Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Tangis Dara


__ADS_3

"Diana, apa yang dibisikkan padamu?" Tanya Rangga saat dia berjalan ke arah kuda mereka. Dengan diiringi oleh Ratu dan prajurit, keduanya akan meninggalkan tempat itu.


"Aku adalah raja mereka sekarang, jadi aku tidak bisa memberitahumu." Jawab Diana.


"iya, aku mengerti, Yang Mulia!" Kata Rangga sambil membungkuk hormat. Diana hanya tersenyum saja.


Kuda milik Rangga dan Diana dibawa oleh dua orang prajurit. Diana dan Rangga pun segera menaiki kuda mereka.


"Yang Mulia, jika ingin memanggil kami, cukup tiup terompet kecil ini. Maka kami akan datang!" Kata Ratu sambil menyerahkan sebuah benda kecil dari gading gajah yang diukir menyerupai terompet.


Namun jika dilihat-lihat, benda itu sebenarnya lebih menyerupai seruling. Diana menerima benda itu dan mengangguk.


"Ratu, ingatlah untuk berbuat baik kepada manusia! Kamu dan semuanya tanpa terkecuali." Pesan Diana.


"Yang Mulia sangat murah hati! Semoga Yang Mulia panjang umur!" Kata Sanga Ratu sambil berlutut diikuti oleh semua prajurit yang bersamanya.

__ADS_1


Akhirnya Diana dan Rangga pun pergi dari tempat itu. Saat keluar dari jalan setapak, mereka menemukan bahwa hari sudah malam. Mereka berdua sangat terkejut.


"Kita kembali dulu, siapa tahu mereka masih di belakang sana." Pinta Diana.


Kemudian, dengan kekuatan mata hatinya, Diana pun bergegas kembali ke arah di mana dia meninggalkan Karmen dan lainnya. Namun, ketika sampai di sana, mereka tidak menemukan mereka. Diana dan Rangga akhirnya memilih untuk mengejar mereka.


Benar saja, berselang sekitar satu dua jam perjalanan, Diana dan Rangga dapat menyusul kereta. Keduanya mendengar Dara sedang menangis memanggil-mangil Ibu.


Terdengar suara Karmen dan Anita sedang membujuknya, namun Dara tidak mau diam. Diana da Rangga memang pergi sangat lama. Apalagi bagi Dara, kegelapan sangat tidak nyaman. Betbeda jika bersama ibunya, dia akan merasa tenang.


"Ibu sudah kembali!" Teriak Diana. Seketika tangis Dara berhenti. Dara keluar dari dalam kereta yang tertutup dan berjalan di bagian terbuka. Saat melihat Diana, Dara tersenyum. Dia mengangkat kedua tangannya. Kereta berhenti. Diana turun dari kuda dan segera naik ke dalam kereta lalu memeluk Dara.


Diana tidak mengatakan apa-apa. Dia tahu, hanya pelukan ini yang dibutuhkan Dara. Tidak berapa lama, Dara sudah tertidur di pelukan Diana. Lalu Diana segera menidurkannya.


"Rangga, kamu terluka, naiklah. Biar aku yang naik kuda bersama Karmen!" Kata Diana. Rangga pun naik ke kereta dan duduk di belakang kusir, sementara Anita dan Dara berada di dalam kereta yang tertutup.

__ADS_1


"Tuan Pendekar, kira-kira tengah malam, kita akan memasuki kadipaten Manik Arum, itu adalah wilayah di bawah kerajaan." Kata seorang kusir.


"Ayo jalan!" Kata Diana. Lalu, mereka pun berangkat.


Saat itu, di udara ada beberapa lampu terbang, membuat jalan menjadi terang. Diana melihat ke arah lampu-lampu itu dan tersenyum.


"Diana? Kenapa ada lampu?" Tanya Karmen.


"Itu mereka, mereka ada di sini. Tenang saja, mereka sedang membantu kita." Jawab Diana.


"Apa maksudmu mereka?" Tanya Karmen lagi.


"Mereka? Mereka adalah teman kita." Jawab Diana sambil tersenyum. Jalan yang mereka lalui kini terang benderang.


"Kalian hanya boleh mengantar kami sampai perbatasan!" Teriak Diana.

__ADS_1


Karmen tidak bertanya lagi. Pasti Rangga tahu hal ini, dia akan bertanya nanti. Diana memang sering berteka-teki. Dan dia tidak pernah memaksa Diana untuk menjawabnya secara terang-terangan. Namun Karmen mungkin sedikit punya gambaran mengenai lampu terbang itu.


__ADS_2