Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Menghukum Penindas


__ADS_3

Saat ini, di depan restoran sudah banyak orang berkumpul ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Melihat di sana ada Farel dan anak buahnya, mereka pun ketakutan. Tetapi mereka penasaran apa yang terjadi sebenarnya.


Orang-orang itu pun saling berbisik satu sama lain, menanyakan apa sebenarnya yang terjadi. Mungkin saja ada yang bisa menjelaskan. Namun, tak ada satupunnyang tahu masalahnya. Dan akhirnya mereka pun diam dan hanya melihat saja.


"Paman, Kapten, kalian menyingkir. Biar aku saja yang urus semua ini!" Kata Diana pada Hendrik dan Johnson.


"Tapi, Nona?" Hendrik dan Johnson tidak bisa membiarkan Nona mereka akan dicelakai. Jadi, baik Johnson maupun Hendrik akan melindunginya.


"Farel, bagaimanapun juga kamu bukanlah karyawan di perusahaan ini. Kamu hanya anak Morgan, jadi kamu tidak punya hak untuk berbisnis di sini!" Hendrik memberi peringatan.


"Haha! Apa katamu? Kamu berani sekali. Ayahku adalah direktur, jadi aku juga bagian dari perusahaan. Aku anak direktur." Farel malah mengejek Hendrik.


"Panggil ayahmu kemari, aku akan memvuat perhitungan dengannya!" Seru Diana di belakang Hendrik dan Johnson.


"Wanita murahan, kamu sudah berani bicara keterlaluan, maka aku tidak akan segan lagi!" Farel makin marah.


"Hajar mereka!" Teriak Faren pada orang-orangnya..


"Hentikan!" Teriak seseorang dari kerumunan.


Seorang berumur limapuluh lima tahunan tampak berjalan mendekati mereka. Pria itu tampak seperti sedang mabuk. Matanya merah. Benar saja, di tangannya dia memegang botol anggur.


Pria tua itu bertubuh gemuk dan tidak terlalu tinggi. Walaupun begitu, dia tampak ditakuti. Ada sekitar sepuluh orang yang berjalan di belaksngnya. Semua laki-laki berwajah sangar.


"Ada apa ini?" Tanya pria itu.


"Direktur?" Sapa Johnson dan Hendri bersama-sama.


"Ayah! Wanita brengsek itu telah menghinamu. Dia bilang ingin memvuat perhitungan denganmu!" Farel memprovokasi ayahnya. Morgan yang mendengar itu menjadi sangat marah


"Siapa yang berani kurang ajar padaku? Apa sudah bosan hidup? Haha!" Morgan sudah terprovokasi.


Diana merasa jijik melihat ayah dan anak berkelakuan sama saja.


"Mulai hari ini kamu bukan lagi direktur! Dan kalian semua akan dihukum!" Diana menoleh ke arah Karmen yang sedang menggendong Dara. Diana melambaikan tangan dan Karmen mendekat.


Diana meminta Dara dari Karmen. Karmen sudah tahu maksud Diana.


"Karmen, pukuli mereka semua dan patahkan semua kaki mereka!" Trriak Diana, lalu dia membawa Dara menyingkir dari Sana.


Karmen yang juga aangat marah karena perkataan ayah da anak akhirnya bertindak cepat. Diapun bergerak menyerang Farel, namun dihadang oleh pengawalnya.

__ADS_1


Karmen terpaksa menghadapi para pengawal Farel. Berkelahi dengan mereka sebenarnya bukan hal yang susah. Karmen pun bergerak sangat cepat. Dua pengawal Farel tumbang dengan gigi masing-masing rontok.


Orang-orang terkejut dengan apa yang terjadi. Bagaimana mungkin seorang gadis bisa membuat dua pengawal Farel jatuh teraunglur?


Karmen bergerak lagi, kini dia dengan sengaja menyerang dengan kakinya. Dan dua pengawal lainnya terpental ke belakang, dua pengawal itu memegangi dada mereka yang terkena tendangan Karmen.


Akhirnya semua pengawql Farel sudah dikalahkan Karmen dan mereka semua mengerang kesakitan.


"Dasar tidak berguna! Cepat bangun dan serang bersama-sama pengawal ayah!" Teriak Farel.


"Serang!" Teriak Morgan.


Sepuluh pengawal berwajah sangar pun bergerak maju menyerang Karmen. Karmen yang gesit itu menghindar aana sini atas aerangan lawan sambil sesekali memukul.


Bagaimanapun hebatnya Karmen, jika menghadapi ahli beladiri dalam jumlah yang banyak, tentu akan terasa sulit dan untuk mengalahkan mereka, akan burut waktu yang lama.


Apalagi anak buah Farel juga mulai bangun lagi dan segera bergabung dengan pengawal Morgan.


Diana yang melihat itu pun langsung mendatangi Karmen. Dara yang masih digendongnya akhirnya diberikan pada Johnson. Diana pun membantu Karmen.


Gerakan Diana sangat cepat puluhan tingkat di atas Karmen. Bagaimanapun, Diana belajar beladiri sudah sejak kecil. Jadi wajar saja dia sangat hebat. Palagi yang melatihnya adalah kakek dan neneknya sendiri yang merupakan ahli beladiri yang tiada tanding.


