
Medan Tempur
Raja dan para petinggi kerajaan yang merupakan prajurit, kini sudah berada di medan tempur. Mereka masih menunggu kedatangan prajurit musuh yang sudah terdengar makin dekat.
Saat itu seorang prajurit pengawal mendatangi raja, berlutut dan melapor, "Yang Mulia! Panglima Diana berhasil membunuh kelima pendekar hebat yang membunuh Panglima Rungkut. Pasukan musuh yang dipinpin oleh Panglima Jung Saka yang berjumlah dua ribu terbunuh dan hanya tersisa beberapa ratus saja. Sementara Panglima Jung Saka dan sisa prajurit melarikan diri. Saat ini Panglima Diana sedang kemari."
Mendengar itu, wajah Raja terlihat sumringah. Dia tersenyum lebar. Para Pangersn yang berada di dekatnya mengerti sekarang, bahwa Panglima Diana memang sangat hebat. Hanya tiga orang bisa mengalahkan ribuan orang. Bahkan Panglima Diana berhasil membunuh lima pendekar yang membunuh Panglima Rungkut.
"Apa kalian masih meragukan Panglima Diana? Ingat! Aku yang memilihnya, aku bermimpi akan ada seorang perempuan yang sangat kuat datang ke negeri kita. Ternyata itu adalah Panglima Diana." Kata Raja dengan membusungkan dada.
Diana, Karmen dan Rangga sudah datang. Mereka langsung berada di barisan paling depan. Ketiganya kini memeriksa barisan. Diana yang mengenakan baju besi berwarna perak terlihat sangat gagah. Di kepala Diana melingkar sejenis mahkota kecil. Terlihat begitu anggun, namun juga sangat gagah.
Empat jenderal yang dipilih Diana langsung mendatanginya dan berlutut.
__ADS_1
"Yang Mulia Panglima! Pasukan sudah siap menghadapi musuh! Semua sudah di posisi dan siap menyerang sesuai perintah." Kata Jenderal Sutono.
"Bagus!" Jawab Diana singkat. Lalu dia pun kembali memeriksa barisan terdepan. Mereka menyiapkan perisai sebagai tameng jika musuh menyerang dengan anak panah. Empat ribu prajurit saat ini siap untuk bertempur.
Diana menempatkan pasukan yang memegang senapan manual dari kayu di belakang perisai. Jarak tembak hanya tiga puluh meter. Jadi itu haru dekat. Mereka akan menyerang saat musuh sudah semakin dekat. Sementara pasukan pemanah berada di belakangnya, mereka akan digunakan unruk menyerang jarak jauh.
Ada sepuluh ribu prajurit di bagian kiri dan kanan yang sedang bersembunyi dan akan menyergap musuh dari samping kiri dan kanan.
Diana juga memerintahkan Ratu Peri agar bersiaga di dekat medan perang. Namun pasukan tidak boleh menampakkan diri. Di sisi lain, Ratu Peri dan pasukaanya berada perbukitan dan siap menyerang jika di perintah oleh Diana.
Ratu peri menggunakan batu besar dan kayu untuk senjata dan mengandalkan kasat mata agar tidak diketahui musuh Diana.
Ketika Diana sedang berada di atas kuda bersama Karmen dan Rangga serta emoat Jenderal di bagian paling depan, tiba-tiba sebuah bayangan putih seperti terbang ke arahnya. Karmen dan Rangga segera menghunus pedang, namun dicegah oleh Diana.
__ADS_1
"Dia adalah Pertapa Sakti. Dia datang membantuku!" Perkataan Diana didengar oleh empat jenderal dan juga prajurit di dekat mereka.tentu saja itu membuat semua yang mendengar terkejut.
"Haha! Diana! Ternyata pasukanmu banyak sekali!" Seru Kakek Pertapa Sakti, lalu berdiri di depan kuda Diana.
"Kakek! Apakah kamu datang untuk membantuku?" Tanya Diana. Lagi-lagi perkataan Diana membuat semua orang terkejut.
"Tentu saja! Aku membawa pasukanku!" Jawab Pertapa Sakti. Lalu Diana mendongak, di atas sana, dia melihat ribuan manusia berwarna coklat. Merka sedang terbang di atas pasukannya. Namun, hanya Diana yang bisa melihatnya.
"Kakek, terimakasih. Sebenarnya aku tidak butuh bantuanmu. Aku bisa mengatasi ini." Kata Diana.
"Diana! Kamu belum tahu, musuhmu ad sepuluh ahli sihir. Mereka tidak mudah untuk dibunuh. Aku akan membantumu mengatasi mereka. Kamu fokus ke Panglima musuh. Dia sangat sakti dan bisa menghilang. Kamu harus hati-hati." Kata Pertapa Sakti.
"Dan, aku ingin bertemu Dara. Ada sesuatu yang ingin aku berikan padanya." Kata Pertapa Sakti
__ADS_1