari kulit yang baru saja dia baca. Tanpa bicara apapun lagi, mereka pun akhirnya pergi.


Saat itu, Adipati dan keluarga segera bangkit berdiri. "Panggil Lukito kemari!" Perintahnya pada anak laki-lakinya.


"Masuklah, Lukito!" Pinta adipati. Lukito segera berdiri dan memasuki pendppo istana kadipaten.

__ADS_1


"Lukito, kumpulkan seribu prajurit! Kita akan berangkat malam ini! Berikan kesempatan pada para tahanan, jika mereka ingin diampuni, maka mereka harus mau ikut membela negara." Kata adipati saat dia sudah duduk di kursi kebesarannya.


"Tuan Adipatai, apakah itu tidak beresiko?" Tanya salah seorang penasihat kadipaten. Pria itu berumue sekitar delapan puluh tahun, namun tubuhnya terlihat masih tegap.


"Paman Diso, itu sudahh aku pertimbangkan. Ini jalan terbaik. Negara sedang membutuhkan banyak prajurit untuk melawan bangsa asing yang ingin menguasai negara. Jadi tidak elok rasanya menghukum mereka sementara negara sedang memburuhkan mereka. Bagaimanapun, merkea hanya tunduk pada perintah. Soal Sinto, hanya dia yang akan dihukum. Lukito akan memberi penjelasan pada prajurit bawahan Sinto." Jawab adipati.


Adipati pun segera bertindak. Tidak mau ambil resiko telat sampai di tujuan. Malam ini mereka langsung berangkat menuju kerjaan bagian timur. Membawa seribu prajurit didampingi oleh Lukito. Semwntara untuk urusan kadipaten, semwntara diaerahkan kepada pesehat Diso bersama anak adipati.

__ADS_1


Sementara, Diana yang memang sudah cukup iatrirahat, sudah berangkat terlebih dahulu sejak siang hari. Mereka akan langsung menuju ke pusat kerajaan sesuai petunjuk Tuan El.


__ADS_2