Serangan-serangan anak buah Morgan memang lebih hebat dibanding anak buah Farel. Jadi Diana aegera membantu Karmen.


Sementara Diana bertempur melawan anak buah Morgan. Dua wanita cantik bak harimau mengamuk, melayangkan pukulan kesana kemari, membuat lawan makin ciut nyali.


Karmen sudah berhasil membuat semua anak buah Farel patah kaki. Sementara Diana juga sudah mengakhiri serangannya. Semua orang itu kini salah satu kaki mereka telah patah.


Saat itu, Farel dan Morgan yang ketakutan akirnya berlutut.


"Kami menyerah!" Teriak mereka dengan wajah pucat.


"Menyerah? Apa maksudmu menyerah?" Tanya Diana.


"Kami tidak akan melawan!" Kata Farel.


"Tidak melawan bukan berarti luput dari hukuman!" Kata Diana kemudian.


"Karmen!" Panggil Diana.


"Aku tahu!" Jawab Karmen. Lalu dia menendang kedua orang itu hingga jatuh telentang.

__ADS_1


Karmen mendekati mereka, melompat dan jatuh di salah satu kaki Morgan. Lalu melompat lagi dan jatuh di salahsatu kaki Farel. Kaki mereka berdua pun masing-masing patah satu.


"Ampun! Ampuni kami!" Teriak Morgan.


"Aku sudah melakukannya, Apakah kamu ingin menghukum mereka juga?" Tanya Karmen.


"Sebenarnya aku ingin menjahit mulut mereka berdua. Mulut mereka sangat busuk dan perlu dijahit!" Jawab Diana.


"Aku mohon ampuni kami!" Teriak Morgan. Kali ini keduanya telah bersujud dengan menahan sakit pada kaki mereka yang sudah patah.


"Kamu dipecat! Dan kalian semua akan dipenjara! Sebentar lagi polisi dari Kota Pulau akan datang membawa helikopter dan akan menjemput kalian! Kalian semua akan membusuk di penjara!" Diana melanjutkan.


Wajah-wajah menyesal terlihat jelas, mereka sangat menyesal karena arogansi mereka. Kini mereka sudah tidak bisa diampuni.


"Kamu tahu? Aku adalah CEO perusahaan. Aku tadi berusaha bicara baik-baik, tapi kalian malah kurang ajar. Paman Hendrik dan Kapten Jphnson berusaha memberitahu kalian trntangku, tapi kalian malah makin brutal." Kata Diana memperkenkan diri.


"Paman Hrndrik, kamu sekarang adalah direktur yang baru, dua restoran kecil akan dihancurkan dan tidak ada lagi yang berbisnis di perusahaan. Jika ketahuan, maka aku sendiri yang akan membunuh orang itu!" Diana sudah memberi keputusan.


Semua orang kini menjadi takut pada Diana. Dia adalah CEO? Namun, di balik itu juga mereka sangat senang karena penindasan oleh Farel dan Morgan sudah berakhir.


Diam-diam juga org-orang yang melihat kejadian itu mengagumi Diana. Mereka yakin, jika Nona Diana adalah CEO, maka hidup mereka akan aman di perusahaan. Setidaknya, jatah makan mereka dan keluarga sudah bisa diambil kembali setiap bulan, bukan malah membayar uang makan di restoran.


Jika ingin makan di reatoran, mereka bisa membayarnya sendiri.


Tiba-tiba orang-orang itu berlutut, menerka meneriakkan, "Terimakasih, Nona! Terimakasih, Nona!"


Diana merasa senang, akhornya hidup para karyawan sudah kembali normal tanpa tekanan.


"Aku berharap kalian semua dapat bekerja kembali dengan tenang dan aman. Perusahaan akan memberikan kompensasi kepada semua karyawan yang sudah di tindas dan dimintai uang bulanan untuk biaya makan. Dan, semua harta Morgan dan Farel disita atas nama perusahaan!" Kata Diana kemudian


"Hidup Nona! Hidup Nona!" Teriak orang-orang itu secara bersama.


Diana dan Karmen, Hendrik dan Johnson pun tersenyum senang. Hendrik lalu membungkuk hormat pada Diana.


"Terimakasih atas kepercayaan Nona padaku. Aku akan bekerja dengan keras. Dan akan segera membayar kompensasi untuk para karyawN, dan juga menghancurkan dua restoran ini." Kata Hendrik.


"Paman, jangan pernah membuat jarak dengan karyawan. Merekalah tulang punggung perusahaan, tanpa mereka, peruaahaan tidak akan menghasilkan apa-apa." Kata Diana lalu menoleh ke arah orang-orang yang saat itu masih berlutut.


Diana menatap mereka dan tersenyum. Lalu dia menghampiri Johnson dan meminta Dara darinya.


"Sayang? Apa kamu lapar?" Tanya Diana dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Ayam goleng." Jawab Dara. Diana, Karmen, Johnson dan Hendrik tersenyum mendengar jawaban Dara. Diana lalu melangkah ke arah restoran besar diikuti oleh Karmen, Johnson dan Hendrik.


"Paman, ajak mereka semua makan." Kata Diana pada Hendrik. Hendrik mengangguk lalu bergegas ke arah orang-orang itu.


__ADS_2