Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Heboh Di Restoran


__ADS_3

Kembali pada Diana, Dara dan Karmen. Mereka bertiga masih berdiri menunggu dipanggil untuk makan. Diana masih dengan sabar menggendong Dara yang tak mau turun. Sementara Karmen berdiri di sebelah Dara.


Dua orang yang datang adalah Sisi dan Dimas. Dimas merupakan seorang manajer perusahaan milik Galang. Dia adalah anak Arya yang merupakan direktur perusahaan pembuatan kapal terbesar di negara ini. Keduanya tidak melihat Diana, Karmen maupun Dara dan langsung berjalan menuju eman-temannya yang telah lama menunggunya.


Kemudian Sisi, Dimas dan lainnya punn asyik mengobrol.


"Sisi, kamu akhirnya datang juga." Kata salah satu gadis yang tadi menolak ketika Diana minta duduk.


"Apa katamu, Hani? Aku dan suamiu pasti datang. Kalian jauh-jauh dari Kopta B, masa kami tidak datang?" Jawab Sisi sambil melambaikan tangan ke gadis yang dipanggilnya hani.


Karmen mendengarkan pembicaran mereka tanpa menoleh ke arah mereka. Sementara Dara menyembunyikan wajahnya di pundak Diana. Dia masih enggan untuk turun. Sisi dan Dimas lalu duduk di bangku yang masih kosong yang mereka sisakan.


Semakin siang, pengunjung restoran makin ramai. Mereka rela amtri demi mendapatkan giliran makan siang yang lezat.


"**Selamat datang Tuan Dimas, manajer di perusahaan pembuatan kapal terbesar. Anda dan teman-teman dipersilahkan masuk!" **


Terdengan dari pengeras suara, memanggil nama Dimas yang adalah seorang manajer perusahaan. Semua orang heboh ketika menyebut perusahaan pembuatan kapal. Siapa yang tidak tahu dengan perusahaan kapal itu? Bahkan kapal-kapal buatan perusahaan ini sampai dipesan oleh negara-negara lain.


Sisi yang memang suka pamer, merasa sangat bangga suaminya disebut dalam sebuah pengeras suara dari dalam restoran. Mereka pun berjalan memasuki restoran. Orang-orang yang sedari tadi antri kini memberi jalan untuk Dimas yang sedang memasuki restoran bersama teman-temannya.


Sebenarnya bukan Dimas yang membuat pemilik restoran merasa hormat, tapi karena Dimas adalah putra direktur Arya. Namun Sisi dan Dimas tidak peduli. Mereka tetap merasa senang dengan kehormatan seperti ini.


Merekapun masuk dan duduk di tempat yang sudah disediakan. Namun, kesenangan mereka tak berlangsung lama.


Diana masuk membawa nomor antrian dan langsung mendatangi pemilik restoran yang sedang menyambut Dimas dan lainnya.


"Maaf kenapa bisa seperti ini? Jelas-jelas kami datang duluan." Kata Diana lalu melempar nomor antrian ke meja.


"Siapa kamu? Berani sekali membuat keributan. Apa kamu tidak tahu siapa dia?" Tanya pemilik restoran marah.


"Aku tidak peduli siapa dia. Mau setan pun, kalau menyetobot antrian akan aku lawan!" Diana juga marah. Dia sudah memesan dan sudah mendapat nomor antrian. Tapi malah mendahulukan orang yang dianggapnya tidak penting.

__ADS_1


Sisi yang melihat itu ikut marah. Yang dia lihat adalah seorang perempuan dengan seorang anak yang digendongnya. Sangat cantik, bahkan memgalahkan dirinya.


Jika saja Dara menghadapkan wajah ke arah mereka, pasti ceritanya jadi lain. Namun sejak tadi, Dara selalu meletakkan kepalanya di pundak Diana.


Saat itu Karmen masuk, mrmdatangi Diana dan mengajaknya pergi saja. "Ayo kita pergi saja, Diana!"


Diana yang merah lalu memutar tubuh dan hendak pergi. Saat itu, wajah Darq terlihat oleh Sisi dan Dimas.


"Nona Dara!" Teriak Sisi dan Dimas. Mereka buru-buru berdiri dan membungkuk hormat.


Diana dan Karmen melihat ke arah mereka, namun mereka tidak peduli.


"Apakah Anda Nona Diana?" Tanya Dimas yang membuat semua orang di restoran terkejut.


"Apa pedulimu?" Jawab Diana.


