Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Hati Prajurit


__ADS_3

Di sebuah tenda prajurit, beberapa orang masih belum tidur, walau pemimpin pasukan memerintahkan untuk tidur lebih awal, namun itu belum tentu bisa dilakukan, apalagi dalam situasi perang, tentu saja ketakutan dan rasa was-was bisa saja melanda setiap orang.


Ada tiga prajurit yang belum bisa tidur, mereka berbicang setengah berbisik agar tidak mengganggu prajurit lainnya. Nama mereka adalah Hendi, Samar dan Olam.


"Hen, apakah kamu takut?" Tanya Olam.


"Aku? Aku tidak takut. Bagaimana aku bisa aku tidak takut? Sebagai manusia normal, yamg kita hadapi itu siluman yang tidak bisa.mati." Jawab Hendi.


"Aku tidak takut!" Yang bicara adalah Samar, sambil membetulkan selimutnya agar menutupi kaki.


"Panglima kita adalah Nona Diana, yang seorang gadis. Umurnya saja lebih muda dari kita. Nona Diana sepertinya tidak punya rasa takut." Kata Olam.


"Memang! Nona Diana memang hebat. Seandainya ada lebih banyak Nona Diana di sini, pasti kita lebih semangat." Kata Samar.


"Tapi terus terang aku mengagumi Nona Diana. Dia adalah seorang pengusaha kaya raya, tapi mau berperang bersama kita." Kata Olam lalu duduk.


"Olam, Hendi, kita sudah berteman selama sepuluh hari. Jika kita selamat dari perang ini, apakah kalian akan tetap berteman denganku?" Tanya Samar.


"Tentu saja, bahkan kamu sudah aku anggap seperti saudaraku, juga Olam." Jawab Hendi.


"Iya, tenang saja, Samar. Pemikiranku juga sama seperti Hendi. Sekali waktu aku pasti akan mengunjungimu di Gunung Mer." Sahut Olam.


"Olam, kamu kan polisi, dan kamu Hendi, kamu tentara, bagaimana kamu dilatih beladiri?" Tanya Samar.


"Oh, guru beladiriku adalah Guru Retno. Bukankah Guru Retno juga dari perguruanmu?" Tanya Olam.


"Iya, Guru Resto adalah guru termuda, dia memang hebat. Guru Retno juga ikut berperang bersama kita." Jawab Samar.

__ADS_1


"Kalau aku, guru beladiriku adalah Guru Tio. Dia juga kan dari perguruanmu. Ternyata kita ini saudara seperguruan. Berarti memang kita ditakdirkan jadi saudara." Yang bicara adalah Hendi.


"Iya, betul. Rata-rata memang baik di sekolah maupun di institusi, guru-guru beladiri dari Gunung Mer. Benar juga, ternyata kita memang saudara." Kata Olam.


"Baiklah, ayo kita tidur. Nanti kita dapat teguran dari pemimpin pasukan." Kata Samar. Lalu ketiganya pun tidak bicara lagi.


********


Malam telah berlalu, pagi pun datang. Jam loma pagi, Diana dan Karmen sudah bangun dan telah memakai baju perang. Diana dan Karmen terlihat gagah dengan pakaian yang mereka kenakan. Sementara Anita yang sudah bangun hanya melohat kedua orang itu bersiap.


Dara masih tidur, dia terlihat masih terlelap. Apalagi semalam dia tidak bisa tidur. Sampai jam dua pagi, Dara masih bernyanyi-nyanyi. Diana pun membiarkannya dan tidak menegurnya. Diana hanya tiduran saja di sampingnya sambil memejamkan mata.


Diana dan Karmen mencium Dara sebelum.berangkat.


"Anita, jaga Dara!" Kata Diana sebelum pergi.


Anita hanya mengangguk. Dia tidak menjawab takut terdengar oleh Dara dan Dara bangun.


Kedua pasukan ini akan menyerang pertama kali untuk menghambat serangan lawan. Kemudian di lapis berikutnya, hanya ada pasukan bersenjata pedang yang berjumlah sekitar dua ribu orang prajurit belum termasuk pimpin pasukan, para guru dan petinggi-petinggi institusi militer dan kepolisian. Jumlah keseluruhan mencapai dua ribu limaratus prajurit bersenjata pedang. Sementara perkiraan jumlah musuh adalah sepuluh ribu, dan mereka akan melawan lebih banyak musuh yang tidak bisa mati.


