
"Kami akan mendirikan tenda darurat. Silahkan beritahu kami di mana yang bisa kami tempati." Kata Galang langsung pada pokoknya.
"Halaman belakang rumah kami sangat lias. Silahkan kalau mau." Jawab kepala suku.
"Baik! Sebagai imbalan, jika orang-orang yang mengusir kalian datang, maka aku yang akan menghadapi mereka!" Galang masih berudaha meyakinkan.
"Tidak perlu, Anak Muda! Kami akan menghadapi mereka sendiri. Dan kami sudah siap dengan segala kemungkinan." Kepala Suku masih belum yakin dengan Galang dan lainnya.
"Baik, jika butuh bantuan, panggil saja aku." Galang tidak ingin lagi mengajukan diri. Dia yakin kepala suku tidak percaya padanya. Apa boleh buat. Mereka menginap di sini karena menghindari badai. Namun, jika dibutuhkan, Galang tetap akan menolong mereka.
"Er, Su, antar mereka melihat tempatnya!" Perintah kepala suku.
"Baik, Ayah!" Jawab Er. Su membungkuk hormat kemudian mengajak Galang dan lainnya ke halaman belakang.
"Josh, Rangga, pergilah ke kapal, beritahu Paman Anton, kita bisa menginap di sini." Perintah Galang pada Josh.
"Baik!" Jawab Josh dan Rangga, kemudian dia meninggalkan mereka dan pergi ke kapal.
Galang dan Cintya kemudian berjalan mengikuti Er dan Su ke halaman belakang. Halaman itu memang sangat luas. Itu tampak seperti taman. Ditumbuhi berbagai bunga dan pohon, membuat halaman belakang rumah Kepala Suku menjadi sangat indah
"Paman, maaf. Aku mau tanya, kenapa nama kalian sangat singkat?" Tanya Galang saat sudah sampai di halaman belakang.
"Oh, aku juga tidak tahu. Hanya saja di belakang kami, semua nama terlihat hampor sama. Tapi sebenarnya kalau ditulis itu akan berbeda. Misalnya Nona Er dan ayahnya namanya dalam penyebutan sama, tapi penulisannya berbeda. Ada juga tambahan di belakang nama kami." Jawab Su.
"Oh, begitu, ya? Jadi memang itu adalah tradisi turun-temurun." Galang memgangguk-angguk.
"Nona Er, apakah persediaan makan penduduk masih cukup?" Galang tiba-tiba bertanya pada anak gadis kepala suku.
__ADS_1
"Mungkin hanya cukup untuk satu minggu. Itu masih di gudang, dan kami diperintahkan untuk irit makanan karena suplai makanan sudah tidak ada. Kami memang tidak memiliki kapal sendiri untuk pergi ke pulau lain untuk membeli bahan makanan." Jawab Er.
"Baiklah, di kapal kami memang banyak makanan, tapi jika dibagikan ke semua penduduk juga tidak akan cukup unruk satu hari. Jika kami sudah keluar dari pulau ini, apakah bisa kami yang membeli emas kalian? Aku rasa para pembeli emas kalian telah berkhianat." Ucap Galang.
Su dan Er saling berpandangan. Mereka jelas tidak punya kuasa memutuskan itu. Namun, mereka akan membicarakan dengan kepala suku nanti.
Saat ini, kru kapal sudah datang membawa peralatan tenda. Mereka diperintah oleh Kaptrn Thomas untuk secepatnya mendirikan tenda agar Galang dan lainnya bisa segera beristirahat.
"Tuan Muda, apakah kita akan mendirikan tenda di sini?" Tanya salah seorang kru kapal.
"Iya, aturlah yang menurut kalian baik. Aku dan Cintya akan jalan-jalan dulu." Jawab Galang.
"Baik, Tuan Muda. Jawab mereka. Orang-orang itu pun segera bekerja memdirikan banyak tenda.
Sementara Galang kini mengajak Cintya pergi ke kapal. Galang mengambil mobil lalu keluar lagi. Cintya juga ikut bersamanya.
"Lang, apakah Diana sangat hebat?" Tanya Cintya.
"Apa aku bisa seperti dia?" Tanya Cintya lagi.