"Kenapa kalian ingin selalu dihormati di manapun?" Tanya Karmen pada Sisi dan Dimas. Mereka berdua tertunduk malu. Teman-teman Sisi heran dengan perubahan Sisi dan Dimas.


Baik Sisi maupun Dimas bungkam, tak ada satupun yang berani mengangkat kepala.


"Siapa mereka, Karmen?" Tanya Diana.


"Itu adalah anak direktur Arya di perusahaanmu." Jawab Karmen.


"Hmmmm..." Diana tidak peduli. Yang dia pedulikan adalah pemilik restoran yang tidak bisa menghargai prang lain hanya demi kehormatan seseorang.


"Kamu membuka bisnis makanan, tapi kamu mengabaikan waktu orang lain. Apa kamu tahu orang-orang itu sudah lama antri. Dan hanya demi orang-orang ini, kamu mengabaikan pelangganmu sendiri?" Diana sangat kesal.jika harus menasihati orang lain.


Namun itu harus dilakukan agar tidak ada kejadian serupa lagi di masa depan.


"Karmen, ayo kita pergi!" Diana lalu berjalan diikuti Karmen.

__ADS_1


"Nona! Maafkan kami!" Dimas dan Sisi berteriak, namun Diana tidak peduli. Mereka terus berjalan keluar dari restoran dengan sangat kesal.


"Siapa mereka, Dimas?" Tanya Hani masih penasaran.


"Mereka adalah pemilik perusahaan di mana aku bekerja." Jawab Dimas dengan tubuh lemas.


"Apa!" Semua orang terkejut dan membelalakkan mata. Mereka tidak mengira seorang bos perusahaan besar berada di tempat seperti ini dan mereka tidak tahu?


Apalagi Hani dan teman-temannya yang sempat menolak permintaan Diana yang sopan untuk duduk satu bangku dengannya. Sungguh ngeri rasanya mengingat kejadian itu.


Diana, Karmen dan Dara sudah sampai di jalan raya dan hendak menyeberang. Ketika tiba-tiba sepuluhan mobil berhenti ketika melihat mereka bertiga.


Keluar dari mobil adalah Jatmiko dan Anita serta beberapa pengawal Jatmiko. Entah mau kemana mereka, ketika melihat Diana, Karmen dan Dara, mereka menghentikan mobil dan langsung keluar untuk menyapa Diana dan lainnya.


"Nona!" Saat itu Jatmiko, Anita dan lainnya pun membungkuk hormat pada Diana.


"Paman, mau kemana?" Tanya Diana.


"kakek, Bibi!" Panggil Dara. Lalu Dara memajukan tangan ke arah jatmiko. Meminta Jatmiko untuk menggendongnya.


"Dara, Kakek mau jalan. Dara sama ibu saja ya." Diana yang merasa tidak enak hati mencoba merayu Dara agar tidak menuta gendopng pada Jatmiko. Mendengar itu, Dara langsung cemberut. Mulutnya pun bergerak-gerak, alisnya merah. Dia mau menangis. Tapi ini di jalan.


Jatmiko yang melihat Dara hendak menangis lantas mengambilnya dari gendongan Diana. Lalu Dara langsung tersenyum dan wajahnya kembali normal. Jatmiko lalu meminta mobil untuk diparkir di depan restoran. Mengajak Dara duduk di sebuah bangku panjang.


Diana dan Karmen menduga bahwa, Dara mungkin merindukan Kakeknya atau ayahnya. Jadfi Diana membiarkan saja ketika Jatmiko menggendong Dara.


Terlihat dari dalam restoran, pemilik restoran berjalan tergesa-gesa ke arah jatmiko. "Tuan, silahkan masuk, saya akan sediakan tempat untuk Anda dan lainnya." Ujar pemilik restoran mengetahui yang ada di sana adalah jatmiko.


"Paman, tidak usah masuk, masih banyak antrian, sebaiknya kita hormati yang sudah antri sejak tadi." Ujar Diana.


"Baik, Nona." Jawab Jatmiko. Jatmiko lalu memandang pemilik restoran. Pemilik restoran paham, gadis itu levelnya berada di atas Jatmiko, jadi di kemudian hari, tidak akan  pernah menyinggungnya lagi.

__ADS_1


"Maafkan saya, Nona." Ujar pemilik restoran sambil membungkuk. Lalu dia kembali ke restoran dan segera melayani pelanggannya.


__ADS_2