
Kabar mengenai Erina dan guru baru tersebar luas di semua kelas. Hari ini, rasa penasaran setiap siswa laki-laki terbayar, lantaran Erina saat iatirahat berada di kantin untuk makan. Guru Rangga juga berada di sana, namun terpisah jauh dari oara siswa.
Mereka pun bisa melihat Erina dari dekat. Memang benar, Erina benar-benar sangat cantik. Bahkan, Guru Retno pelatih beladiri masih kalah jauh jika dibandingkan dengan Erina yang cantiknya alami.
"Aku akan menyangka kalau dia bidadari kalau aku tidak melihatnya di sekolah kita." Kata seorang siswa laki-laki.
"Bukan kamu saja, Do. Aku juga pasti akan menyangka begitu." Sahut lainnya.
"Tapi, dia memang beda, lihat wajahnya. Sangat alami dan tidak ada polesan make up sama sekali." Balas lainnya.
Obrolan semacam itu pun ada di setiap sudut sekolah di mana setiap siswa laki-laki bergerombol. Hal ini membuat beberapa siswa perempuan iri. Dinda adalah siswa perempun paling cantik sebelhm Erina datang.
Dinda dikabarkan berpacaran dengan ketua organisasi sekolah yang juga jagoan basket dan juga sangat jago beladiri. Namanya Evan. Dia siswa laki-laki yang sangat ditakuti siswa lainnya. Selain tampan, dia adalah anak orang kaya di Kota M, dia juga selalu bertindak arogan. Menindas dan suka sekali mem-bully. Dinda mengejar Evan karena kekayaan orang tua Evan.
Saat ini, Erina bersama beberapa temannya juga berada di kantin.
Mereka pun melihat Erina dengan tatapan tidak senang. Apalgi, banyak siswa laki-laki yang sedang memuji-muji Erina. Dinda yang mendengarnya merasa jijik.
"Kalian bisa diam tidak?!" Teriak Dinda yang membuat para siswa laki-laki seketika terdiam.
__ADS_1
Di saat seperti itu, Evan bersama teman basketnya masuk masih dengan pakaian basket dan membawa bola. Terlihat mereka berkeringat sehabis bermain basket.
Dinda yang tahu Evan masuk segera menghampirinya. Dia bersikap sangat manis di hadapan Evan yang membuat Evan tidak berdaya.
"Tuan Muda Evan, Anda ingin makan apa?" Tanya seorang pelayan kantin. Namun Evan mengabaikannya dan terus berjalan dengan gandengan tangan Dinda.
Sesaat pndangan Evan memutari seluruh ruangan dan melihat Erina. Dia merasa takjub dengan kecantikan Erina.
"Siapa dia?" Tanya Evan. Dinda langsung memeluk tangan Evan dan mengajaknya duduk. Evan masih memandang Erina, namun kemudian dia mengabaikannya.
"Kamu mau makan apa, sayang?" Tanya Dinda. Beberapa laki-laki yang mendengar suara Dinda jadi merasa jijik dan ada yang batuk.
"Siapa yang batuk tadi?" Tanya Dinda. Tidak ada yang menjawab.
"Ada yang tahu siapa yang batuk?" Kali ini Evan yang bertanya.
"Kalau tidak ada yang menjawab, aku akan menghajar kalian semua!" Teriak Evan.
Tak satupun yang menjawab. Itu membuat Evan sangat marah. Apalagi fia diprovokasi oleh Dinda yang makin menempel di tubuhnya.
__ADS_1
"Guru Retno datang!" Teriak seseorang. Kemudian, tidak ada suara lagi. Semua duduk dengan tenang, kecuali Evan dan Dinda.
"Ada apa ini? Evan, apa yang terjadi?" Tanya Guru Retno.
Evan dan Dinda tidak menjawab, namun wajah kesal.mereka membuat Guru Retno paham ada yang terjadi.
Walaupun Evan sangat arogan, namun jika berhadapan dengan Guru Retno, dia tidak bisa berkutik. Dia telah diberi pesan oleh ayahnya agar jangan macam-macam dengan orang-orang dari Perguruan Paser Maut.
Tentu saja pesan ayahnya itu tidak main-main. Apalagi mereka tahu, perguruan itu merupakan perguruan terbesar di negara Garuda.
"Duduk kalian berdua!" Teriak Guru Retno. Keduanya lalu duduk walau dengan wajah marah. Namun mereka tidak berani melawan.
Guru Retno pergi dari sana, dan kebetulan dia juga akan makan, dia sedang memilih tempat duduk dan hanya kursi di depan Guru Rangga yang kosong. Jadi dia duduk di sana.
Guru Retno tidak memperhatikan Guru Rangga karena pelayan kantin sudah menghampirinya.
"Guru Retno, Anda mau makan apa?" Tanya pelayan.
"Seperti biasanya saja. Tolong minumnya es teh saja." Jawab Guru Retno.
__ADS_1
"Baik, Guru Retno. Tunggu sebentar." Balas pelayan. Lalu segera pergi untuk mengambilkan pesanan Guru Retno.