"Kuatkan hati, satukan tekad, jangan takut, jatuhkan musuh sebanyak yangnkalian bisa. Mereka tidak pandai beladiri, hanya menang tidak bisa mati!" Terdengar teriakan Diana yang menggema ke di telinga semua prajurit.


Saat itu terdengar suara deral langkah kaki yang berjumlah banyak. Suara itu membuat hati para prajurit menjadi ciut nyali, suara kaki karena banyak sekali, maka itu seperti suara air bah yang sedang melanda. Bumi pun bergetar seperti sedang terjadi gempa bumi.


"Jangan takut!" Terdengar lagi suara Diana.


Para prajurit pjn memantapkan hati, membuat mereka makin berani. Apalagi setelah mendengar suara Diana. Itu seperti obat membangkitkan semangat berjuang.

__ADS_1


Musuh sudah terlihat, mereka masih berjalan mendekat. Setelah sekitar jarak seratus meter dari pasukan Diana, mereka phn berhenti. Wajah-wjah mengerikan sudah muncul di hadapan mereka. Makhluk berbulu dan bermata merah seperti api.


"Itu Guru Seho! Dasar penghianat!" Teriak Guru Retno yang membuat orang-orang dari perguruan Paser Maut menjadi terbakar api marah.


"Guru Retnl, tenangkan dirimu!" Karmen mengingatkan Guru Retno agar tidak terbawa perasaan. Hal itu bisa membuat Guru Retno dan Guru lainnya bertindak tidak hati-hati dan akan bisa mencelakai dirinya sendiri.


Aturan perang ini mengikuti aturan siluman. Jadi, pasukan Diana menunggu pasukan musuh menyerang, baru akan menyerang.


Kedua pasukan sudah berhadap-hadapan. Mereka sudah akan bersiap untuk salinv menyerang. Jarak mereka sekita dua ratus meter.


Sebenarnya Diana ingin bertarung satu lawan satu dengan pemimpin makhluk itu. Bagi yang kalah, maka dia harus menyerah danmkalau bisa mengadakan perjanjian damai. Namun menurut Nenek Sol, itu tidak mungkin, jika memang mereka ingin berperang, maka ya perang dan tidak bisa ditawar.lagi.


Diana hanya khawatir mengorbankan banyak orang. Semua itu sebenarnya adalah tanggung jawab Seho, namun Seho sendiri malah berhianat dan lebih memilih bersekutu dengan makhluk siluman.


Diana memang akan segera menghukum Seho. Karena kalau dibiarkan, orang ini akan lebih berbahaya di masa depan. Terbukti dua kali Seho berniat membunuh Diana, satu kali berusaha mengambil alih perguruan Paser Maut dan sekarang, dia bersekutu dengan makhluk silumana. Ini jelas sudah tidak bisa dibiarkan.


Saat itu, pemuda berambut panjang sudah bergabung bersama mereka. Para prajurit menanti peperangan dengan was-was.


Dari arah pasukan musuh, terdengar derap langkah kaki, mereka mulai maju, awalnya berjalan kaki, kini mereka mulai berlari. Di wajah mereka terlihat hawa membhnuh yang sangat kuat. Itu membuat orang kehilangan nyali.


Diana menoleh ke arah Jenderal Joshua dan Inspektur Herman, keduanya paham maksuf dari Diana.


"Pasukan meriam! Siap!" Teriak Jenderal Joshua.


"Pasukan Senapan! Siap!" Teriak Inspektur Herman. Kedua Jenderal berbeda institusi itu memegang pistol yang di arahkan ke atas.


Jika mereka berdua menembak, artinya kedua pasukan siap menyerang. Pasukan merian dan pasukan senjata otomatis berada di bagian kiri dan kanan barisan pasukan pedang, pasukan meriam di kiri dan kanan luar.

__ADS_1


"Dor!" Pistol Jenderal Joshua berbunyi saat jarak musuh sudah sekitar seratus meter. Lalu meriampun ditembakkan. Bunyi ledakan di mana-mana. Makhluk-makhluk itu pun dibuat kacau balau, terpental ke sana kemari terkena ledakan.


Namun, selang beberapa menit, mereka kembali bangun dan maju kembali. Meriam ternyata bisa menghambat laju mereka, bahkan mereka masih di jarak seratus meter dan tidak bisa maju. Walaupun ada yang bisa maju, itu hanya sedikit dan langsung disambut senapan otomati kaliber besar. Dan mereka berkali-kali terpental.


__ADS_2