Galang menoleh ke Cintya lalu tersenyum. "Kalau kamu ingin, pasti kamu bisa. Diana dulu diusir dari keluarga pamannya. Dia juga tidak pernah melihat ayah dan ibunya. Tinggal bersama nenek dan kakeknya. Dia tinggal di lingkungan kumuh. Namun kini dia sukses. Selain itu, dia sama sekali tidak tertarik dengan harta benda. Hidupnya bebas sepertiku. Ada dan tidak ada uang baginya itu bukan hal yang penting." Galang bicara panjang lebar.
Cintya mendengarkan Galang, seolah dia sedang berada di dekat Diana, merasakan bagaimana kehidupan Diana. Dari cerita ayah dan Galang serta Rangga, Cintya diam-diam mengidolakan Diana.
"Itu ada Nona Er! Ajak zaja dia untuk menemani kita!" Kata Cintya tiba-tiba setelah melihat Nona Er sedang berada di depan rumah.
Galang menghentikan mobilnya, lalu Cintya turun dan berlari ke arah Er yang sedang duduk di depan rumah.
__ADS_1
"Nona Er, bisakah mengantar kami melihat-lihat pulau?" Pinta Cintya.
"Kalian membawa mobil? Jalan di sini tidak beraspal seperti di kota kalian." Jawab Er.
"Tidak apa-apa. Mobil itu kuat untuk di jalan tanah dan beumpur." Cintya setengah memohon. Setelah beberapa percakapan, akhirnya Er pun mau menemani mereka berdua.
Cintya membukakan pintu depan untuk Er dan Cintya duduk di kursi belakang. Mobil yanv dibawa Galang adalah jenas 'Land Cruiser' dan cocok di area pulau itu.
Bannya pun jenis ban pacul. Galang sengaja membawa mobil itu setelah melihat kondisi jalan di pulau. Dia hanya ingin melihat-lihat potensi pulau. Mungkin fia tertarik.
"Kalian tidak boleh masuk ke area tambang, kalian hanya boleh berkeliling saja." Kata Er setelah duduk di kursi di samping Galang.
"Kami hanya ingin melihat-lihat pulau saja. Dan kami juga tidak akan melanggar aturan kalian." Jawab Galang lalu tersenyum.
Er melirik Galang, ada getaran di hatinya saat melihat Galang yang saat itu juga menatapnya. Cintya yang melihat itu tersenyum lalu memandang ke arah lain.
Mereka pun berkeliling pulau melalui jalan yang ada, memang pulau ini tidak memiliki jalan yang normal seperti di tempat lain. Semua jalan di pulau ini hanya digunakan sebagai jalan pengangkutan emas dengan gerobak dan sapi serta kerbau sebagai penariknya.
Jadi memang, penduduk pulau ini masih melestarikan budaya leluhur mereka dari tahun ke tahun. Padahal mereka juga bisa memanfaatkan truk sebagai angkutan. Tapi mereka memilih hal yang sederhana.
Mereka juga tidak menjual emas yang sudah diolah. Namun, mereka menjual konsentrat. Jadi, penduduk pulau juga tidak mengenal perhiasan. Hanya saja mereka memakai pakaian yang juga dari kain, itu pun hasil dari kerajinan tangan penduduk lainnya.
Pulau memang masih normal sebagai hutan yang dijaga oleh penduduk suku Ro. Terlihat begitu lebatnya hutan dengan pohon-pohon besar yang tidak biasa.
Menurut Er, hutan itu merupakan sumber kehidupan suku Ro, jadi mereka tidak kekuarangan air tawar. Tidak ada kuburan di sana, karena setiap yang mati akan langsung dikremasi dan abunya akan diletakkan di kuil milik keluarga dan selebihnya, abu akan dilarutkan dilaut.
Er juga menceritakan, binatang utama di hutan adalah babi dan ular yang biasa diburu sebagai lauk. Sementara, mereka tidak memakan daging sapi atau kerbau karena itu sebagai sahabat manusia dalam mencari nafkah.
__ADS_1
Mereka sambil berjalan sambil bercakap-cakap sembari mendengar Er menceritakan soal penduduk pulau Ro. Dan selama hampir dua jam mereka berkeliling, saat itu, mereka susah kembali dan tenda sudah berdiri semuanya.
Tampak kru kapal dibantu pelayan dan oekerja David sedang mengankat barang-barang seperti kasur dan peralatan masak. Untuk listriknya, Kapten mengatakan, akan menggunakan genset dari kapal dan akan menyambungkan dengan kabel. Jarak antara kapal dan perkemahan sekita tujuh ratus meter, jadi itu cukup dekat. Mereka akan menginap di sana sampai badai berlalu.